
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih akan bergerak dalam rentang terbatas dalam jangka pendek. Proyeksi ini muncul setelah pasar saham nasional mengalami tekanan signifikan menjelang periode libur panjang.
Meskipun demikian, sejumlah analis pasar modal melihat adanya peluang untuk terjadinya technical rebound, sebuah kenaikan sesaat setelah penurunan tajam. Namun, peringatan pentingnya adalah tren pelemahan pasar secara keseluruhan dinilai belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Pengamat pasar modal, Irwan Ariston, mengemukakan bahwa secara teknikal, arah pergerakan IHSG masih didominasi oleh tren bearish atau penurunan. “Arah pergerakan IHSG secara teknikal masih bearish, walau bisa saja terjadi kemungkinan technical rebound alias naik sesaat untuk kemudian muncul tekanan lagi,” ujar Irwan kepada Kontan, Jumat (15/5/2026).
Rupiah Pecah Rekor Terlemah, Outflow Asing dan Sentimen MSCI Jadi Tekanan
Ia menambahkan, berbagai faktor eksternal dan domestik terus menjadi beban bagi pasar saham. Selain dampak dari rebalancing Indeks MSCI yang memicu pergerakan saham tertentu, pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) juga turut menyumbang sentimen negatif yang signifikan. “Selain dari pengaruh MSCI, saat ini faktor nilai tukar rupiah yang sekitar Rp17.500 per USD memberi efek negatif tersendiri,” jelasnya, mempertegas tantangan yang dihadapi oleh pasar.
Irwan juga menyoroti aspek non-ekonomi yang tak kalah krusial, yakni terkait kepastian hukum di dalam negeri. Menurutnya, isu ini dapat memengaruhi fundamental kepercayaan investor. “Tiadanya keadilan dan kepastian hukum seperti ini sangat menghancurkan pondasi kepercayaan dalam berinvestasi. Cepat atau lambat, ini bisa semakin memperburuk situasi yang sudah buruk saat ini,” tegasnya, menggarisbawahi dampak jangka panjang pada iklim investasi.
Dari perspektif global, Co-Founder PasarDana Hans Kwee mengidentifikasi bahwa tekanan pasar dipicu oleh serangkaian sentimen global. Ini mencakup kenaikan harga minyak mentah dunia serta potensi kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
“Inflasi AS yang masih tinggi dan cenderung naik akibat harga minyak memupuskan harapan pemotongan bunga oleh The Fed dalam waktu dekat,” terang Hans. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan yield obligasi AS, yang turut menopang penguatan dolar AS dan secara tidak langsung menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Harga Energi Naik Tajam, Premi Risiko Geopolitik Meningkat Jadi Pemicu
Di tengah dinamika tersebut, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi, dengan kecenderungan penguatan terbatas pada awal pekan. Hans memproyeksikan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan level support di 6.600-6.700 dan resistance di 6.800-6.977, memberikan gambaran batas pergerakan indeks.
Isu rebalancing MSCI juga menjadi fokus utama, khususnya terhadap saham-saham yang terdepak dari indeks seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Irwan menilai, tekanan jual pada saham-saham tersebut masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. “Akan ada tekanan pada saham yang keluar dari indeks tersebut. Tapi karena kepemilikan publik relatif kecil, pergerakannya akan sangat bergantung pada pemegang saham mayoritas,” ungkap Irwan, menekankan peran strategis pemegang saham mayoritas.
Tekanan ini, menurut Irwan, diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Mei, periode saat perubahan indeks secara resmi diberlakukan. “Setelahnya, bisa lanjut bisa tidak, semua tergantung dari keinginan pemegang saham mayoritasnya,” imbuhnya, menyiratkan ketidakpastian setelah periode transisi.
Dalam kondisi pasar yang masih diselimuti ketidakpastian, investor sangat disarankan untuk menerapkan strategi yang lebih selektif. Irwan menekankan urgensi untuk berfokus pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan valuasi yang masih menarik.
“Investor jangka panjang sebaiknya fokus pada saham yang berfundamental baik dengan PER di bawah 7 kali dan PBV di bawah 0,7 kali,” sarannya, memberikan kriteria konkret untuk identifikasi saham unggulan. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga likuiditas portofolio. “Tetap siapkan kas minimal 50% dari portofolio bila baru akan masuk, untuk antisipasi situasi yang lebih buruk di kemudian hari,” pungkasnya, mendorong kehati-hatian dalam manajemen risiko.
Instrumen Ini Bisa Dilirik Investor Ketika Pasar Saham dan Rupiah Bergejolak
Adapun dari sisi sektoral, peluang investasi sangat bergantung pada stabilitas fundamental ekonomi. Jika tekanan ekonomi terus berlanjut, hampir seluruh sektor diyakini akan merasakan dampaknya. “Sebenarnya semua sektor cukup menarik bila kondisi fundamental ekonomi kita baik. Tapi ketika fundamental ekonomi terindikasi berbahaya, maka hampir semua sektor jadi tidak menarik lagi,” tutup Irwan, menyimpulkan bahwa kesehatan ekonomi makro adalah kunci utama daya tarik investasi sektoral.




