Kecemasan geopolitik dan isu BI tekan rupiah, cek proyeksi Jumat (31/7)

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih sulit keluar dari tren pelemahan akibat gempuran ketidakpastian geopolitik global serta dinamika domestik.

Advertisements

Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 38 atau 0,21% menjadi Rp 18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, kurs rupiah JISDOR justru menguat Rp 9 atau 0,05% menjadi Rp 18.078 per dolar AS.

Advertisements

Simak Prospek Emiten BUMN20 Pasca Evaluasi Indeks

Penguatan tipis pada kurs acuan tersebut belum mampu membalikkan pelemahan rupiah yang terjadi sepanjang sepekan terakhir.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi penekan utama bagi mata uang berisiko.

Eskalasi konflik kian mengancam kelancaran pasokan energi dunia seiring penutupan jalur perairan strategis dan blokade laut.

Selain itu, langkah The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi turut memperkuat keperkasaan dolar AS.

Ibrahim menyoroti pernyataan Ketua Fed Kevin Warsh yang menyebut pengetatan pasar telah membantu pembuat kebijakan dan komite akan bertindak jika inflasi meningkat.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang diperkirakan melambat ke kisaran 4,8% hingga 4,9%.

Ibrahim mengamati bahwa perlambatan tersebut dipicu oleh tingginya biaya produksi, pengetatan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal domestik.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 yang sebesar 4,9% sampai 5,1% juga berada di bawah target pemerintah.

Sentimen internal ini makin diperberat oleh goncangan pimpinan di bank sentral.

“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah bersiap mengantisipasi rilis sejumlah data ekonomi penting nasional pada pekan depan.

Rilis data inflasi Juli, cadangan devisa, Indeks Kepercayaan Konsumen, hingga PDB kuartal kedua akan menjadi petunjuk arah pasar selanjutnya.

Untuk perdagangan Jumat (31/7/2026), Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah.

Rupiah diperkirakan bakal diperdagangkan pada rentang Rp 18.110 – Rp 18.160 per dolar AS.

Harga Komoditas Energi Masih Tertekan, Diproyeksikan Turun hingga Akhir 2026

Advertisements

Also Read

Tags