BANYU POS JAKARTA. Lonjakan harga logam timah di pasar global yang terjadi selama tahun 2026 berjalan menjadi katalis positif bagi kelangsungan usaha PT Timah Tbk (TINS). Emiten anggota Holding Pertambangan BUMN (MIND ID) ini berpotensi memperoleh banyak manfaat dari kenaikan harga komoditas tersebut.
Mengutip situs Trading Economics, harga timah telah melesat 31,07% year to date (ytd) atau sejak awal tahun ke level US$ 53.156 per ton pada Jumat (17/7/2026) pukul 18.20 WIB.
Lonjakan harga timah berjangka di pasar global sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasokan dan permintaan. Dari segi permintaan, pasar masih menghadapi keterbatasan produksi akibat gangguan di sejumlah negara produsen utama, pengetatan regulasi pertambangan, dan rendahnya tingkat persediaan timah di bursa logam dunia.
Astra International (ASII) Dapat Restu Buyback Rp 8 Triliun, Cek Rekomendasi Sahamnya
Sedangkan dari sisi permintaan, kebutuhan timah dari berbagai sektor industri seperti elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, pusat data, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tetap tinggi. Apalagi, timah merupakan bahan baku utama solder elektronik.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan harga timah jelas menjadi sentimen positif bagi TINS karena berpotensi mendongkrak harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dan memperlebar margin laba. Ini dengan catatan volume produksi dan penjualan bijih timah dan logam timah TINS tetap terjaga.
“Kenaikan harga komoditas dapat memberikan operating leverage yang cukup besar terhadap laba perusahaan,” ujar dia, Jumat (17/7/2026).
Meski begitu, penguatan harga timah tidak otomatis sepenuhnya tercermin dalam kinerja apabila terdapat kendala operasional, seperti keterlambatan produksi, cuaca, perizinan, atau kenaikan biaya produksi. Oleh sebab itu, penguatan harga timah pada 2026 memang sejalan dengan fundamental TINS, namun tetap perlu didukung oleh eksekusi operasional yang baik agar manfaatnya dapat dimaksimalkan.
Rupiah Mulai Menguat, Simak Proyeksi dan Sentimen Penggerak Pekan Depan
Prospek kinerja TINS pada semester II-2026 juga diyakini masih cukup konstruktif apabila harga timah mampu bertahan di level tinggi dan permintaan global tetap solid. Berkaca dari situ, TINS berpeluang mencatatkan pertumbuhan pendapatan maupun laba yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
Terlepas dari itu, TINS perlu mewaspadai beberapa risiko yang bisa saja terjadi pada masa mendatang. Di antaranya adalah risiko berbaliknya tren harga timah apabila kondisi pasokan global kembali normal atau permintaan industri melemah, perlambatan ekonomi global yang dapat mengurangi konsumsi sektor elektronik, hingga kenaikan biaya energi dan jasa pertambangan.
TINS juga patut mewaspadai risiko operasional seperti gangguan cuaca, kualitas cadangan, maupun kelancaran aktivitas pertambangan. Tak hanya itu, perubahan regulasi dan kebijakan ekspor juga berpotensi berdampak pada operasional perusahaan.
“Prospek TINS tetap positif, namun masih sangat bergantung pada keseimbangan antara harga komoditas dan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja operasional,” jelas Nafan.
Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham TINS dengan target harga di rentang Rp 3.600 per saham, Rp 3.780 per saham, dan Rp 4.350 per saham.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut, secara teknikal pergerakan saham TINS masih berada dalam fase uptrend dan berada di atas kluster MA20 dan MA60. Indikator MACD masih terlihat menguat di area positif dengan Stochastic yang akan cenderung flat di area overbought.
Dia pun merekomendasikan trading buy saham TINS dengan support di level Rp 3.400 per saham dan resistance di level Rp 3.650 per saham serta target harga di level Rp 3.800—Rp 3.930 per saham.




