\n\n

Ini alasan Bukit Asam (PTBA) belum prioritaskan aksi buyback saham saat ini

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) tengah mengevaluasi peluang strategis untuk melancarkan aksi pembelian kembali saham (buyback) di tengah dinamika pasar saham yang terus bergerak. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk senantiasa adaptif terhadap kondisi pasar.

Advertisements

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyatakan bahwa opsi korporasi ini tetap terbuka lebar. Namun, realisasinya akan sangat bergantung pada pencermatan mendalam terhadap kondisi pasar saham serta keseimbangan kinerja keuangan perusahaan secara menyeluruh.

“Sejauh ini, pergerakan saham PTBA relatif stabil, sehingga aksi buyback belum menjadi prioritas utama. Kendati demikian, opsi ini selalu kami pertimbangkan, terutama dalam kondisi pasar saat ini dengan sentimen tertentu seperti dari MSCI, yang terus kami pantau secara seksama,” ungkap Arsal, Senin (6/4/2026).

Arsal menambahkan, fluktuasi di pasar modal adalah hal yang lumrah dan seringkali dipicu oleh dinamika eksternal yang kompleks. Menariknya, di tengah gejolak tersebut, sektor energi justru menunjukkan ketahanan dan berada dalam posisi yang menguntungkan, terutama berkat tren kenaikan harga batu bara yang terjadi belakangan ini.

RKAB Tak Dipangkas, Bukit Asam (PTBA) Targetkan Produksi 50 Juta Ton Batu Bara pada 2026

Advertisements

Peningkatan harga komoditas ini secara langsung memberikan tambahan keuntungan bagi PTBA. Namun, perseroan juga menyadari potensi peningkatan biaya operasional, khususnya harga bahan bakar minyak (BBM), sebagai faktor krusial yang dapat menekan margin keuntungan di masa depan.

Arsal menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian pasar, kinerja PTBA masih menunjukkan ketahanan yang solid. Dalam satu bulan terakhir, kenaikan harga batu bara terbukti mampu mengimbangi lonjakan biaya operasional, termasuk potensi kenaikan harga BBM yang menjadi komponen penting dalam proses produksi.

Meskipun ada tekanan dari sisi biaya, tren harga batu bara yang positif saat ini tetap menciptakan ruang yang menguntungkan bagi kinerja keuangan PTBA. Kondisi ini memungkinkan perseroan untuk tetap membukukan tambahan keuntungan, meskipun tidak dalam skala yang sangat besar.

“Kenaikan harga batu bara masih efektif menutupi peningkatan biaya, sehingga kami masih mampu mencatat windfall, walau tidak signifikan,” jelas Arsal.

Melangkah ke kinerja keuangan, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada tahun 2025. Angka ini memang menunjukkan penurunan 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,1 triliun, terutama akibat pelemahan harga batu bara global.

Meski laba bersih tertekan, perseroan berhasil mencatat EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin 14% sepanjang 2025. PTBA juga menunjukkan perbaikan profitabilitas secara kuartalan, didorong oleh optimalisasi portofolio ekspor dan implementasi efisiensi biaya yang ketat.

Dari perspektif operasional, kinerja PTBA tetap kokoh. Produksi batu bara perusahaan tumbuh 9% secara tahunan, diikuti peningkatan volume penjualan sebesar 6%. Namun demikian, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun 6% secara tahunan, sejalan dengan penurunan harga batu bara acuan global. Tercatat, Newcastle Coal Index melemah hingga 22%, sementara Indonesia Coal Index 3 turun 16%.

Berdasarkan laporan keuangan, PTBA berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun, meningkat 6% dari tahun sebelumnya. Seiring dengan kenaikan volume operasional, beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp36,39 triliun.

Di tengah peningkatan volume, efisiensi tetap menjadi fokus utama PTBA, terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari sebelumnya 6,23 kali. Selain itu, volume angkutan batu bara juga menunjukkan pertumbuhan 6%, dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton, menandakan optimalisasi logistik perusahaan.

Dengan capaian kinerja ini, PTBA berkomitmen untuk terus menjaga ketahanan energi nasional, terutama melalui pasokan yang signifikan ke pasar domestik yang melampaui separuh dari total penjualan perusahaan. Ke depan, perseroan akan terus mengkombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global yang terencana guna menjaga stabilitas dan pertumbuhan kinerja di tengah volatilitas harga komoditas.

Bukit Asam Tbk. – TradingView

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read