KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada Semester II-2026 masih menghadapi tantangan setelah saham perseroan dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index. Tekanan sentimen dari perubahan indeks tersebut terjadi di tengah kinerja laba HEAL yang masih tertekan.
Pada Semester I-2026, pendapatan HEAL tumbuh 6,51% secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp3,60 triliun. Namun, laba bersih perseroan justru turun 14,08% YoY menjadi Rp193,17 miliar akibat kenaikan beban usaha.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, keluarnya HEAL dari MSCI berpotensi memberikan tekanan terhadap saham perseroan. Pasalnya, kondisi tersebut terjadi ketika HEAL juga menghadapi tantangan fundamental.
Peluang Kenaikan Bunga The Fed Mengecil, Harga Emas Spot Naik Tipis, Senin (17/8)
“Eksklusi dari MSCI Global Small Cap punya dampak signifikan soalnya HEAL sudah teridentifikasi sebagai emiten challenged secara fundamental,” kata Wafi kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, tingginya eksposur HEAL terhadap pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menjadi salah satu tantangan utama. Tarif Indonesia Case-Based Groups (INA-CBGs) yang bersifat tetap membuat ruang perseroan untuk menaikkan harga layanan menjadi terbatas.
Kondisi tersebut membuat tekanan dari sisi MSCI dan fundamental menjadi double headwind bagi saham HEAL.
Wafi menilai prospek kinerja HEAL pada Semester II-2026 masih menantang. Pertumbuhan pendapatan yang tidak diikuti peningkatan laba menunjukkan adanya tekanan terhadap margin perseroan.
“Kenaikan beban usaha yang lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan membuat margin dan laba masih tertekan. Kondisi ini berpotensi berlanjut jika belum ada perubahan pada tarif INA-CBGs,” jelasnya.
Menurut Wafi, kondisi tersebut cenderung bersifat struktural, bukan sekadar tekanan sementara. Tanpa adanya revisi tarif INA-CBGs, pola pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan laba berpotensi berlanjut.
Adapun revisi tarif INA-CBGs menjadi salah satu katalis yang paling berpengaruh terhadap pemulihan profitabilitas HEAL. Namun, Wafi menilai waktu pelaksanaannya masih belum pasti dan berada di luar kendali manajemen.
Sementara itu, dari sisi internal, HEAL masih memiliki ruang untuk meningkatkan efisiensi biaya serta memperbesar kontribusi pasien non-BPJS yang memiliki margin lebih baik.
“HEAL sangat butuh untuk meningkatkan operational efficiency, bukan mengandalkan revenue growth semata,” ujarnya.
Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, dampak keluarnya HEAL dari MSCI kemungkinan lebih terasa dalam jangka pendek. Investor yang menggunakan indeks sebagai acuan perlu melakukan penyesuaian portofolio sehingga tekanan jual masih dapat berlanjut menjelang tanggal efektif rebalancing.
Namun, setelah proses rebalancing selesai, pengaruh MSCI terhadap harga saham diperkirakan mulai berkurang. Selanjutnya, investor akan kembali mencermati kinerja fundamental perseroan.
“Perubahan MSCI ini dampaknya lebih besar ke sentimen dan harga saham dalam jangka pendek, sementara untuk jangka panjang, investor akan kembali melihat fundamental,” kata Kevin.
Ia menilai pendapatan HEAL masih berpeluang tumbuh pada Semester II-2026 seiring dengan bisnis rumah sakit yang tetap mencatatkan pertumbuhan. Tantangan utama berada pada biaya yang meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan sehingga menekan margin dan laba bersih.
Katalis pemulihan laba HEAL, lanjut Kevin, antara lain berasal dari peningkatan jumlah pasien dan utilisasi kapasitas rumah sakit yang dibarengi pengendalian biaya lebih baik. Peningkatan kontribusi pasien non-BPJS serta layanan bernilai lebih tinggi juga berpotensi membantu memperbaiki margin.
Dari sisi saham, Kevin masih melihat peluang rebound setelah tekanan akibat sentimen MSCI mulai mereda. Namun, penguatan yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari perbaikan kinerja laba.
“Kalau Semester II menunjukkan margin dan laba mulai pulih sementara pendapatan tetap tumbuh, pasar akan punya alasan yang lebih kuat untuk kembali mengakumulasi sahamnya,” jelas Kevin.
Untuk saat ini, Kevin memilih bersikap wait and see terhadap saham HEAL. Investor dapat mencermati kemampuan saham bertahan di area support sekitar Rp700 per saham.
Sementara itu, Wafi juga merekomendasikan strategi wait and see terhadap HEAL. Menurutnya, investor perlu menunggu adanya perbaikan fundamental sebelum kembali meningkatkan eksposur pada saham rumah sakit tersebut.
Bitcoin Masih Tertekan, Intip Prospeknya hingga Akhir 2026




