Harga timah melemah, ini dampak bagi industri dan investor

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga timah menunjukkan tren koreksi pada perdagangan pekan ini, melanjutkan pelemahan setelah sempat mengalami reli tajam di awal tahun.

Advertisements

Berdasarkan data dari Trading Economics, harga timah tercatat turun 1,55% secara harian, menetap di level US$ 44.125 per ton pada Kamis (26/3). Meskipun dalam sebulan terakhir komoditas ini telah terkoreksi signifikan sebesar 23,56%, perlu dicatat bahwa secara tahunan harga timah masih membukukan kenaikan impresif sebesar 25,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Wahyu Laksono, seorang analis komoditas dan founder Traderindo.com, menilai bahwa penurunan harga timah saat ini, meski dalam skala terbatas, berpotensi memberikan tekanan pada proyeksi pendapatan jangka pendek bagi para pelaku usaha di sektor tersebut.

Lebih lanjut, Wahyu mengemukakan bahwa para pelaku usaha cenderung akan menahan stok atau melakukan stockpiling. Strategi ini diambil sambil menantikan stabilisasi harga yang kembali menguat di atas level psikologis tertentu yang dianggap menguntungkan.

Advertisements

“Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan setoran royalti kepada negara apabila volume ekspor ikut melandai sebagai konsekuensi dari strategi penahanan stok tersebut,” jelas Wahyu kepada Kontan pada Jumat (27/3).

Namun, di sisi lain, koreksi harga timah ini juga membuka peluang positif bagi produsen perangkat keras. Mereka dapat memanfaatkan momentum penurunan ini untuk menekan biaya produksi secara efektif.

Timah sendiri merupakan komponen vital sebagai bahan utama solder dalam beragam sirkuit elektronik. Aplikasinya sangat luas, mencakup perangkat modern seperti gadget, server kecerdasan buatan (AI), hingga berbagai alat medis canggih.

“Di tengah lonjakan permintaan terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global, koreksi pada harga timah justru sering dimanfaatkan oleh industri hilir untuk melakukan pembelian fisik dalam jumlah besar atau restocking,” ungkap Wahyu.

Menurut pandangan Wahyu, penurunan yang terjadi di pasar komoditas timah seringkali dianggap oleh para investor sebagai fase konsolidasi yang sehat dan alami.

Oleh karena itu, investor jangka panjang umumnya memanfaatkan momentum ini untuk melakukan akumulasi bertahap atau buy on weakness. Strategi ini didasari oleh proyeksi fundamental timah yang diperkirakan tetap langka dalam jangka menengah, mengingat terbatasnya pembukaan tambang baru secara global.

Advertisements

Also Read

Tags