IHSG Melesat 3,55% Sepekan, Simak Proyeksi Arah Pekan Depan

Hikma Lia

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja gemilang pada penghujung pekan ini. Pada akhir perdagangan Jumat (21/8/2026), indeks benchmark pasar modal Indonesia tersebut ditutup menguat sebesar 0,37% atau bertambah sebanyak 24,10 poin untuk parkir di level 6.525,69. Apabila diakumulasikan dalam kurun waktu sepekan terakhir, IHSG telah menunjukkan performa yang sangat impresif dengan mencatatkan lonjakan sebesar 3,55%. Performa ini mencerminkan kembalinya kepercayaan pasar dan optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi domestik di tengah berbagai dinamika global yang terjadi.

Advertisements

Kinerja IHSG dan Arus Modal Asing yang Kembali Masuk

Head of Research KGI Sekuritas, Rovandi, menjelaskan bahwa tren kenaikan yang dialami IHSG selama lima hari perdagangan terakhir ini didorong oleh sejumlah faktor kunci. Salah satu pendorong utamanya adalah kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik (foreign net inflow). Berdasarkan data perdagangan dalam sepekan, aliran modal asing mencatatkan net inflow atau beli bersih yang cukup signifikan, yakni sekitar Rp 2,23 triliun. Masuknya kembali dana asing ini mengindikasikan bahwa aset-aset keuangan di Indonesia, khususnya saham, kembali dinilai menarik bagi investor global.

Selain faktor aliran dana asing, penguatan harga saham berbasis komoditas turut memberikan kontribusi besar terhadap laju IHSG. Sektor komoditas yang selama ini menjadi salah satu penopang utama bursa domestik kembali bergairah seiring dengan perbaikan harga komoditas global, termasuk emas. Hal ini secara langsung mendorong peningkatan selera risiko (risk appetite) dari para pelaku pasar domestik, yang mulai kembali berani mengalokasikan modal mereka pada aset-aset berisiko tinggi namun berpotensi memberikan imbal hasil yang optimal.

Advertisements

Pengaruh Kebijakan Moneter Domestik dan Regulasi Baru Bursa

Sentimen positif yang menopang pergerakan IHSG tidak hanya berasal dari pergerakan modal, tetapi juga didukung oleh kebijakan moneter yang stabil di dalam negeri. Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dinilai sebagai langkah yang sangat tepat oleh pelaku pasar. Kebijakan ini memberikan kepastian dan stabilitas yang sangat dibutuhkan oleh nilai tukar rupiah serta pasar keuangan domestik secara keseluruhan. Dengan suku bunga yang terjaga, ketidakpastian pasar dapat dikurangi, sehingga memberikan landasan yang kokoh bagi pergerakan indeks.

Di sisi lain, bursa domestik juga mendapat angin segar dari rencana kebijakan baru otoritas bursa. Ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan baru yang akan diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penurunan batas minimum harga saham telah memicu optimisme baru. Kebijakan ini dinilai akan mampu meningkatkan likuiditas pasar secara keseluruhan serta mendorong aktivitas perdagangan saham menjadi lebih dinamis. Penurunan batas minimum harga saham diharapkan dapat membuka peluang bagi saham-saham tertentu untuk kembali ditransaksikan secara aktif, yang pada akhirnya akan meningkatkan volume perdagangan harian di bursa.

Disiplin Fiskal RAPBN 2027 dan Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Pandangan positif mengenai laju IHSG juga diutarakan oleh Henry Wibowo, Co-Founder of Alphagate Capital sekaligus mantan Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan. Henry mengungkapkan bahwa reli yang terjadi pada IHSG selama sepekan terakhir ini sangat dipengaruhi oleh respons positif pasar terhadap penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun anggaran 2027 yang dibacakan pada tanggal 14 Agustus sebelumnya.

Pidato Presiden Prabowo mengenai RAPBN 2027 tersebut mendapatkan sambutan hangat dari para pelaku pasar, khususnya mengenai komitmen kuat pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Komitmen ini tercermin dari target defisit anggaran yang ditetapkan sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Penetapan target defisit yang terukur ini memberikan sinyal positif kepada investor bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga kesinambungan fiskal dan menghindari risiko utang yang berlebihan. Kebijakan-kebijakan fiskal strategis lainnya yang disampaikan dalam pidato tersebut juga turut memperkuat keyakinan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional berada di jalur yang tepat untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Selain faktor fiskal, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi penopang utama yang sangat krusial bagi pergerakan pasar saham. Nilai tukar rupiah terpantau bergerak relatif stabil dan berada pada posisi yang jauh di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar rupiah ini sangat krusial karena mampu mengurangi risiko kerugian kurs bagi investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini secara langsung memperkuat kepercayaan diri para investor untuk terus mempertahankan atau bahkan menambah portofolio investasi mereka di pasar modal Indonesia.

