Wall Street dibuka melemah, investor waspadai eskalasi konflik AS–Iran

Hikma Lia

BANYU POS  NEW YORK. Wall Street kembali melemah pada perdagangan Selasa (10/3/2026) karena investor mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah serta memicu lonjakan biaya energi.

Advertisements

Pada pukul 09.58 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 249,15 poin atau 0,52% ke level 47.491,65. S&P 500 melemah 0,39% menjadi 6.769,71 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,15% ke 22.662,71.

Sentimen pasar berubah lebih hati-hati setelah pejabat militer Amerika memberi sinyal intensitas serangan terhadap Iran meningkat.

Hal ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya yang memperkirakan konflik bisa berakhir lebih cepat, sekitar empat hingga lima minggu.

Advertisements

Kepala strategi pasar B Riley Wealth, Art Hogan, mengatakan pasar kini menahan reli yang sempat muncul setelah komentar Trump.

Wall Street Bergerak Datar, Investor Cerna Data Inflasi AS yang Lebih Jinak

“Pasar sempat optimistis konflik akan berlangsung lebih singkat, tetapi sinyal peningkatan intensitas operasi militer membuat investor kembali berhati-hati,” ujarnya.

Ketidakpastian geopolitik ini memperbesar kekhawatiran inflasi, terutama karena konflik telah mendorong kenaikan harga energi dan biaya pengiriman global.

Meski harga minyak dan gas sempat turun dari level yang mendekati US$120 per barel, Iran tetap menyatakan akan melanjutkan blokade minyak di kawasan tersebut. Sementara itu, sejumlah produsen energi Timur Tengah juga belum sepenuhnya memulihkan produksinya.

Sektor pariwisata menjadi salah satu yang paling tertekan. Indeks saham maskapai penumpang turun lebih dari 2%, sedangkan saham perusahaan kapal pesiar Carnival dan Royal Caribbean masing-masing merosot sekitar 1,8%.

Lonjakan harga energi sejak awal konflik juga kembali memunculkan kekhawatiran ekonomi AS dapat menghadapi risiko stagflasi, terutama di tengah sinyal pelemahan pasar tenaga kerja.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve sebesar 25 basis poin sekitar September.

Wall Street Dibuka Melemah, Investor Menimbang Data Pekerjaan AS

Dari sisi sektoral, sembilan dari sebelas sektor dalam indeks S&P 500 bergerak di zona merah, dengan sektor energi dan keuangan masing-masing turun lebih dari 1%.

Meski demikian, penurunan Wall Street sejak awal konflik masih relatif terbatas karena sektor teknologi menunjukkan ketahanan. Saham teknologi bahkan menjadi sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500 sepanjang bulan ini dengan kenaikan sekitar 1,3%.

Pada perdagangan Selasa, saham produsen chip ikut menguat. SanDisk naik sekitar 3% dan Western Digital melonjak hampir 5%, membantu menahan tekanan pada indeks Nasdaq.

Pelaku pasar juga menunggu dua laporan inflasi yang akan dirilis akhir pekan ini untuk melihat kondisi inflasi sebelum konflik Timur Tengah memicu lonjakan biaya energi dan logistik.

Di sisi korporasi, saham perusahaan agribisnis Bunge naik 1,6% setelah perusahaan meningkatkan proyeksi laba jangka panjang dan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai US$3 miliar.

Sebaliknya, saham perusahaan asuransi kesehatan Centene anjlok lebih dari 10% setelah menegaskan kembali proyeksi laba 2026.

Investor juga menanti laporan keuangan perusahaan perangkat lunak Oracle yang akan dirilis hari ini, terutama untuk melihat indikasi besarnya belanja kecerdasan buatan berbasis utang. Saham Oracle turun sekitar 1%.

Wall Street Dibuka Beragam, Investor Menimbang Data Ekonomi AS

Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun masih lebih banyak dibandingkan yang naik, baik di Bursa New York (NYSE) maupun Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat satu rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat rekor terendah baru, sementara Nasdaq mencatat 32 rekor tertinggi baru dan 47 rekor terendah baru.

Advertisements

Also Read

Tags