Indosat naikkan capex 77% usai menang lelang frekuensi 2026, siap ekspansi 5G

Hikma Lia

PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison menambah alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini sekitar 77% setelah memenangkan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada tahun ini.

Advertisements

“Kami juga meningkatkan panduan belanja modal (capex). Semula kami mengalokasikan Rp 13 triliun, kini meningkat menjadi Rp 23 triliun,” kata Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026, dikutip Selasa (4/8).

Vikram menjelaskan, tambahan investasi sebesar Rp 10 triliun tersebut sepenuhnya akan dialokasikan untuk pengembangan jaringan 5G. Ini sekaligus mendukung kemenangan Indosat dalam lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang diumumkan pada 10 Juli 2026.

Advertisements

Menurutnya, tambahan spektrum pada pita frekuensi tersebut menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan bisnis Indosat. Perusahaan akan memanfaatkan spektrum tersebut untuk meningkatkan kualitas layanan.

“Kami sangat disiplin dalam memperoleh spektrum yang memang kami butuhkan, dan kini fokus kami adalah memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh hampir 100 juta pelanggan kami,” ujarnya.

Vikram mengatakan perusahaan akan memanfaatkan tambahan spektrum tersebut untuk memperkuat identitas digital pelanggan, mempercepat pembangunan infrastruktur digital, serta meningkatkan kualitas pengalaman pengguna.

Sebelum memanangkan lelang frekuensi tahun ini, Indosat memiliki spektrum sebesar 135 MHz. Setelah memperoleh tambahan 20 MHz pada pita 700 MHz dan 60 MHz pada pita 2,6 GHz, total spektrum Indosat meningkat menjadi 215 MHz atau sekitar 30,2% dari total spektrum seluler nasional. Pada seleksi pita 2,6 GHz, Indosat menempati peringkat kedua setelah Telkomsel.

Kinerja Semester I Jadi Modal Ekspansi

Langkah agresif meningkatkan investasi ditopang oleh kinerja keuangan yang terus membaik pada paruh pertama tahun ini.

Indosat membukukan pendapatan sebesar Rp 30,7 triliun hingga Juni 2026, meningkat meningkat 13,1% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatat, laba periode berjalan melonjak menjadi Rp 4,42 triliun dibandingkan Rp 2,51 triliun pada semester I 2025.

Dalam rilisnya, Indosat menyebut pendapatan tumbuh 13,1% secara tahunan. Sementara EBITDA meningkat 14% menjadi Rp 14,6 triliun dengan margin EBITDA mencapai 47,6%. Laba bersih yang dinormalisasi juga meningkat 49,2% menjadi Rp 3,2 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan trafik data sebesar 19,9% dan peningkatan average revenue per user (ARPU) sebesar 17,3% menjadi Rp 46 ribu. Jumlah pelanggan seluler juga tetap terjaga di level 93,4 juta pelanggan.

Fondasi Perluasan 5G

Direktur dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat Reski Damayanti mengatakan tambahan spektrum yang diperoleh dalam lelang akan meningkatkan kualitas jaringan.

“Dengan adanya 700 MHz akan meningkatkan

coverage (jangkauan layanan) dan 2,6 GHz akan meningkatkan kapasitas,” kata Reski.

Ia mengatakan kombinasi kedua spektrum tersebut akan menjadi fondasi perluasan layanan 5G. Ini sekaligus membuka peluang monetisasi baru, terutama melalui layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan berbagai layanan digital berbasis 5G.

“Dengan tambahan spektrum yang semakin kuat, kita melihat tidak hanya meningkatkan kapasitas jaringan tapi juga membuka ruang untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih baik kepada para pelanggan kami,” ujarnya.

Perusahaan melihat penambahan spektrum ini menjadi fondasi penting bagi perluasan layanan Indosat 5G. Sebab, dengan semakin meningkatnya layanan 5G maka akan meningkatkan inovasi

digital.

“Akan semakin banyak (inovasi) dan diharapkan mendukung transformasi digital Indonesia di masa depan,” katanya.

Advertisements

Also Read

Tags