Restrukturisasi anak usaha dinilai minim dampak, cek rekomendasi Sarana Menara (TOWR)

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Rencana PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) untuk membawa dua anak usahanya, yakni PT Solusi Tunas Pratama Tbk (IBST) dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (SUPR), melakukan delisting dan menjadi perusahaan tertutup (go private), dipastikan tidak memberikan dampak material terhadap kinerja keuangan perseroan.

Advertisements

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengungkapkan bahwa aksi korporasi tersebut tidak mengubah fundamental TOWR. Hal ini dikarenakan posisi TOWR yang sudah menjadi pemegang saham pengendali mayoritas di kedua entitas tersebut.

“Keputusan ini tidak memberikan dampak material karena saat ini TOWR sudah memiliki 99,95% saham IBST dan 99,92% saham SUPR,” ujar Harry kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Advertisements

Saat ini, TOWR tengah mempercepat proses restrukturisasi grup melalui langkah go private bagi IBST dan SUPR. Pihak SUPR sendiri telah mengantongi restu dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 20 Mei 2026. Sementara itu, IBST dijadwalkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 5 Juni 2026 untuk mengagendakan persetujuan serupa.

Prospek Bisnis TOWR di Tengah Pemulihan Industri

Di balik langkah restrukturisasi tersebut, Harry menilai prospek bisnis TOWR sepanjang tahun 2026 masih memiliki optimisme tinggi berkat perbaikan di sektor telekomunikasi. Perseroan diproyeksikan akan melakukan penambahan sekitar 500 menara baru sepanjang 2026 hingga 2027 dengan rasio tenancy masing-masing sebesar 1,6 kali.

Faktor pendorong utama pertumbuhan ini adalah peningkatan average revenue per user (ARPU) yang dialami oleh operator telekomunikasi. Kenaikan ARPU tersebut berpotensi memperkuat laba bersih operator, yang kemudian memberi ruang lebih leluasa bagi mereka untuk mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) demi perluasan cakupan jaringan.

“Perbaikan ARPU pada sektor telekomunikasi akan meningkatkan bottom line mereka, yang nantinya dialokasikan untuk capex guna memperluas area penetrasi jaringan,” jelas Harry. Peningkatan investasi infrastruktur dari operator telekomunikasi inilah yang menjadi katalis positif utama bagi TOWR sebagai penyedia menara.

Tantangan Ekonomi dan Rekomendasi Saham

Meski prospek dinilai cerah, Harry tetap mengingatkan para investor untuk mewaspadai sejumlah tantangan ekonomi makro. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lemahnya daya beli masyarakat, serta potensi tekanan inflasi yang tinggi menjadi sentimen negatif yang dapat membayangi industri telekomunikasi.

Menurut Harry, kondisi tersebut berpotensi menekan agresivitas operator dalam melakukan ekspansi jaringan dan investasi infrastruktur di masa depan. Kendati demikian, pandangan fundamental terhadap TOWR tetap positif.

Harry merekomendasikan investor untuk melakukan beli (buy) pada saham TOWR dengan target harga di level Rp 1.050 per saham.

TOWR Chart by TradingView

Ringkasan

Rencana PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) untuk membawa anak usahanya, yakni IBST dan SUPR, menjadi perusahaan tertutup (go private) dinilai tidak memberikan dampak material terhadap kinerja keuangan perseroan. Hal ini dikarenakan TOWR telah memegang mayoritas saham di kedua entitas tersebut, sehingga restrukturisasi ini tidak mengubah fundamental perusahaan. Saat ini, proses perubahan status sedang dipercepat melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham masing-masing entitas.

Di sisi lain, prospek bisnis TOWR tetap optimistis berkat pemulihan sektor telekomunikasi dan rencana penambahan menara baru yang didorong oleh peningkatan belanja modal para operator. Meski terdapat tantangan ekonomi makro seperti tekanan inflasi dan lemahnya daya beli, fundamental TOWR dinilai tetap kuat. Oleh karena itu, analis merekomendasikan beli (buy) untuk saham TOWR dengan target harga Rp 1.050 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags