BANYU POS Bursa saham Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan Kamis (21/5/2026) dengan tren pelemahan signifikan. Sentimen negatif ini dipicu oleh lonjakan harga minyak global, menyusul laporan Reuters mengenai sikap terbaru Iran dalam negosiasi penting dengan Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara tegas memerintahkan agar uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata tidak boleh dikirim ke luar negeri. Keputusan ini secara fundamental dipersepsikan pasar sebagai penghambat utama bagi kemajuan pembicaraan damai yang krusial antara Washington dan Teheran.
PT PP (PTPP) Siapkan Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Suku Bunga
Pada pembukaan perdagangan, data yang dihimpun dari Reuters menunjukkan bahwa indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 25,5 poin atau 0,05%, mendarat di level 49.983,8. Kondisi serupa menimpa indeks S&P 500, yang melemah 22,2 poin atau 0,30% menjadi 7.410,78. Sementara itu, indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite mengalami kemerosotan lebih tajam, yakni 126,7 poin atau 0,48%, mencapai posisi 26.143,6.
Seiring dengan gejolak di pasar saham, harga minyak Brent melonjak signifikan sebesar 1,7%, mencapai US$106,82 per barel. Kenaikan ini mengindikasikan respons pasar yang cepat terhadap ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas.
Padahal, sebelumnya harga minyak global sempat menunjukkan tren pelemahan, didorong oleh optimisme bahwa upaya-upaya diplomatik akan berhasil meredakan ketegangan geopolitik yang ada. Namun, publikasi laporan Reuters yang menyoroti sikap keras Iran tersebut segera memicu kembali kekhawatiran pasar. Potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia, kini menjadi sorotan utama dan menekan sentimen pasar energi.
Dampak ketidakpastian ini juga terasa pada pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik menjadi 4,611%, melanjutkan tren kenaikan setelah sempat mereda pada perdagangan Rabu.
Ketiadaan kemajuan substansial dalam isu pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz secara langsung meningkatkan spekulasi akan potensi inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya memberikan tekanan signifikan pada kinerja pasar saham. Di tengah dinamika makroekonomi ini, perhatian investor turut terfokus pada rilis laporan keuangan dari emiten-emiten besar.
Sebagai contoh, saham Walmart anjlok 2,9% dalam perdagangan premarket. Penurunan ini terjadi meskipun perusahaan mempertahankan target tahunannya, namun proyeksi laba kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar memicu kekhawatiran, terutama mengingat kondisi ekonomi AS yang penuh tantangan saat ini.
Indika Energy (INDY) Fokus Diversifikasi Bisnis, Kinerjanya Positif di Kuartal I-2026
Sam Stovall, selaku Chief Investment Strategist di CFRA Research, menyatakan bahwa proyeksi dari Walmart secara gamblang memicu kekhawatiran para investor. Hal ini mengindikasikan bahwa kombinasi antara tingginya harga minyak dan tekanan inflasi kini mulai terasa dampaknya pada prospek keseluruhan sektor ritel di Amerika Serikat.
Di sisi lain spektrum pasar, saham Nvidia mengalami penurunan tipis 0,8%. Penurunan ini terjadi meskipun perusahaan raksasa di bidang Kecerdasan Buatan (AI) tersebut memproyeksikan pendapatan kuartal kedua yang melampaui estimasi Wall Street, bahkan turut mengumumkan program buyback saham senilai US$80 miliar.
Perlu dicatat, saham Nvidia sendiri telah menikmati lonjakan hampir 20% sepanjang tahun ini. Namun, laju peningkatannya mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan, sebagian besar diakibatkan oleh intensitas persaingan yang meningkat dari perusahaan teknologi besar lainnya serta rival produsen chip utama seperti Intel dan Advanced Micro Devices.
PTPP Catat Nilai Kontrak Rp 6,88 Triliun per April 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan SpaceX. Perusahaan milik miliarder Elon Musk ini telah mengumumkan pengajuan penawaran umum perdana (IPO) pada Rabu, sebuah langkah yang dinantikan banyak pihak.
Pengajuan IPO ini diharapkan dapat memberikan gambaran awal yang lebih jelas mengenai skala investasi SpaceX dalam sektor kecerdasan buatan, yang menjadi komponen integral dari strategi transformasi bisnis perusahaan yang ambisius.
Sementara itu, dari ranah ekonomi makro, data terbaru menunjukkan sinyal positif. Jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran tercatat menurun pada pekan lalu, sebuah indikator penting bahwa pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketangguhan yang cukup solid.
Kondisi pasar tenaga kerja yang kuat ini memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi bank sentral AS, Federal Reserve, untuk mempertahankan fokus utamanya dalam upaya mengendalikan inflasi yang masih menjadi tantangan ekonomi.
Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham
Beranjak ke sektor lain, saham-saham di industri teknologi kuantum justru mengalami penguatan tajam. Lonjakan ini dipicu oleh pengumuman dari pemerintahan Donald Trump mengenai pemberian hibah substansial kepada sejumlah perusahaan yang berfokus pada inovasi komputasi kuantum.
Di antara penerima manfaat dan pendorong kenaikan ini, saham IBM tercatat naik 5,8%, sementara GlobalFoundries melonjak hingga 13,4%. Gelombang positif ini juga merambat ke emiten lain di sektor yang sama.
Secara spesifik, saham D-Wave Quantum menguat 14,5%, Rigetti Computing naik 13,2%, dan Infleqtion mencatat kenaikan paling signifikan dengan lonjakan 21,5%, menandakan antusiasme pasar yang besar terhadap potensi teknologi kuantum.




