Kinerja Emiten Infrastruktur Prospektif, Ini Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Hikma Lia

Kinerja Sektor Infrastruktur di Tengah Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia

Advertisements

Kinerja emiten di sektor infrastruktur dinilai masih memiliki prospek yang cukup menjanjikan di tengah kondisi perekonomian yang diwarnai oleh era suku bunga tinggi. Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2026 menjadi salah satu sentimen utama yang membayangi pergerakan pasar saat ini. Meskipun bank sentral mengambil langkah untuk menahan suku bunga guna menjaga stabilitas moneter, pergerakan saham-saham di sektor infrastruktur terpantau mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Fenomena ini menarik perhatian para pelaku pasar dan analis keuangan untuk membedah lebih dalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi dinamika sektor ini secara menyeluruh.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memberikan pandangan mendalam mengenai koreksi yang terjadi pada emiten infrastruktur. Menurut analisanya, terdapat berbagai faktor kompleks yang menjadi pemicu penurunan kinerja saham di sektor ini. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh emiten infrastruktur adalah tingginya beban utang (leverage) yang digunakan untuk membiayai proyek-proyek skala besar. Beban utang ini menjadi semakin berat karena sebagian besar di antaranya divaluasi dalam bentuk mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (AS). Ketika nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi atau pelemahan terhadap dolar AS, beban pembayaran bunga dan pokok utang emiten otomatis akan membengkak, yang pada akhirnya menekan profitabilitas perusahaan secara keseluruhan.

Advertisements

Selain masalah beban utang valuta asing, ketidakpastian global dan domestik turut memperkeruh situasi pasar modal. Nico Demus menambahkan bahwa kondisi geopolitik yang tidak menentu, seperti konflik perang di berbagai belahan dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, stabilitas politik, hingga arah kebijakan fiskal dalam negeri, selalu menjadi perhatian utama para investor. Ketakutan akan risiko-risiko makroekonomi ini mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih konservatif. Hal tersebut kemudian memicu terjadinya aksi jual masif di hampir seluruh sektor saham, tidak terkecuali sektor infrastruktur yang dikenal sebagai sektor padat modal.

Faktor Utama Pelemahan Indeks IDXINFRA

Data pergerakan pasar menunjukkan tekanan yang cukup berat pada sektor ini. Hingga hari Jumat, 21 Agustus 2026, indeks sektoral IDXINFRA mencatatkan penurunan yang sangat tajam sebesar 28,18% sejak awal tahun atau secara year to date (YTD). Angka penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah sebesar 24,53% YTD pada periode yang sama. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa sektor infrastruktur mengalami tekanan jual yang lebih agresif dibandingkan rata-rata pasar saham secara keseluruhan sepanjang tahun berjalan.

Sektor IDXINFRA sendiri sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks. Setidaknya terdapat sepuluh emiten dengan bobot terbesar di sektor ini, di antaranya adalah PT Indosat Tbk (ISAT), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CDIA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). Kinerja saham-saham raksasa ini mayoritas berada di zona merah sepanjang tahun 2026. Sebagai contoh, saham TLKM mengalami penurunan sebesar 25% YTD, sementara saham BREN merosot tajam hingga 64,33% YTD. Kejatuhan juga dialami oleh CDIA yang ambles 57,49% YTD, disusul oleh TOWR yang melemah 25,81% YTD, dan EXCL yang terkoreksi 24,27% YTD.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, turut memberikan analisisnya terkait pelemahan indeks IDXINFRA. Menurut Elandry, penurunan indeks sektor infrastruktur ini tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Penurunan ini lebih disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor fundamental dan pasar, seperti kinerja keuangan emiten (earnings), tingkat utang (leverage), kebutuhan belanja modal yang tinggi (capital expenditure atau capex), serta adanya aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia (foreign outflow). Selain itu, sikap pelaku pasar yang saat ini cenderung sangat selektif dalam menaruh modalnya juga turut memengaruhi likuiditas saham-saham di sektor ini.

Elandry menegaskan bahwa dalam kondisi pasar saat ini, tingkat suku bunga tinggi bukan lagi menjadi satu-satunya fokus perhatian utama para investor. Tekanan jual yang terjadi pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar raksasa seperti TLKM memberikan dampak domino yang cukup besar. Karena memiliki bobot yang sangat besar terhadap indeks, penurunan harga saham TLKM secara langsung ikut menyeret dan membebani pergerakan indeks IDXINFRA secara keseluruhan, meskipun beberapa emiten lain dalam sektor yang sama mungkin menunjukkan kinerja operasional yang relatif stabil.

Aksi Profit Taking dan Pengaruh Rebalancing MSCI

Dari sudut pandang teknis dan psikologi pasar, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa penurunan tajam pada indeks IDXINFRA juga sangat dipengaruhi oleh aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan oleh para pelaku pasar. Sebelum memasuki tahun 2026, beberapa saham berkapitalisasi besar di sektor ini, seperti BREN, CDIA, dan MORA, telah mencatatkan kenaikan harga yang sangat luar biasa dan signifikan. Oleh karena itu, penurunan tajam yang terjadi secara year to date pada tahun 2026 dinilai sebagai koreksi yang wajar dan sehat dalam siklus pergerakan harga saham, seiring dengan keputusan investor untuk merealisasikan keuntungan mereka terlebih dahulu.

