
BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah Indonesia tertekan tajam pada awal pekan seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu aksi penghindaran risiko (risk-off) di pasar global.
Mengutip Bloomberg, rupiah sempat melemah hingga 0,6% menjadi Rp17.015 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026). Level tersebut melampaui rekor terendah sebelumnya yang tercatat pada Januari serta menembus kisaran yang terakhir terlihat pada masa krisis keuangan Asia.
Pada saat yang sama, Indeks komposit anjlok lebih dari 5% sehingga menempatkan indeks acuan pasar saham domestik tersebut di jalur menuju fase bear market.
: Perang Iran Guncang Bursa Asia, Nikkei dan Kospi Terkapar, IHSG Ikut Anjlok
Tekanan terhadap aset Indonesia terjadi di tengah meningkatnya konflik antara AS dan Iran yang mendorong investor global beralih ke aset safe haven. Kondisi tersebut juga memicu langkah intervensi pasar oleh bank sentral Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia turut memperparah sentimen pasar. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri.
: : Biang Kerok Rupiah Ambrol Sentuh Rp17.000, dari Perang Iran hingga Risiko Defisit APBN
Foreign-exchange strategist Malayan Banking Bhd., Alan Lau, mengatakan memburuknya sentimen risiko global menjadi faktor utama yang menekan mata uang kawasan Asia.
“Memburuknya sentimen risiko di tengah lonjakan harga minyak telah menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ujarnya.
: : Biang Kerok IHSG Ambles 4%: Kondisi Fiskal hingga Sentimen Perang AS-Iran
Dia menambahkan bahwa faktor eksternal masih akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
“Dalam jangka pendek, faktor eksternal masih menjadi penentu utama karena risiko kenaikan harga minyak lebih lanjut dapat membuat pasar tetap berhati-hati terhadap pergerakan rupiah,” katanya.
Sebelumnya, kepercayaan investor terhadap aset Indonesia juga telah melemah setelah sejumlah lembaga internasional mengeluarkan peringatan terkait prospek pasar domestik.
MSCI menyoroti potensi penurunan status pasar Indonesia akibat masalah likuiditas dan rendahnya porsi saham free float. Sementara itu, Moody’s Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia dengan mempertimbangkan arah kebijakan serta kondisi fiskal pemerintah. Langkah serupa kemudian diikuti oleh Fitch Ratings yang juga memangkas prospek Indonesia.
Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah sekitar 1,8% terhadap dolar AS sehingga menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Adapun IHSG juga tercatat sebagai salah satu indeks saham dengan performa paling lemah di antara indeks utama global sepanjang tahun berjalan.
Head of Research PT BCA Sekuritas Christopher Andre Benas menilai tekanan terhadap pasar saham domestik berpotensi berlanjut selama ketegangan geopolitik masih tinggi.
“Selama ketegangan belum mereda, tekanan terhadap pasar saham akan tetap berlangsung,” ujarnya.
Menurutnya, investor dengan toleransi risiko rendah sebaiknya mempertimbangkan untuk membatasi kerugian dan menahan dana tunai hingga kondisi pasar kembali stabil.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




