Powell: Ekspektasi inflasi masih terkendali, The Fed pilih wait and see

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, menegaskan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih terjaga dengan baik, meskipun bank sentral Amerika Serikat terus memantau dampak kompleks dari konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi perekonomian global.

Advertisements

Dalam pernyataannya pada sebuah acara di Harvard University, Senin (30/3/2026), Powell mengutip laporan Bloomberg yang menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi terlihat “tetap terjaga dengan baik dalam jangka menengah hingga panjang.” Pernyataan ini memberikan sinyal keyakinan di tengah ketidakpastian yang berkembang di kancah internasional.

Menyikapi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, The Fed menyatakan kesiapannya untuk merespons potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi, meskipun saat ini belum melihat urgensi untuk mengambil langkah lanjutan. Powell menjelaskan bahwa pihaknya masih memerlukan waktu untuk memahami secara pasti implikasi ekonomi dari ketegangan tersebut.

“Kami menilai kebijakan kami saat ini berada pada posisi yang tepat untuk menanti dan melihat perkembangan selanjutnya,” ujar Powell, menggarisbawahi pendekatan hati-hati bank sentral dalam menghadapi situasi yang fluktuatif.

Advertisements

: The Fed Tahan Suku Bunga Acuan dalam FOMC Maret 2026

Lonjakan harga minyak yang dipicu oleh pecahnya konflik geopolitik berpotensi ganda: memicu tekanan inflasi yang signifikan sekaligus menghambat permintaan dan pertumbuhan ekonomi secara global.

Kondisi dilematis ini menghadirkan tantangan substansial bagi arah kebijakan moneter The Fed. Bank sentral memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas inflasi pada tingkat yang ideal sambil mendorong penciptaan lapangan kerja yang maksimal, sebuah keseimbangan yang semakin rumit dalam iklim ekonomi saat ini.

: Risalah FOMC The Fed: Waspadai Inflasi, Opsi Kenaikan Suku Bunga Mencuat

Meskipun ada kecenderungan umum untuk “melihat melalui atau mengabaikan guncangan dari sisi pasokan”, Powell menegaskan bahwa “aspek yang sangat krusial adalah bahwa ekspektasi inflasi harus dipantau dengan sangat hati-hati”. Hal ini menunjukkan fokus The Fed pada persepsi inflasi jangka panjang di kalangan pelaku pasar dan masyarakat.

Sejalan dengan sikap waspada ini, para pembuat kebijakan The Fed sebelumnya telah memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini, sebuah langkah yang diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Powell mempertegas bahwa bank sentral masih menunggu bukti konkret dan berkelanjutan bahwa inflasi bergerak konsisten menuju target 2% sebelum mempertimbangkan langkah penurunan suku bunga.

: Ramalan Pejabat The Fed: Lonjakan Produktivitas AI Dorong Kenaikan Suku Bunga

Di samping isu makroekonomi global, Powell juga menyoroti perkembangan di sektor kredit swasta yang belakangan ini memicu kekhawatiran di kalangan investor. Fenomena penarikan dana lebih awal oleh sejumlah investor serta pembatasan penarikan oleh beberapa fund telah menarik perhatian otoritas moneter.

Menanggapi situasi ini, Powell menegaskan komitmen otoritas moneter untuk terus melakukan pemantauan ketat terhadap potensi risiko yang mungkin timbul dari sektor tersebut, terutama yang berkaitan dengan stabilitas sistem keuangan yang lebih luas.

“Saya enggan mengatakan sesuatu yang terkesan meremehkan risiko, namun kami terus mencari keterkaitan dengan sistem perbankan dan hal-hal yang berpotensi menimbulkan penularan risiko,” jelas Powell. “Untuk saat ini, kami belum melihat hal tersebut,” tambahnya, memberikan sedikit jaminan.

Meski demikian, ia menilai kondisi yang terjadi di sektor kredit swasta masih berada dalam tahap koreksi pasar dan belum menunjukkan indikasi risiko sistemik yang dapat mengancam stabilitas sektor perbankan secara keseluruhan.

Advertisements

Also Read