Laba emiten properti Aguan melonjak ratusan persen, simak rekomendasi dan prospeknya

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Kinerja emiten properti terafiliasi Sugianto Kusuma alias Aguan tercatat positif per semester I 2026.

Advertisements

PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) kompak mengantongi laba ratusan persen di enam bulan pertama tahun 2026.

PANI mengantongi laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 1,68 triliun per kuartal II 2026, naik 483,78% year on year (YoY) dari Rp 285,86 miliar.

Advertisements

Kenaikan laba bersih bermula dari raihan pendapatan neto yang tercatat Rp 2,92 triliun per kuartal II 2026. Ini naik 77,61% dari Rp 1,64 trliun pada periode sama tahun lalu.

IHSG Naik 0,80% ke 6.236, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing, Jumat (31/7)

Segmen penjualan tanah dan bangunan menyumbang paling besar yaitu Rp 2,86 triliun. Lalu, segmen sewa berkontribusi Rp 34,77 miliar dan segmen lainnya Rp 25,56 miliar.

Anak usahanya, CBDK mengantongi laba bersih Rp 1,68 triliun per kuartal II 2026, naik 225,49% secara tahunan alias year on year (YoY).

Pendapatan neto tercatat Rp 2,2 triliun per Juni 2026. Ini naik 84,18% dari Rp 1,19 triliun pada periode sama tahun lalu.

Segmen penjualan tanah dan bangunan berkontribusi mayoritas yaitu Rp 2,15 triliun. Lalu, segmen sewa menyumbang Rp 34,7 miliar dan segmen lainnya Rp 16,71 miliar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari melihat, kinerja PANI dan CBDK ditopang oleh kuatnya monetisasi kawasan PIK2. PANI didorong dari kuatnya penjualan segmen residensial yang menjadi kontributor utama marketing sales. 

“Tingginya penjualan tersebut kemudian berlanjut pada meningkatnya serah terima unit kepada pembeli sehingga mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Di sisi lain, pengembangan kawasan PIK2 yang semakin matang juga membuat permintaan properti tetap terjaga meski pasar masih menghadapi tantangan suku bunga tinggi. 

Sementara itu, CBDK memperoleh dorongan dari penjualan lahan komersial, Bizpark, dan produk residensial seiring semakin berkembangnya ekosistem CBD PIK2. 

“Namun, tetap perlu mencermati kualitas laba karena arus kas operasional masih relatif lemah dibandingkan pertumbuhan laba,” paparnya.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie mengatakan, pendorong kinerja PANI berasal dari backlog marketing sales tahun-tahun sebelumnya dan juga pendapatan one off sebesar 1,2 triliun dari PT Fin Centerindo Tiga yang bersifat one-off. 

“Peningkatan kepemilikan PANI terhadap CBDK juga membuat laba PANI ikut meningkat efek dari konsolidasi perusahaan terhadap perusahaan induk,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/6).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat, keduanya masih sangat berpotensi untuk melanjutkan kenaikan kinerja di semester II 2026. PANI didorong akselerasi penjualan lahan komersial dan residensial PIK2 dari segmen menengah atas yang tidak sensitif suku bunga. 

Sementara, CBDK didorong monetisasi aset CBD yang semakin optimal seiring meningkatnya operasional NICE dan pipeline tenant yang terus bertambah. 

“Faktor utama keberlanjutan adalah ekosistem PIK2 yang terus berkembang dengan infrastruktur semakin lengkap yang menarik pembeli dan tenant secara organik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Menurut Abida, dampak dari suku bunga tinggi ke kedua emiten itu terbatas karena segmen target keduanya adalah konsumen kelas atas dan korporasi. 

“Risiko yang lebih relevan di semester II 2026 adalah kepastian timeline penyelesaian infrastruktur kawasan dan kemampuan eksekusi pipeline penjualan yang sudah terbentuk,” paparnya.

Brigita melihat, PANI pada semester II 2026 masih cukup positif seiring target marketing sales yang baru tercapai sekitar 45%, sehingga masih terdapat ruang pertumbuhan pada paruh kedua. 

Katalis utamanya berasal dari berlanjutnya pengembangan PIK2 dan membaiknya aktivitas ekonomi di kawasan. 

“Namun, suku bunga yang masih tinggi, daya beli yang belum pulih sepenuhnya, serta kondisi ekonomi global tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi kecepatan penjualan,” katanya.

Sedangkan, CBDK prospeknya juga masih menarik karena didukung semakin aktifnya kawasan CBD PIK2 melalui operasional NICE, hadirnya institusi keuangan, serta peningkatan konektivitas dari Jalan Tol KATARAJA. Faktor-faktor tersebut berpotensi mendorong permintaan lahan komersial & aktivitas bisnis.

“Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati keberlanjutan penjualan dan kualitas arus kas di tengah kondisi pasar properti yang masih menantang,” tuturnya.

Untuk PANI, koreksi harga saham PANI dan CBDK lebih dari 50% sejak awal tahun 2026 membuat saham keduanya menarik. Namun, tetap perlu mencermati perbaikan arus kas agar pertumbuhan tersebut berkelanjutan. 

“Selama pengembangan kawasan PIK2 berjalan sesuai rencana, peluang re-rating valuasi masih terbuka,” paparnya.

Adrian memandang, kinerja PANI di paruh kedua akan lebih moderat mengingat pertumbuhan yang besar di kuartal II ditopang oleh pendapatan one-off. Pertumbuhannya di tahun 2026 akan tetap positif didorong oleh kontribusi marketing sales yang terjaga. 

Jika dibandingkan dengan peers, seluruh ekosistem properti yang berfokus terhadap marketing sales akan menghadapi tantangan, termasuk PANI. Namun, seberapa besar tantangan ini tergantung dari segmen pembelinya. 

PANI akan lebih resilien dibanding emiten yang berfokus pada marketing sales terhadap segmen menengah ke bawah, mengingat juga capaian marketing sales PANI di semester pertama 2026 sudah mencapai 45% dari total target tahun 2026.

“Kami menilai valuasi PANI saat ini menarik berdasarkan metrik historis PE Band dan PBV perusahaan 3 tahun terakhir diperdagangkan di area SD-2 dan SD-1,” katanya.

Adrian pun merekomendasikan beli untuk PANI dengan target harga Rp 8.500 per saham. 

Spread Yield Obligasi Jangka Pendek & Panjang Menyempit, Investor Perlu Cermati Ini

Advertisements

Also Read

Tags