Imam Gunadi juga menambahkan bahwa dinamika pasar saham domestik tidak lepas dari pengaruh sentimen global. Ketegangan geopolitik internasional, fluktuasi kenaikan harga minyak mentah dunia, tingkat inflasi yang masih persisten, hingga arah kebijakan suku bunga global menjadi faktor eksternal yang menekan pasar. Selain itu, adanya kebijakan penyesuaian bobot indeks global atau rebalancing MSCI (Morgan Stanley Capital International) juga memicu terjadinya aksi jual oleh investor asing. Rebalancing ini berdampak pada kaburnya dana asing (foreign outflow) dari pasar saham Indonesia dengan nilai yang fantastis, yakni mencapai sekitar Rp 8,5 triliun, yang sebagian besar menyasar saham-saham berkapitalisasi besar termasuk di sektor infrastruktur.

Meskipun keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan pekan ini belum mampu menjadi katalis instan yang membalikkan arah pergerakan sektor infrastruktur ke zona positif, Imam melihat adanya indikasi teknikal yang menarik. Berdasarkan analisis pergerakan harga (price action) pada grafik IDXINFRA, mulai tampak adanya potensi pembalikan arah tren (trend reversal). Potensi ini terlihat setelah indeks berhasil menembus ke atas (breakout) dari pola grafik segitiga menanjak (ascending triangle) pada tanggal 18 Agustus 2026 lalu. Pola teknikal ini sering kali menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda dan digantikan oleh akumulasi beli yang berpotensi mendorong kenaikan harga di masa mendatang.

Prospek Subsektor Telekomunikasi dan Infrastruktur Digital

Melihat prospek ke depan, Nico Demus menilai bahwa emiten telekomunikasi seperti TLKM dan ISAT masih memiliki masa depan yang cerah hingga akhir tahun 2026. Kekuatan utama dari kedua emiten ini terletak pada model bisnis mereka yang mengandalkan pendapatan berulang (recurring revenue). Sebagian besar pendapatan mereka diperoleh dalam mata uang rupiah dari basis pelanggan domestik yang sangat luas. Hal ini membuat kinerja keuangan TLKM dan ISAT lebih stabil dan tangguh terhadap risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS, jika dibandingkan dengan emiten infrastruktur lain yang memiliki ketergantungan tinggi pada pembiayaan atau pendapatan valuta asing.

Senada dengan pandangan tersebut, Elandry Pratama melihat bahwa subsektor telekomunikasi dan infrastruktur digital akan menjadi motor penggerak utama dengan kinerja paling menarik hingga akhir tahun 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh akselerasi transformasi digital yang terus berlangsung, yang tecermin dari peningkatan trafik data masyarakat, perluasan jaringan 5G, serta adopsi teknologi komputasi awan (cloud computing) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) oleh korporasi. Dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian ini, saham-saham seperti ISAT, EXCL, dan TLKM dapat dijadikan sebagai pilihan investasi yang lebih defensif.

Beberapa katalis positif yang diharapkan mampu menopang kinerja emiten telekomunikasi ini antara lain adalah pertumbuhan pendapatan yang konsisten dari layanan data, efisiensi dalam pengelolaan belanja modal (capex), kelanjutan konsolidasi industri telekomunikasi yang membuat kompetisi harga menjadi lebih sehat, serta permintaan layanan konektivitas internet yang terus meningkat. Secara khusus, Elandry menyebutkan bahwa TLKM dapat menjadi pilihan alternatif yang sangat menarik bagi investor yang mengutamakan aspek fundamental perusahaan yang kokoh serta mengharapkan imbal hasil berupa pembagian dividen yang stabil (dividend yield) setiap tahunnya.

Imam Gunadi juga sependapat bahwa emiten di sektor infrastruktur pada dasarnya memiliki karakteristik defensif yang kuat. Hal ini dikarenakan fokus bisnis mereka yang bergerak di bidang utilitas atau penyediaan fasilitas publik yang produk dan jasanya digunakan oleh masyarakat luas untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Karakteristik ini membuat emiten infrastruktur memiliki kekuatan menghasilkan laba (earning power) yang cenderung stabil dan tidak mudah tergerus oleh siklus penurunan ekonomi.

Kinerja keuangan emiten-emiten ini diproyeksikan akan tumbuh jauh lebih optimal apabila di masa depan kondisi makroekonomi membaik, seperti adanya pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral (BI dan The Fed) yang lebih akomodatif atau dovish. Selain itu, potensi pertumbuhan juga dapat didorong oleh adanya aksi korporasi yang bersifat organik maupun anorganik, dengan tetap memperhatikan tingkat valuasi saham masing-masing emiten agar tidak terjebak pada harga yang terlalu mahal.

Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Berdasarkan analisis fundamental dan prospek bisnis tersebut, para analis memberikan beberapa rekomendasi saham pilihan di sektor infrastruktur yang menarik untuk dicermati oleh para investor:

Nico Demus merekomendasikan saham EXCL dengan target harga di level Rp 3.270 per saham, serta saham TLKM dengan target harga yang dipatok pada level Rp 3.440 per saham. Kedua saham ini dinilai memiliki valuasi yang menarik setelah mengalami koreksi yang cukup dalam, sehingga menawarkan margin of safety yang memadai bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Sementara itu, Imam Gunadi merekomendasikan beli (buy) untuk saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Berdasarkan analisis teknikal dan prospek bisnis energi terbarukan yang dikelolanya, saham PGEO ditargetkan dapat mencapai target harga terdekat di level Rp 1.140 per saham. Jika momentum kenaikan terus berlanjut dan berhasil menembus level resisten tersebut, target harga selanjutnya untuk saham PGEO diproyeksikan berada di level Rp 1.215 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags