Tekanan global belum surut, IHSG berpotensi rebound

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki pekan krusial yang diwarnai dua sentimen utama. Di satu sisi, ketegangan geopolitik yang memuncak di Iran berpotensi memicu tekanan terhadap arus dana asing. Namun, di sisi lain, upaya reformasi pasar modal di dalam negeri justru menumbuhkan optimisme baru bagi kinerja pasar.

Advertisements

Kinerja IHSG sepanjang Maret 2026 menunjukkan tren lesu, sebagaimana terekam dalam data Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada pekan pertama Maret, IHSG anjlok 7,89% dalam lima hari perdagangan. Pelemahan ini berlanjut pada pekan kedua dengan penurunan 5,91%, pekan ketiga melemah 0,43%, pekan keempat turun 0,14%, dan bahkan hingga awal April 2026, IHSG masih tertekan 0,99%.

Kelesuan IHSG semakin kentara dengan catatan outflow dana asing sebesar Rp33,83 triliun sepanjang tahun berjalan 2026. Data ini mengindikasikan bahwa berbagai sentimen, mulai dari potensi konflik Iran-Amerika Serikat hingga inisiatif perbaikan pasar modal domestik, belum cukup menarik minat investor untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia.

Para analis dari BRI Danareksa Sekuritas, yang terdiri dari Chory Agung, Reza Diofanda, dan Abida Massi Armand, memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi mengalami rebound pada pekan ini, asalkan indeks mampu bertahan di area support 6.950. Secara teknikal, kondisi pasar saat ini menunjukkan fase konsolidasi dengan momentum bearish yang mulai melesu. Oleh karena itu, peluang penguatan IHSG menuju level 7.150—7.200 dinilai terbuka lebar. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan IHSG juga menghadapi risiko pelemahan lanjutan.

Advertisements

: Potensi Rebound IHSG Efek De-eskalasi Perang Iran, Cermati Saham EXCL hingga INCO

”IHSG saat ini menunjukkan potensi bearish continuation dengan pola descending triangle, di mana tekanan jual masih dominan terlihat dari lower high dan MACD yang kembali melemah. Pola ini terkonfirmasi jika harga kembali turun di bawah 6.950,” ungkap mereka dalam riset yang dirilis Minggu (5/4/2026).

Pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat secara saksama sepanjang pekan ini. Pernyataan Donald Trump yang mengisyaratkan serangan kembali terhadap Iran dalam 2—3 minggu ke depan justru menandakan eskalasi konflik, alih-alih penyelesaian yang cepat. Pernyataan ini dinilai mengecewakan pasar yang sebelumnya menaruh harapan pada perdamaian, sehingga memicu kenaikan harga minyak sekitar 5% ke level US$106 per barel dan diikuti pelemahan di pasar saham global.

”Menurut analis, pelemahan rupiah berpotensi berlanjut hingga menyentuh Rp17.500 pada 2026 jika konflik tidak mereda. Kondisi ini turut berdampak pada pasar saham, di mana IHSG dapat bergerak di bawah level 7.000 dengan tekanan net foreign sell yang masif,” tambah mereka.

Dari ranah domestik, perhatian pasar akan tertuju pada realisasi delapan kebijakan penghematan nasional oleh pemerintah, sebagai respons terhadap tekanan ekonomi global. Kebijakan ini diprediksi akan menghasilkan penghematan signifikan, dengan estimasi Rp6,2 triliun dari penerapan sistem kerja dari rumah (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Rp130 triliun dari efisiensi anggaran.

Di sisi lain, langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang telah menuntaskan empat agenda penguatan transparansi pasar modal dinilai akan memberikan sentimen positif dalam jangka panjang. Namun, untuk jangka pendek, sentimen cenderung bersifat mixed mengingat pasar masih sangat fokus pada dinamika perang di Iran.

Adapun empat agenda transparansi pasar modal yang telah direalisasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organizations (SRO) meliputi penyediaan data kepemilikan saham di atas 1%, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), penguatan granularitas klasifikasi investor dalam data kepemilikan saham KSEI menjadi total 39 klasifikasi dan tipe investor, serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15%.

”Dalam jangka panjang, langkah ini merupakan transformasi positif karena meningkatkan standar, transparansi, dan investability pasar Indonesia, sehingga membuka peluang peningkatan aliran dana asing dan deadline yang sudah diberikan oleh indeks global Mei 2026 ini,” jelas analis BRI Danareksa Sekuritas.

Namun, pasar juga diramal memiliki kekhawatiran terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau free float yang terbatas, yang berisiko terdampak jika tidak memenuhi kriteria MSCI. Dalam pengumumannya pada Kamis (2/4/2026), BEI merilis setidaknya sembilan saham yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan yang mendominasi sesuai metodologi BEI. Beberapa saham ternama yang masuk daftar ini antara lain BREN, DSSA, AGII, hingga RLCO yang baru saja melantai di Bursa pada akhir tahun lalu.

