Membaca arah IHSG semester II/2026 usai rebalancing FTSE dan MSCI

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menghadapi periode volatilitas jangka pendek yang berkelanjutan pada semester II/2026. Tekanan ini utamanya dipicu oleh proses rebalancing sejumlah indeks global terkemuka, termasuk MSCI dan FTSE Russell, yang secara signifikan mendorong keluarnya dana investor asing dari pasar saham Indonesia.

Advertisements

Kondisi ini semakin nyata menyusul langkah FTSE Russell yang baru-baru ini melakukan “bersih-bersih” terhadap sejumlah saham emiten Indonesia. Dalam tinjauan kuartalan untuk periode Juni 2026, empat saham dipastikan terdepak dari indeks global bergengsi tersebut.

Emiten-emiten yang dimaksud adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ), PT Hillcon Tbk. (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA). Keputusan ini diambil karena saham-saham tersebut dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau tidak memenuhi kriteria free float yang memadai, bahkan masuk dalam kategori surveillance stocks screen.

Advertisements

Ajaib Sekuritas, melalui pernyataan resminya, menggarisbawahi dampak dari dikeluarkannya beberapa saham ini. Mereka menjelaskan bahwa penarikan saham tersebut otomatis menyebabkan penurunan bobot (weight) Indonesia dalam indeks FTSE Russell, yang pada gilirannya berpotensi memicu aksi jual bersih (net sell) dari berbagai passive fund global.

Data dari Ajaib menunjukkan bahwa sebelumnya, kapitalisasi pasar bersih free float dari 39 saham Indonesia dalam kategori large dan mid cap di indeks emerging markets FTSE Russell mencapai 0,88% dari total indeks. Namun, pasca keluarnya DSSA, bobot Indonesia langsung merosot menjadi 0,86% dari total indeks emerging markets FTSE Russell.

“Penurunan ini tentu berisiko memicu outflow signifikan dari investor institusi global yang secara ketat menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan investasi atau benchmark utama mereka,” demikian pernyataan Ajaib yang dikutip pada Selasa (26/5/2026).

Potensi outflow dana asing dari pasar saham domestik ini tidak dapat diremehkan. Ajaib Sekuritas memperkirakan bahwa dana yang keluar dari Vanguard FTSE Emerging Market ETF saja bisa mencapai US$27,72 juta, atau setara dengan sekitar Rp487,8 miliar. Bahkan, jika digabungkan, total potensi outflow dari passive fund diprediksi bisa menembus angka fantastis US$297 juta, atau sekitar Rp5,2 triliun.

“Tekanan jual yang masif ini diperkirakan akan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing, yakni pada 22 Juni 2026,” pungkas Ajaib.

Namun, di tengah potensi tekanan tersebut, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangannya. Ia menilai bahwa volatilitas di pasar saham domestik masih akan terus berlanjut dalam jangka pendek, setidaknya hingga seluruh proses penyesuaian portofolio oleh dana pasif global rampung sepenuhnya.

“Terkait apakah dampaknya sudah sepenuhnya price-in atau belum, bisa jadi belum tuntas. Para pelaku pasar masih harus melewati fase krusial hingga tanggal efektif rebalancing MSCI pada 29 Mei, sementara untuk FTSE efektifnya adalah pada 22 Juni,” jelas Nafan saat dihubungi, dikutip pada Selasa (26/5/2026).

Meski demikian, Nafan optimistis. Ia melihat bahwa peluang rebound IHSG pada semester II/2026 tetap terbuka lebar begitu fase rebalancing ini berakhir. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor pendorong yang siap menjadi katalis positif bagi kinerja pasar saham Indonesia.

Katalis pertama adalah meredanya tensi geopolitik global. Nafan secara spesifik menyoroti meredanya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang diyakini dapat secara signifikan memperbaiki sentimen investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk pasar saham emerging markets seperti Indonesia. Selain itu, kepastian arah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, juga menjadi faktor krusial yang dinanti. Terlebih lagi, valuasi saham-saham domestik saat ini sudah berada pada level yang dianggap cukup menarik atau murah.

Katalis kedua datang dari dalam negeri, yakni reformasi pasar modal Indonesia yang mulai membuahkan hasil positif dan mendapatkan respons baik dari lembaga-lembaga penyedia indeks global. Ini tercermin dari penerapan metode High Stock Concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), sebuah langkah proaktif untuk menyaring saham-saham yang memiliki kualitas free float dan likuiditas yang kurang memadai.

“Dengan adanya reformasi ini, persepsi investor global dalam jangka panjang tentu akan jauh lebih baik. Pasar saham kita akan menjadi lebih kredibel, tidak mudah dimanipulasi, dan terlindungi dari fluktuasi harga saham yang ekstrem akibat likuiditas semu,” imbuh Nafan, menyoroti dampak positif dari upaya perbaikan ini.

Disclaimer: Perlu ditekankan bahwa berita ini disajikan semata-mata sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk mengajak pembaca melakukan aksi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab dan hak prerogatif masing-masing pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi ini.

Ringkasan

IHSG diprediksi menghadapi volatilitas jangka pendek pada semester II/2026 akibat rebalancing indeks global MSCI dan FTSE Russell yang memicu keluarnya dana asing. Pengeluaran empat saham emiten Indonesia dari indeks FTSE menyebabkan penurunan bobot Indonesia serta potensi total arus modal keluar mencapai Rp5,2 triliun. Tekanan jual masif ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tanggal efektif rebalancing pada akhir Juni 2026.

Namun, pasar saham domestik tetap berpeluang bangkit kembali yang didorong oleh meredanya tensi geopolitik serta kepastian arah kebijakan suku bunga The Fed. Faktor internal seperti penerapan metode High Stock Concentration oleh Bursa Efek Indonesia juga dinilai akan meningkatkan kredibilitas pasar dalam jangka panjang. Valuasi saham yang sudah tergolong murah saat ini menjadi katalis tambahan bagi optimisme pemulihan pasar di paruh kedua tahun tersebut.

Advertisements

Also Read