Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia mengumumkan jajaran direksi dan komisaris di PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI.
Sejumlah nama dengan rekam jejak panjang di sektor pertambangan, keuangan, hingga investasi masuk dalam jajaran pimpinan DSI, termasuk Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas hingga Cipung Noer yang didapuk sebagai Komisaris Utama.
Sementara jajaran direksi dipimpin Luke Mahony sebagai Direktur Utama. Ia didampingi mantan Direktur Keuangan PT PLN (Persero) Sinthya Roesly sebagai Direktur Keuangan dan Treasury, Nur Hidayat Udin sebagai Direktur Manajemen Risiko, serta Ivan Ferdiansyah Baely sebagai Direktur Hukum dan Kepatuhan.
Dewan Komisaris:
- Komisaris Utama: Mohammad Syaifurrahman Noer (akrab disapa Cak Cipung Noer)
- Komisaris: Tony Wenas
- Komisaris: Mari Elka Pangestu
- Komisaris: Harold Tjiptadjaja
Direksi:
- Direktur Utama: Luke Mahony
- Direktur Keuangan dan Treasury: Sinthya Roesly
- Direktur Manajemen Risiko: Nur Hidayat Udin
- Direktur Hukum & Kepatuhan: Ivan Ferdiansyah Baely
Adapun DSI diharapkan dapat mengoptimalkan nilai ekonomi dari sumber daya alam strategis Indonesia agar memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional dan masyarakat. Pemerintah menetapkan DSI sebagai BUMN Ekspor melalui PP Nomor 24 Tahun 2026.
Dalam menjalankan mandat tersebut, DSI akan mengintegrasikan dan memantau aktivitas ekspor komoditas strategis. Namun, DSI tidak mengambil alih kewenangan pemerintah dalam penindakan, perizinan maupun regulasi. Kewenangan tersebut tetap berada di kementerian dan lembaga terkait.
Pada tahap awal, DSI akan mengintegrasikan data ekspor nasional dan menganalisis transaksi komoditas strategis. Selanjutnya, DSI akan memperluas pemantauan dan verifikasi melalui pelacakan kapal, validasi negara tujuan ekspor, hingga rekonsiliasi devisa hasil ekspor.
Dalam jangka panjang, DSI ditargetkan menjadi perantara tunggal untuk komoditas yang masuk dalam mandatnya. Meski begitu, mekanisme tersebut tetap mempertahankan hubungan komersial antara penjual dan pembeli dan menjaga keberlanjutan ekspor.
Direktur Utama DSI Luke Mahony mengatakan DSI saat ini fokus membangun sistem dan kemampuan untuk menjalankan mandat tersebut. Sejak mulai beroperasi, DSI telah memantau ribuan transaksi ekspor sekaligus membangun sistem analisis untuk mendukung pengawasan dan pengelolaan ekspor komoditas strategis.
“Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor,” kata Luke dalam keterangannya, Senin (24/8).
Dalam waktu sekitar dua bulan sejak beroperasi, DSI telah menganalisis sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari US$ 14 miliar dan volume mencapai lebih dari 90 juta ton komoditas. Aktivitas ekspor tersebut berasal dari lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi dengan tujuan lebih dari 100 negara.