”Dengan demikian, IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan bias terbatas, sambil menunggu perkembangan lebih lanjut,” demikian kesimpulan riset tersebut.

Berdampak Signifikan

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa realisasi empat dari delapan aksi perbaikan pasar modal oleh BEI menjadi faktor krusial yang mampu mendorong sentimen positif bagi pasar modal Tanah Air. Menurut Nafan, aksi ini merefleksikan konsistensi BEI dan regulator dalam memastikan likuiditas suatu saham yang akan dibeli oleh investor, sehingga memudahkan investor global dalam memilih saham-saham domestik.

”Ini krusial, empat proposal ini merupakan game changer ibaratnya. Soalnya kita menghadapi MSCI yang merupakan golden standard bagi global fund manager,” ujar Nafan kepada Bisnis, Minggu (5/4/2026).

Meskipun demikian, Nafan mengakui bahwa IHSG secara jangka pendek masih berada dalam fase bearish consolidation. Secara teknikal, indeks memang telah membentuk bar penurunan dengan volume perdagangan yang ikut menurun. Namun, sinyal dari indikator Stochastic dan RSI dinilai masih menunjukkan prospek positif. Oleh karena itu, Nafan merekomendasikan investor untuk selektif memilih saham dengan fundamental kuat, berfokus pada saham-saham undervalued, serta saham yang menunjukkan tanda-tanda reversal, sembari menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

”Kalau secara teknikal, IHSG sudah dalam fase bearish consolidation ya. Tapi, dalam jangka panjang, ini [aksi BEI] bagus untuk memicu capital inflow karena weighting Indonesia di emerging markets itu bisa berpotensi naik kembali,” tegasnya.

Sebagai rekomendasi konkret, BRI Danareksa Sekuritas menyarankan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dengan target harga Rp2.500—Rp2.600, saham PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) dengan target harga Rp1.910—Rp1.985, dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) pada target harga Rp755—Rp805 per saham.

: Menguji Daya Serap Pasar Modal saat Free Float Dikerek
OJK-BEI Siap Temui MSCI

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), telah sukses menuntaskan empat agenda utama dalam upaya penguatan transparansi pasar modal Indonesia. Agenda-agenda ini merupakan bagian integral dari proposal solusi yang sebelumnya diajukan kepada Global Index Providers, termasuk MSCI. Ke depan, otoritas akan melanjutkan komunikasi dan engagement konstruktif dengan penyedia indeks global tersebut, seperti MSCI dan FTSE.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa keempat agenda yang telah rampung ini merupakan bagian dari delapan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia yang telah dicanangkan OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) sejak 1 Februari 2026. Hasan menegaskan bahwa kebijakan yang ditempuh OJK bersama SRO dalam penyelesaian keempat proposal ini sejalan dengan standar dan praktik terbaik di berbagai yurisdiksi global.

“Dengan demikian, empat proposal yang diajukan oleh pihak Indonesia kepada Global Index Providers sudah diselesaikan dan dituntaskan sesuai target yang dicanangkan. Selanjutnya, kami akan melanjutkan komunikasi dan engagement yang konstruktif dengan Global Index Providers, serta menghimpun feedback dari kalangan investor,” jelas Hasan pada Kamis (3/4/2026).

Terselesaikannya keempat proposal penguatan transparansi ini diharapkan dapat memicu likuiditas yang lebih sehat serta meningkatkan kualitas price discovery di pasar saham domestik. Pada akhirnya, upaya ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor serta mendongkrak kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia di kancah global.

Sebagai bagian dari percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia, BEI telah melakukan penyesuaian Peraturan Bursa Nomor I-A, yang meliputi penguatan kebijakan free float dan tata kelola perusahaan, efektif berlaku mulai 31 Maret 2026. Perubahan signifikan ini mencakup penyesuaian definisi saham free float, peningkatan batas minimum free float menjadi 15%, serta pengaturan yang lebih komprehensif terkait klasifikasi dan ketentuan saham free float, khususnya dalam proses penawaran umum perdana (IPO).

Dalam kesempatan yang sama, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menekankan bahwa peningkatan ketentuan free float juga merupakan bagian dari upaya penyelarasan dengan praktik terbaik di berbagai bursa internasional lainnya. “Dengan tetap menjaga ambang batas kepemilikan sebesar 5 persen yang sejalan dengan standar global, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta daya tarik investasi di pasar modal Indonesia, baik bagi investor domestik maupun global,” ujar Jeffrey.

Advertisements

Also Read