Bank Indonesia (BI) menggarisbawahi urgensi penguatan transaksi Local Currency Transaction (LCT) di tengah gejolak global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Menurut Ruth A. Cussoy Intama, Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, skema transaksi yang memanfaatkan mata uang lokal ini secara signifikan dapat meminimalisir ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus mendorong efisiensi perdagangan antarnegara.
Data terbaru dari BI menunjukkan lonjakan dramatis pada jumlah pelaku LCT. Hingga April 2026, rata-rata bulanan pelaku LCT telah mencapai 5.265, sebuah peningkatan yang sangat substansial dibandingkan dengan 497 pelaku pada tahun 2021 dan 1.741 pelaku pada tahun 2022. Tren positif ini terus berlanjut, dengan 2.602 pelaku pada tahun 2023, yang kemudian melonjak menjadi 5.020 pada tahun 2024. Puncaknya, pada tahun 2025, rata-rata bulanan pelaku LCT bahkan sempat menyentuh angka 9.720.
“Local Currency Transaction ini, menurut kami, merupakan inisiatif krusial yang harus terus dikembangkan, terlebih sejak momen ‘Liberation Day’ yang diterapkan oleh Presiden AS. Ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mempererat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” tegas Ruth dalam sesi pelatihan wartawan di Makassar, Jumat (21/5/2026).
Tak hanya jumlah pelaku, volume transaksi LCT juga mencatatkan peningkatan signifikan. Ruth menjelaskan bahwa banyak negara kini semakin gencar mengakselerasi kerja sama bilateral dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan dan investasi, melalui jaringan bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Dalam konteks ini, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara yang paling agresif dalam mendorong implementasi LCT, bahkan telah meraih pengakuan dari berbagai negara mitra.
Data menunjukkan, hingga April 2026, nilai transaksi LCT mencapai angka fantastis 22,61 miliar dolar AS. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 309 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 7,33 miliar dolar AS, menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa.
Peningkatan volume transaksi LCT ini, lanjut Ruth, merefleksikan semakin meluasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam aktivitas ekonomi dan keuangan global. Inisiatif ini krusial untuk memitigasi dampak turbulensi global, terutama yang dipicu oleh fluktuasi dolar AS, terhadap stabilitas transaksi perdagangan dan keuangan lintas negara.
“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, sebab kita menyadari dominasi mata uang tersebut dalam transaksi global. Namun, untuk negara-negara dengan volume transaksi besar yang memungkinkan penggunaan mata uang domestik secara langsung, mengapa harus melalui dolar AS terlebih dahulu?” pungkasnya.
Saat ini, negara mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT meliputi China, Jepang, dan Malaysia. Kontribusi terbesar dalam transaksi LCT berasal dari China yang mencapai 89 persen, diikuti oleh Jepang dengan 6 persen, dan Malaysia 3 persen.
Bank Indonesia melihat skema LCT sebagai katalisator untuk meningkatkan efisiensi biaya transaksi. Ini karena para pelaku usaha tidak lagi membutuhkan dolar AS sebagai mata uang perantara dalam perdagangan bilateral. Lebih jauh, LCT juga memacu diversifikasi eksposur mata uang, menguatkan pasar keuangan regional, dan memperluas partisipasi pelaku pasar di kawasan.
Ruth merinci bahwa implementasi LCT Indonesia dimulai sejak tahun 2018, diawali dengan Malaysia dan Thailand. Skema ini kemudian berkembang ke Jepang, China, dan Korea Selatan. Menggambarkan peta jalan selanjutnya, Ruth menambahkan, “Perkembangan inisiatif LCT oleh Bank Indonesia telah merangkul berbagai mitra strategis, termasuk Singapura dan India. Dalam waktu dekat, implementasi LCT akan diperluas ke Singapura, India, dan Arab Saudi, setelah penyusunan serta penyepakatan pedoman operasional yang jelas,” pungkasnya, menegaskan komitmen Bank Indonesia dalam memperkuat kerja sama mata uang lokal secara global.




