BI perkuat instrumen stabilitas, rupiah menguat terhadap dolar AS Kamis (20/8) pagi

Hikma Lia

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan performa yang cukup impresif pada awal perdagangan Kamis pagi, 20 Agustus 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari pasar spot Bloomberg pada pukul 10.05 WIB, mata uang Garuda terpantau mengalami penguatan sebesar 0,23 persen, yang menempatkan rupiah berada di level Rp 17.799 per dolar AS. Pergerakan positif ini menjadi kelanjutan dari tren apresiasi yang terjadi pada hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, rupiah di pasar spot juga telah mencatatkan penguatan sebesar 0,12 persen secara harian, di mana kala itu rupiah bertengger di level Rp 17.840 per dolar AS. Sebelum mencapai level Rp 17.799 pada pertengahan pagi, pergerakan rupiah pada awal pembukaan perdagangan Kamis pagi juga sempat mencatatkan penguatan sebesar 0,16 persen, yang membawa mata uang domestik ini ke posisi Rp 17.809 per dolar AS.

Advertisements

Penguatan nilai tukar rupiah ini dianalisis secara mendalam oleh para pelaku pasar dan pengamat ekonomi. Salah satunya adalah Jessica Tasijawa, seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas. Dalam riset terbarunya yang dirilis pada Kamis, 20 Agustus 2026, Jessica menyoroti bahwa salah satu faktor utama yang menyokong stabilitas dan penguatan rupiah saat ini adalah langkah taktis Bank Indonesia (BI) dalam memperkuat instrumen stabilisasi nilai tukar. Bank sentral Indonesia dinilai sangat progresif dalam mengoptimalkan instrumen non-suku bunga guna membentengi mata uang domestik dari tekanan eksternal tanpa harus mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satu langkah konkret yang diambil oleh Bank Indonesia adalah dengan memperluas skema insentif premi untuk foreign exchange (FX) swap hedging. Berdasarkan kebijakan terbaru, BI memutuskan untuk memperluas insentif premi tersebut sebesar 12,5 persen. Langkah ini dinilai sebagai terobosan penting karena sebelumnya insentif premi FX swap hedging hanya terbatas pada portfolio inflows atau aliran modal masuk di sektor portofolio saja. Namun, mulai September 2026 mendatang, Bank Indonesia memperlebar cakupan insentif tersebut sehingga turut mencakup pinjaman luar negeri yang dilakukan oleh sektor perbankan serta investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Selain perluasan cakupan subjek penerima insentif, BI juga memberikan fleksibilitas berupa rollover dalam sisa periode kontrak dengan jangka waktu hingga tiga tahun.

Advertisements

Kebijakan stabilisasi Bank Indonesia tidak hanya berhenti pada perluasan insentif premi FX swap hedging saja. Bank sentral juga meluncurkan stimulus tambahan berupa pemberian insentif domestic non-deliverable forward (DNDF) sebesar 15 persen. Di samping itu, Bank Indonesia juga menyediakan insentif FX swap dan DNDF sebesar 10 persen yang disalurkan secara khusus melalui skema local currency transaction (LCT). Skema LCT ini dirancang untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral antara Indonesia dengan negara-negara mitra, sehingga ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam transaksi internasional dapat dikurangi secara bertahap.

Menurut analisis Jessica Tasijawa, perluasan berbagai insentif ini memberikan dampak yang sangat positif bagi pengelolaan moneter di dalam negeri. Kebijakan ini memberikan ruang yang lebih luas bagi Bank Indonesia untuk memperdalam likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestik. Dengan likuiditas valas yang lebih dalam dan kuat, Indonesia mampu menarik sumber aliran modal masuk (inflow) yang jauh lebih terdiversifikasi. Diversifikasi sumber pendanaan asing ini sangat penting karena dapat mengurangi ketergantungan Bank Indonesia pada instrumen yield atau imbal hasil yang tinggi untuk menjaga daya tarik rupiah di mata investor asing. Dengan demikian, beban biaya moneter BI dapat ditekan tanpa harus mengorbankan stabilitas nilai tukar.

Jessica Tasijawa juga menambahkan bahwa kondisi pasar domestik yang berangsur membaik memberikan fleksibilitas dan ruang yang lebih besar bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan di level yang ada saat ini. Meskipun ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah terpantau masih sangat tinggi dan berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan global, Bank Indonesia dinilai berhasil menggeser bauran kebijakannya secara taktis. Fokus kebijakan bank sentral kini mengarah pada upaya stabilisasi rupiah yang lebih terarah serta penerapan kebijakan makroprudensial yang bersifat pro-growth atau mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Kendati Bank Indonesia saat ini lebih mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Mirae Asset Sekuritas melihat bahwa peluang untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) sebenarnya masih tetap terbuka di masa mendatang. Ruang kenaikan suku bunga ini akan menjadi opsi yang realistis terutama jika potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Funds Rate (FFR), tetap dipertahankan oleh pengambil kebijakan di AS. Jika FFR kembali naik, hal tersebut berpotensi mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) secara global, yang pada akhirnya akan menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, untuk saat ini, urgensi untuk melakukan pengetatan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan dinilai masih relatif terbatas karena efektivitas instrumen non-suku bunga BI yang berjalan dengan optimal.

Lebih lanjut, Jessica Tasijawa menjelaskan beberapa kondisi spesifik yang dapat membuat opsi kenaikan suku bunga acuan menjadi sangat relevan bagi Bank Indonesia. Kebijakan pengetatan moneter tersebut kemungkinan besar akan diambil apabila nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang signifikan hingga melampaui level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Selain faktor pergerakan nilai tukar, laju inflasi domestik juga menjadi indikator krusial yang dipantau ketat oleh BI. Jika inflasi nasional kembali merangkak naik dan berada di atas level 3,5 persen hingga akhir tahun 2026, maka kenaikan suku bunga acuan akan menjadi langkah penyelamatan yang harus diambil. Risiko kenaikan inflasi ini terutama dipicu oleh potensi lonjakan harga pangan akibat dampak dari fenomena cuaca El Nino yang mengganggu produktivitas sektor pertanian, serta fluktuasi harga minyak mentah global yang tetap tinggi.

Di sisi lain, sentimen positif dari penguatan nilai tukar rupiah di pasar spot juga memberikan stimulus yang baik bagi kinerja pasar modal dalam negeri. Pada perdagangan Kamis pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak menguat di zona hijau. Kenaikan indeks saham acuan domestik ini turut ditopang oleh performa apik dari sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam jajaran indeks LQ45. Beberapa saham yang berhasil mencatatkan kenaikan tertinggi atau menjadi top gainers pada indeks LQ45 pada perdagangan Kamis pagi ini antara lain adalah saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Aktivitas transaksi yang bergairah di lantai bursa ini mencerminkan optimisme para pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional yang ditopang oleh bauran kebijakan moneter Bank Indonesia yang solid dan akomodatif.

Advertisements

Also Read

Tags