
BANYU POS – , JAKARTA – Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu lonjakan harga minyak global, menembus level psikologis US$100 per barel. Situasi ini sontak menjadi sentimen positif yang kuat bagi saham-saham minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia, yang kompak menunjukkan penguatan signifikan pada pembukaan pasar.
Berdasarkan data TradingView pada pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent melonjak impresif sebesar 8,55% ke level US$102,30 per barel. Lonjakan ini disambut meriah oleh emiten migas domestik. Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 2,05% menjadi Rp1.740, diikuti oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang naik 3,54% ke Rp1.610. Tak ketinggalan, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) juga turut menguat 1,08% ke Rp1.405.
Gelombang positif ini juga merambat ke sejumlah emiten migas lainnya. Saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) terapresiasi 2,17% menjadi Rp705, sementara PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) naik 1,65% ke Rp1.850. Selain itu, saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) menguat 1,59% ke Rp4.460, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) melonjak 2,67% ke Rp5.775.
Menyikapi dinamika geopolitik ini, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, dalam riset terbarunya memaparkan tiga skenario prospek harga minyak. Skenario-skenario ini didasarkan pada tingkat eskalasi konflik AS-Iran yang berpotensi besar mengganggu jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz, sebuah urat nadi vital pasokan energi global.
Pertama, jika gangguan terjadi dalam skala ringan, harga minyak Brent diproyeksikan naik ke kisaran US$80-US$90 per barel. Kedua, dalam skenario gangguan yang berkelanjutan, Brent diperkirakan dapat melonjak lebih tinggi ke level US$105-US$115 per barel. Ketiga, apabila gangguan berlangsung berkepanjangan, harga Brent ditaksir bisa melejit hingga mencapai US$110-US$135 per barel.
Meskipun perkembangan terkini menunjukkan adanya peningkatan arus lalu lintas melalui Selat Hormuz, riset tersebut tetap menyoroti potensi gangguan moderat sebagai skenario dasar. “Meskipun perkembangan terbaru menunjukkan peningkatan arus melalui Selat Hormuz, kami tetap melihat gangguan moderat sebagai skenario dasar kami,” terang riset tersebut, menekankan kewaspadaan terhadap volatilitas.
Dengan mempertimbangkan proyeksi ini, BRI Danareksa Sekuritas memprediksi bahwa sektor hulu migas berpeluang besar untuk menunjukkan kinerja outperform, atau lebih baik dibanding sektor lainnya, dalam tiga bulan ke depan.
Dalam rekomendasi investasinya, BRI Danareksa Sekuritas menunjuk MEDC sebagai pilihan utama (top pick) dengan target harga Rp2.000. Pertimbangan utama adalah target produksi migas perseroan pada 2026 sebesar 165.000-170.000 barel setara minyak per hari (boepd), atau peningkatan 6%-9% dari realisasi tahun lalu. Selain itu, MEDC dinilai memiliki daya ungkit laba yang kuat terhadap fluktuasi harga minyak dunia.
Di sisi lain, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, merekomendasikan ENRG sebagai pilihan utama, dengan target harga Rp1.925. Menurut Hari, “Emiten ENRG berhasil bergerak uptrend dan bertahan di atas area psikologis Rp1.700. Dengan harga minyak yang naik karena sentimen kenaikan harga minyak global membuat sentimen positif bagi saham ENRG.”
Meski kenaikan harga minyak global menjadi katalis positif bagi saham-saham emiten migas, konflik berkepanjangan antara AS dan Iran berpotensi menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Apalagi, IHSG saat ini tengah berada dalam fase rebound, mencatatkan penguatan 6,14% dalam sepekan terakhir (6-10 April 2026). Kelanjutan tren positif ini, menurut Hari Rachmansyah, akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global serta konsistensi aliran dana domestik dalam menopang pasar.
Hari menambahkan bahwa kebuntuan dalam perundingan AS-Iran akan memperpanjang ketidakpastian geopolitik. Hal ini tentu meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi global. “Sentimen negatif terutama berasal dari risiko berlanjutnya gangguan distribusi energi global, mengingat kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis Selat Hormuz, masih menjadi titik krusial dalam rantai pasok minyak dunia,” tegasnya.
Sebagai konteks, sebelumnya Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa perundingan antara AS dan Iran di Pakistan tidak mencapai kesepakatan. Vance menyatakan bahwa Iran menolak proposal AS yang mencakup larangan pengembangan senjata nuklir.
Sementara itu, pihak Iran justru menuding bahwa tuntutan AS telah merusak peluang tercapainya kesepakatan. Sebelum perundingan dimulai, militer AS sendiri telah menyatakan persiapan untuk membuka Selat Hormuz, yang memang menjadi salah satu topik utama bahasan selama perundingan intensif 21 jam tersebut.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




