Harga minyak melonjak ke US$ 90 per barel, kekhawatiran gangguan pasokan kian menguat

Hikma Lia

BANYU POS  NEW YORK. Harga minyak dunia kembali menguat pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026) waktu Amerika Serikat dan membukukan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2026. 

Advertisements

Lonjakan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak global akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Berdasarkan data perdagangan, kontrak minyak mentah Brent ditutup naik US$ 1,09 atau 1,2% ke level US$ 90,12 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,08 atau 1,3% menjadi US$ 84,67 per barel.

Advertisements

Sepanjang Juli 2026, harga Brent melonjak 24%, sedangkan WTI naik 21%, menjadi kenaikan bulanan terbesar bagi kedua acuan tersebut sejak Maret tahun ini.

Iran Peringatkan Dunia Harga Minyak Bisa Tembus US$ 200 per Barel

Pasar kini lebih mencermati gangguan arus pengiriman minyak dibanding perkembangan perang itu sendiri.

Pergerakan harga minyak kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh data aktivitas pelayaran di kawasan Timur Tengah. Analis SEB Research, Ole Hvalbye, mengatakan perhatian pelaku pasar telah bergeser dari konflik militer menuju dampaknya terhadap distribusi minyak global.

Menurut dia, pasar saat ini lebih sensitif terhadap perubahan lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dibandingkan perkembangan perang secara langsung.

Konflik yang berlangsung di Iran sejak akhir Februari telah memangkas lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam dunia. Gangguan tersebut menghambat distribusi jutaan barel minyak dari kawasan Timur Tengah.

Laporan kantor berita Fars menyebut Garda Revolusi Iran menghentikan dua kapal tanker yang hendak melintasi Selat Hormuz, sementara empat kapal lainnya mengubah rute pelayaran.

Meski demikian, data pelacakan kapal Kpler menunjukkan dua kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak dari Teluk Persia berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Jumat. Namun, lalu lintas di jalur tersebut masih tergolong minim.

Di sisi lain, sebanyak 29 kapal komoditas tercatat melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Kamis (30/7), yang menjadi jalur alternatif ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global.

AS Sebut Kecil Kemungkinan Harga Minyak Tembus US$ 200 per Barel, Ini Penyebabnya

Iran dan Oman juga masih melanjutkan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Namun, Teheran dilaporkan tetap menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama jalur pelayaran tersebut.

Risiko geopolitik juga masih menjadi penopang harga minyak. Gelber & Associates menilai premi risiko geopolitik tetap tinggi, terutama di titik-titik pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.

Selain itu, stok minyak mentah Amerika Serikat yang turun ke level terendah sejak 2018 turut memperketat pasokan global. Data Energy Information Administration (EIA) juga menunjukkan produksi minyak AS pada Mei turun sekitar 2% dibanding rekor tertinggi pada April.

Di saat yang sama, ekspor minyak mentah AS justru mencetak rekor tertinggi untuk bulan kedua berturut-turut. Namun, kenaikan harga minyak mulai menekan konsumsi energi. Permintaan minyak mentah dan produk turunannya di AS turun lebih dari 3,5% pada Mei menjadi sekitar 20,07 juta barel per hari, level terendah sejak Maret 2025.

Ketegangan geopolitik juga meluas ke wilayah lain. Serangan pesawat nirawak yang memicu kebakaran pada dua kapal gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran Terusan Suez.

Sementara itu, Arab Saudi tengah mengupayakan pembentukan koalisi untuk memperkuat pengamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.

Di kawasan lain, militer Ukraina mengklaim menyerang kilang minyak Volgograd di Rusia hingga memicu kebakaran. Sementara di Kazakhstan, operator ladang minyak Tengiz kembali mengekspor minyak melalui Pelabuhan Batumi di Georgia untuk pertama kalinya sejak Maret.

Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Saham Energi di BEI Berpotensi Diuntungkan

Meski perusahaan energi Amerika Serikat kembali menambah jumlah rig pengeboran untuk keenam kalinya dalam tujuh pekan terakhir, pelaku pasar masih memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi.

Survei Reuters terhadap 31 ekonom dan analis menunjukkan harga rata-rata minyak Brent pada 2026 diperkirakan mencapai US$ 85,22 per barel, lebih tinggi dibanding proyeksi bulan sebelumnya sebesar US$ 84,50 per barel.

Prospek tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa ketatnya pasokan dan tingginya risiko geopolitik masih akan menopang harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.

Advertisements

Also Read

Tags