Dinamika Pasar Global dan Sentimen Komoditas

Meskipun faktor domestik memberikan kontribusi yang sangat dominan, pergerakan IHSG tidak terlepas dari pengaruh dinamika pasar keuangan global. Dari sisi eksternal, pergerakan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan oleh pelaku pasar. Pada awal pekan, penurunan yield US Treasury sempat memicu katalis risk-on di pasar global, yang mendorong investor untuk beralih ke aset-aset di negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Namun, situasi global ini tidak sepenuhnya stabil. Menjelang akhir pekan, yield US Treasury kembali merangkak naik, yang kemudian memicu koreksi pada indeks saham di bursa Wall Street Amerika Serikat. Kenaikan yield dan koreksi Wall Street ini akhirnya menjadi tantangan atau headwind bagi IHSG pada hari terakhir perdagangan. Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun sentimen sepanjang pekan ini didominasi oleh faktor positif, pasar keuangan domestik masih belum sepenuhnya terbebas dari bayang-bayang risiko ketidakpastian global.

Selain masalah yield obligasi, pasar komoditas global juga diwarnai oleh ketegangan geopolitik. Kenaikan harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini dipicu oleh ancaman dari Donald Trump yang menyatakan akan mengenakan sanksi tegas bagi negara-negara mitra dagang Iran. Ancaman sanksi ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak mentah global, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak. Sentimen dari pasar komoditas energi ini turut memberikan dampak tidak langsung terhadap pergerakan saham-sektor terkait di bursa domestik.

Proyeksi Pergerakan IHSG dan Antisipasi Rebalancing MSCI

Memasuki pekan berikutnya, momentum positif yang dimiliki oleh IHSG diprediksi masih memiliki peluang untuk berlanjut, meskipun ruang kenaikan diperkirakan akan mulai terbatas. Rovandi menerangkan bahwa setelah IHSG mengalami lonjakan sebesar 3,55% dalam sepekan, pasar berpotensi menghadapi tekanan ambil untung (profit taking) yang dapat meningkatkan tingkat volatilitas pergerakan harga saham.

Untuk perdagangan pada hari Senin (24/8/2026), Rovandi memperkirakan bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi di kisaran level 6.480 hingga 6.650. Skenario dasar (base case) untuk pergerakan indeks diperkirakan akan cenderung bergerak mendatar hingga menguat secara terbatas (sideways to positive). Dalam hal ini, level 6.500 akan bertindak sebagai area support psikologis yang penting untuk dipertahankan. Sementara itu, untuk target kenaikan berikutnya, area 6.600 hingga 6.650 akan menjadi level resistance kuat yang harus ditembus. Jika IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas level support 6.500 dan didukung oleh kembalinya aliran dana asing (foreign flow) yang positif, maka peluang bagi indeks untuk menguji level resistance 6.600 hingga 6.650 akan terbuka cukup lebar.

Di sisi lain, Henry Wibowo juga melihat adanya potensi kelanjutan momentum positif pada pekan depan. Kendati demikian, Henry memberikan catatan penting yang harus dicermati oleh para investor. Pelaku pasar diimbau untuk mewaspadai potensi terjadinya arus keluar dana asing (foreign outflow) yang mungkin terjadi menjelang akhir bulan, tepatnya menjelang tanggal 31 Agustus 2026. Tanggal tersebut merupakan batas efektif pelaksanaan rebalancing kuartalan untuk indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International). Proses rebalancing portofolio global ini sering kali memicu penyesuaian posisi portofolio oleh para manajer investasi asing, yang dapat memengaruhi likuiditas dan arah pergerakan harga saham-saham berkapitalisasi besar di bursa domestik.

Selain sentimen rebalancing indeks global, perhatian pasar juga akan tertuju pada aktivitas korporasi dalam negeri. Salah satu aksi korporasi yang menjadi sorotan adalah langkah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang melakukan akuisisi terhadap Cycle & Carriage dengan nilai transaksi mencapai US$ 207 juta. Aksi akuisisi bernilai fantastis ini tentu akan menjadi perhatian serius bagi para analis dan investor, yang akan mencermati bagaimana dampak jangka panjang dari ekspansi ini terhadap kinerja keuangan perusahaan serta rekomendasi saham terkait ke depan.

Advertisements

Also Read

Tags