
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) berhasil menunjukkan kinerja keuangan yang gemilang sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan raksasa makanan ini mencatatkan pertumbuhan signifikan baik dari sisi penjualan konsolidasi maupun laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang dirilis, INDF membukukan penjualan sebesar Rp 123,49 triliun pada tahun 2025. Angka ini merupakan peningkatan solid sebesar 6,65% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang kala itu tercatat Rp 115,78 triliun.
Rincian kontribusi penjualan memperlihatkan kekuatan diversifikasi bisnis Indofood. Penjualan dari produk konsumen bermerek menjadi pilar utama dengan kontribusi Rp 75,74 triliun. Disusul oleh divisi Bogasari yang menyumbang Rp 31,1 triliun, sektor agribisnis Rp 21,03 triliun, dan distribusi Rp 7,42 triliun. Sementara itu, nilai eliminasi tercatat sebesar Rp 11,82 triliun.
Sejalan dengan kenaikan penjualan, beban pokok penjualan dan pendapatan juga mengalami peningkatan menjadi Rp 82,3 triliun pada tahun 2025, dari Rp 75,65 triliun pada tahun sebelumnya. Kendati demikian, laba bruto INDF tetap tumbuh solid, mencapai Rp 41,19 triliun di tahun 2025, naik dari Rp 40,14 triliun di tahun 2024, mengindikasikan efisiensi operasional yang terjaga.
Menilik dari sisi operasional lainnya, beban penjualan tercatat naik menjadi Rp 12,59 triliun dari Rp 12,26 triliun. Demikian pula, beban umum dan administrasi sedikit meningkat menjadi Rp 5,24 triliun, dibandingkan Rp 5,05 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, pendapatan keuangan INDF sedikit menurun menjadi Rp 1,42 triliun pada 2025, dari Rp 1,51 triliun pada 2024.
Kabar positifnya, beban bunga dan keuangan justru berhasil ditekan, turun menjadi Rp 5,97 triliun pada 2025, dari Rp 6,19 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan beban ini secara signifikan membantu menopang profitabilitas perusahaan di tengah dinamika pasar.
Selain itu, INDF mencatatkan pembalikan fantastis pada bagian atas laba entitas asosiasi. Dari posisi rugi Rp 1,36 triliun pada 2024, kini berbalik menjadi laba sebesar Rp 27,37 miliar. Pendapatan lainnya juga melonjak menjadi Rp 1,99 triliun, naik dari Rp 1,50 triliun. Sementara itu, beban lainnya berhasil dikurangi, turun menjadi Rp 780,18 miliar dari Rp 1,25 triliun.
Berkat serangkaian performa positif tersebut, laba sebelum pajak penghasilan INDF melesat menjadi Rp 20,04 triliun pada 2025, dari Rp 17,04 triliun pada 2024. Setelah memperhitungkan pajak, laba tahun berjalan INDF mencapai Rp 15,56 triliun di tahun 2025, menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 18,96% yoy dari Rp 13,08 triliun pada tahun sebelumnya.
Puncak kinerja perusahaan terlihat pada laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, atau yang dikenal sebagai laba bersih. Angka ini mencapai Rp 10,68 triliun pada 2025, melonjak 23,64% yoy dibandingkan Rp 8,64 triliun pada 2024. Sejalan dengan itu, laba per saham dasar INDF juga meningkat tajam menjadi Rp 1.217 per saham, dari Rp 984 per saham pada tahun sebelumnya.
Menanggapi pencapaian gemilang ini, Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, menyatakan optimisme. Ia menekankan bahwa di tengah kondisi makroekonomi yang penuh tantangan, Indofood tetap mampu membukukan pertumbuhan penjualan dan profitabilitas, didukung oleh model bisnis yang terintegrasi secara vertikal.
“Ke depannya, kami akan terus fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan, tetap menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” ujar Anthoni dalam keterangannya, Rabu (30/3/2026), menggarisbawahi strategi jangka panjang Indofood.
Beralih ke posisi neraca keuangan, total aset INDF turut menguat signifikan, mencapai Rp 217,98 triliun di akhir tahun 2025, meningkat dari Rp 201,71 triliun. Peningkatan aset ini mencerminkan ekspansi dan penguatan posisi keuangan perusahaan.
Meski total liabilitas perusahaan juga sedikit meningkat menjadi Rp 97,74 triliun dari Rp 92,72 triliun, ekuitas INDF menunjukkan pertumbuhan yang lebih signifikan, tercatat Rp 120,23 triliun, naik dari Rp 108,99 triliun. Hal ini mengindikasikan struktur permodalan yang semakin kokoh.
Akhirnya, saldo kas dan setara kas Indofood pada akhir tahun 2025 melonjak menjadi Rp 47,47 triliun, naik substansial dari Rp 38,71 triliun. Posisi kas yang kuat ini memberikan fleksibilitas finansial yang lebih besar bagi perusahaan untuk investasi dan operasional di masa mendatang.




