BANYU POS Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026), tertekan oleh kembali mencuatnya kekhawatiran atas besarnya belanja investasi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi raksasa serta lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average dibuka turun 463 poin atau 0,89% ke level 51.755,54.
Indeks S&P 500 melemah 80,7 poin atau 1,08% menjadi 7.418,29, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 445,4 poin atau 1,73% ke posisi 25.245,54.
Kinerja United Tractors (UNTR) Hingga Mei 2026 Tersendat, Begini Prospek Sahamnya
Sentimen negatif dipicu laporan keuangan kuartal II-2026 dari Alphabet dan Tesla, dua anggota pertama kelompok “Magnificent Seven” yang merilis kinerja musim ini.
Alphabet memang membukukan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) terbaik sepanjang sejarah perusahaan.
Namun, hasil tersebut gagal meredakan kekhawatiran investor karena perhatian justru tertuju pada rencana peningkatan belanja modal (capital expenditure) untuk pengembangan AI.
Akibatnya, saham induk Google itu turun 5,4% pada perdagangan prapasar.
Sementara itu, saham Tesla merosot 7,7% setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal II untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.
Astra International (ASII) Siapkan Strategi Tangkap Peluang Bisnis di GIIAS 2026
“Alphabet menghabiskan ratusan miliar dolar untuk mempertahankan posisinya dalam perlombaan AI,” kata Investment Director AJ Bell, Russ Mould.
“Namun, masih ada tingkat skeptisisme yang tinggi mengenai kemampuan investasi tersebut menghasilkan imbal hasil yang sepadan.”
Investor kini menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar lainnya pekan depan untuk melihat apakah belanja AI dalam jumlah besar benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang dapat membenarkan valuasi saham yang sudah sangat tinggi.
Di luar sektor teknologi, meningkatnya ketegangan geopolitik juga menambah tekanan terhadap pasar.
Setelah sebelumnya perhatian tertuju pada Selat Hormuz, kini fokus investor bergeser ke Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran membuka front baru dengan menyerang kapal-kapal di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
BUMA Grup (DOID) Belum Alihkan Sisa Saham Hasil Buyback Sebanyak 293,84 Juta Saham
Presiden AS Donald Trump menyatakan, Iran akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap serangan yang dilakukan milisi Houthi di Yaman.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak Brent melonjak mendekati US$ 100 per barel, level tertinggi sejak awal Juni.
Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga naik ke level tertinggi dalam 17 bulan, seiring meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga lebih cepat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 35% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli, naik tajam dari hanya 12% sepekan lalu. Peluang kenaikan serupa pada September kini mencapai 55%.
Data ekonomi terbaru turut memperkuat ekspektasi tersebut setelah jumlah klaim baru tunjangan pengangguran di AS turun tajam pekan lalu, menandakan pasar tenaga kerja masih kuat sehingga memberi ruang bagi bank sentral untuk tetap fokus menjinakkan inflasi.
Pasar Tokenisasi Aset Indonesia Diproyeksi Tembus US$ 88 Miliar pada 2030
Di sisi korporasi, pergerakan saham sektor semikonduktor berlangsung bervariasi. Saham Texas Instruments turun 4,8% meski perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartalan melampaui ekspektasi analis.
Sebaliknya, saham Lockheed Martin naik 4,8% setelah produsen alat pertahanan tersebut menaikkan proyeksi penjualan dan laba untuk tahun 2026.




