Trump buka jalan chip AI ke Tiongkok, saham NVIDIA tembus rekor baru Rp 4,1 juta per lembar

Hikma Lia

Dunia teknologi kembali dihebohkan oleh gelombang euforia kecerdasan buatan (AI) seiring dengan lonjakan harga saham NVIDIA yang mencapai rekor tertinggi baru. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh keputusan penting pemerintah Amerika Serikat yang menyetujui penjualan chip AI canggih seri H200 ke sejumlah korporasi raksasa di Tiongkok. Langkah ini secara efektif membuka kembali akses ke pasar bernilai miliaran dolar yang sebelumnya sempat tertutup akibat ketatnya pembatasan ekspor.

Advertisements

Seperti dilaporkan oleh BeInCrypto pada Jumat (15/5), saham NVIDIA menorehkan penutupan di level USD 236,46 per lembar, setara dengan sekitar Rp 4,13 juta, melesat hampir 5 persen hanya dalam satu sesi perdagangan. Reli impresif ini bermula dari lampu hijau yang diberikan oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat, mengizinkan sekitar sepuluh perusahaan Tiongkok untuk mengakuisisi chip AI andalan besutan NVIDIA.

Daftar pembeli yang telah mendapat persetujuan mencakup nama-nama besar di industri teknologi Tiongkok, seperti Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com. Sementara itu, Lenovo dan Foxconn telah ditunjuk sebagai distributor resmi untuk memfasilitasi penjualan chip tersebut.

Keputusan strategis ini menandai pembalikan kebijakan pembatasan ekspor yang ketat, yang diberlakukan pada Oktober 2023. Kebijakan sebelumnya secara drastis memutus akses Tiongkok terhadap chip AI tercanggih yang dikembangkan oleh NVIDIA, menghambat perkembangan teknologi AI di negara tersebut.

Advertisements

Jensen Huang Puji Langkah Trump

CEO NVIDIA, Jensen Huang, menyambut baik langkah pemerintah AS ini dengan sebuah pernyataan yang menarik perhatian banyak pihak. “Kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah manusia,” ungkap Huang. Pernyataan ini muncul karena pasar secara luas menafsirkan kebijakan tersebut bukan sekadar sebagai manuver dagang biasa, melainkan sebagai indikasi pergeseran fundamental dalam lanskap hubungan teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Sebelum embargo chip diberlakukan, pasar Tiongkok merupakan kontributor signifikan, menyumbang hampir seperempat dari total pendapatan NVIDIA. Nilai bisnis ini diperkirakan mencapai USD 8 miliar per tahun, atau sekitar Rp 140 triliun, sebuah angka yang menggarisbawahi pentingnya pasar tersebut bagi perusahaan.

Dengan dibukanya kembali jalur penjualan ini, para investor dengan sigap mulai menghitung ulang proyeksi potensi pertumbuhan NVIDIA. Fokus utama mereka tertuju pada bisnis pusat data (data center) yang selama ini menjadi tulang punggung dan mesin utama di balik ledakan pertumbuhan AI global.

Tiongkok Masih Pegang Kunci

Meskipun izin dari Washington telah dikeluarkan, pengiriman chip H200 ke Tiongkok belum sepenuhnya terealisasi. Pemerintah Tiongkok masih dalam proses peninjauan internal terhadap transaksi tersebut, sebuah langkah yang harus diselesaikan sebelum pengiriman dapat dilakukan.

Dengan demikian, seberapa cepat kebijakan ini dapat diterjemahkan menjadi pendapatan nyata bagi NVIDIA akan sangat bergantung pada efisiensi dan kecepatan regulator Tiongkok dalam memberikan persetujuan akhir. Ini menjadi titik krusial yang menentukan laju monetisasi keputusan AS.

Meskipun ada tahapan yang harus dilalui, pasar tetap menunjukkan optimisme yang kuat. Para trader melihat permintaan dari Tiongkok sebagai kepingan puzzle yang selama ini hilang, krusial untuk melengkapi ekspansi ambisius bisnis AI NVIDIA secara global.

Bisnis pusat data NVIDIA secara konsisten menjadi sorotan utama di Wall Street. Sektor ini telah secara luar biasa menopang pertumbuhan valuasi perusahaan yang, bagi sebagian pengamat, nyaris sulit dipercaya dan melampaui ekspektasi.

Valuasi NVIDIA Lampaui Hampir Semua Negara

Dengan lonjakan saham terbarunya, kapitalisasi pasar NVIDIA kini menempatkan perusahaan itu melampaui produk domestik bruto (PDB) hampir seluruh negara di dunia. Pengecualian hanya berlaku untuk dua kekuatan ekonomi terbesar, yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok.

Menariknya, raksasa teknologi lain, Alphabet, dilaporkan kini hanya berjarak kurang dari 4 persen dari level valuasi USD 5 triliun, menunjukkan tren serupa dalam penilaian pasar terhadap perusahaan teknologi papan atas.

Fenomena luar biasa ini secara gamblang menunjukkan bagaimana perangkat keras AI (AI hardware) kini dipandang oleh pasar sebagai komoditas premium yang bernilai tinggi. Penilaiannya bahkan jauh melampaui valuasi aset fisik tradisional, mencerminkan pergeseran paradigma ekonomi.

Namun, sebuah pertanyaan besar tetap menggantung di benak para analis dan investor: apakah permintaan terhadap teknologi AI benar-benar cukup kuat dan berkelanjutan untuk terus menopang valuasi setinggi ini? Atau, apakah pasar sedang berada di ambang pembentukan bubble baru, serupa dengan era dot-com di masa lalu?

Untuk saat ini, Wall Street tampaknya memilih untuk terus berinvestasi dan percaya pada narasi kuat tentang potensi pertumbuhan masif yang ditawarkan oleh teknologi kecerdasan buatan.

Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar dan teknologi digital. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Selalu lakukan riset sebelum mengambil keputusan investasi.

Advertisements

Also Read

Tags