
BANYU POS JAKARTA. Pasar komoditas utama, minyak mentah dan emas, kembali menyajikan dinamika yang kontras pada perdagangan Kamis (26/3/2026). Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik global yang memanas, harga minyak mentah justru melonjak, sementara emas terpantau mengalami pelemahan signifikan.
Menurut data dari Trading Economics per Kamis pukul 15.46 WIB, momentum penguatan terlihat jelas pada sektor energi. Harga minyak mentah jenis WTI melesat 3,80% menjadi US$ 93,71 per barel, sedangkan jenis Brent tidak ketinggalan dengan kenaikan 3,56% ke level US$ 105,86 per barel. Lonjakan ini didorong kuat oleh kekhawatiran pasar yang mendalam terhadap gangguan pasokan minyak global akibat eskalasi ketidakpastian geopolitik.
Sebaliknya, kondisi berbeda menghampiri emas. Logam mulia ini di pasar spot tergelincir 2,23%, mendarat di harga US$ 4.426 per ons troi. Pelemahan ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung oleh para investor di tengah gejolak pasar yang tak menentu. Di ranah domestik, harga emas batangan bersertifikat PT Aneka Tambang (ANTM) tetap stabil di angka Rp 2.850.000 per gram, tidak beranjak dari perdagangan Rabu (25/3), meskipun harga buyback tercatat turun Rp 17.000.
Wall Street Turun, Investor Waspadai Konflik Iran dan Ketidakpastian Hormuz
Menyikapi volatilitas pasar yang tinggi ini, analis komoditas terkemuka sekaligus founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, memberikan panduan penting. Ia menyarankan para investor ritel untuk cermat menerapkan strategi investasi dollar cost averaging (DCA), sebuah metode pembelian bertahap untuk meminimalkan risiko.
“Melakukan akumulasi pembelian secara bertahap lebih bijak daripada mencoba melakukan market timing yang berisiko tinggi,” tegas Wahyu kepada Kontan, Kamis (26/3), menekankan pentingnya pendekatan yang disiplin dalam berinvestasi.
Lebih lanjut, Wahyu turut menyoroti krusialnya rebalancing portofolio. Investor perlu menjaga keseimbangan optimal antara aset aman seperti emas dan aset komoditas produktif, misalnya saham energi atau minyak, agar selalu selaras dengan profil risiko masing-masing individu. Untuk investor yang bertransaksi di instrumen derivatif, Wahyu mengingatkan agar penggunaan leverage dibatasi. Hal ini mengingat volatilitas yang tinggi berpotensi memicu margin call secara cepat, meningkatkan risiko kerugian.
Kripto Berbalik Melemah, Ini Proyeksi Harga Pekan Depan
Melengkapi pandangan tersebut, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa investor harus senantiasa disiplin dalam diversifikasi portofolio. Ia juga menganjurkan agar investor jeli memanfaatkan setiap momentum volatilitas pasar untuk melakukan akumulasi aset secara strategis.
Dengan mengimplementasikan strategi investasi yang tepat, para investor ritel memiliki potensi besar untuk tidak hanya mengelola risiko, tetapi juga turut memanfaatkan peluang investasi di tengah fluktuasi harga minyak dan emas yang dipicu oleh ketegangan geopolitik yang masih membayangi.




