Harga Unggas Pulih, Begini Prospek Saham CPIN hingga 2026

Hikma Lia

Prospek kinerja bisnis dan pergerakan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) hingga akhir tahun 2026 dinilai tetap berada dalam jalur positif. Keyakinan pasar ini didorong oleh pencapaian kinerja keuangan yang sangat solid sepanjang semester pertama tahun 2026, serta adanya peluang pemulihan harga produk perunggasan yang diperkirakan akan berlangsung pada paruh kedua tahun ini. Sebagai salah satu pemain utama di industri perunggasan (poultry) tanah air, CPIN menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

Advertisements

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan bahwa prospek cerah perseroan ini berjalan beriringan dengan kondisi fundamental perusahaan yang menunjukkan pertumbuhan solid sepanjang semester I-2026. Kemampuan manajemen dalam mengoptimalkan rantai pasok dan menjaga efisiensi operasional menjadi pilar utama di balik pertumbuhan kinerja keuangan yang impresif tersebut.

Kinerja Keuangan Semester I-2026 yang Sangat Solid

Advertisements

Jika menilik laporan keuangan perseroan, CPIN berhasil membukukan angka penjualan yang sangat signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026, yakni mencapai Rp 39,42 triliun. Angka penjualan ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 19,23% secara tahunan atau Year-on-Year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan penjualan yang mendekati angka dua digit ini mengindikasikan bahwa permintaan pasar terhadap produk-produk perunggasan perseroan tetap kuat dan terus mengalami ekspansi.

Tidak hanya dari sisi pendapatan, profitabilitas CPIN juga mencatatkan lonjakan yang sangat luar biasa. Laba bersih perseroan tercatat melesat hingga 95,14% YoY menjadi Rp 3,71 triliun pada semester I-2026. Lompatan laba bersih yang hampir mencapai dua kali lipat ini menunjukkan adanya peningkatan margin keuntungan yang signifikan, yang dipicu oleh efisiensi biaya operasional serta bauran produk yang lebih menguntungkan selama enam bulan pertama tahun ini.

Langkah Strategis Melalui Akuisisi Aset Pembibitan

Selain didukung oleh rapor keuangan yang menawan, langkah korporasi taktis yang diambil CPIN baru-baru ini juga menjadi perhatian positif bagi para pelaku pasar modal. Melalui entitas anak usaha yang dikendalikannya secara penuh, yaitu PT Charoen Pokphand Jaya Farm, perseroan telah merampungkan akuisisi sejumlah fasilitas pembibitan unggas milik PT Satwa Utama Raya. Perlu dicatat bahwa kedua perusahaan yang terlibat dalam transaksi ini merupakan entitas terkendali di bawah naungan CPIN, dengan porsi kepemilikan saham mencapai 99,99% baik secara langsung maupun tidak langsung.

Transaksi strategis bernilai sekitar Rp 430 miliar ini mencakup pembelian berbagai aset produktif, termasuk tanah, bangunan, mesin-mesin operasional, serta peralatan pendukung yang tersebar di beberapa lokasi strategis di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Utara. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret perseroan dalam memperluas jangkauan operasional di luar wilayah utama yang selama ini didominasi di bagian barat Indonesia.

Menurut analisis Nafan Aji Gusta, aksi korporasi ini merupakan langkah taktis yang sangat strategis bagi CPIN untuk memperkuat integrasi vertikal bisnisnya. Dengan memiliki kontrol yang lebih besar atas fasilitas pembibitan, perseroan dapat meningkatkan kapasitas produksi day-old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari secara mandiri. Tambahan aset ini juga secara langsung memperluas basis operasional CPIN di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi.

Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, kepemilikan aset baru ini berpotensi besar mendukung pertumbuhan volume produksi serta meningkatkan efisiensi rantai pasok secara keseluruhan. Kendati demikian, kontribusi finansial dari akuisisi ini diperkirakan tidak akan langsung tercermin secara signifikan dalam jangka pendek. Hal ini dikarenakan perseroan masih harus melewati fase integrasi operasional dan optimalisasi utilisasi aset agar kapasitas produksi yang baru dapat berjalan pada tingkat efisiensi yang maksimal.

Hingga penghujung tahun nanti, keberlanjutan kinerja positif CPIN akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan (supply-demand) di industri perunggasan nasional. Selain itu, kemampuan untuk mempertahankan harga jual ayam pedaging (livebird) dan DOC pada level yang menguntungkan akan menjadi faktor penentu margin profitabilitas perseroan.

Tren Pemulihan Harga Produk Perunggasan

Di sisi lain, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Steven Willie, menambahkan bahwa kinerja keuangan CPIN pada paruh kedua tahun ini akan disokong oleh momentum pemulihan harga unggas yang mulai terlihat pada periode Juli hingga Agustus. Pemulihan harga ini menjadi angin segar setelah industri perunggasan sempat mengalami tekanan harga yang cukup dalam pada kuartal II-2026.

Berdasarkan data pergerakan harga di pasar, harga livebird tercatat mengalami kenaikan sekitar 3% jika dibandingkan dengan rata-rata harga pada kuartal II-2026, serta tumbuh sebesar 7% secara tahunan (YoY). Tren positif serupa juga terjadi pada harga karkas ayam broiler yang merangkak naik sekitar 1% secara kuartalan (Quarter-on-Quarter/QoQ) dan meningkat 7% secara tahunan.

Pemulihan harga pada tahap awal kuartal ketiga ini memberikan indikasi kuat bahwa margin keuntungan CPIN pada kuartal III-2026 berpotensi membaik dari level terendah yang sempat terjadi pada kuartal sebelumnya. Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan biaya input produksi yang diperkirakan masih akan bertahan tinggi, sehingga dapat membatasi ruang peningkatan margin keuntungan secara lebih agresif.

Tantangan Biaya Input Produksi dan Bahan Baku Pakan

Faktor biaya bahan baku pakan ternak memang menjadi salah satu aspek krusial yang patut dicermati memasuki kuartal III-2026. Steven Willie menyoroti bahwa harga jagung rata-rata di pasar global pada pertengahan hingga akhir Agustus tercatat mencapai sekitar US$ 4,8 per bushel. Angka ini mencerminkan kenaikan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 23% secara YoY dan naik sekitar 7% jika dibandingkan dengan kuartal II-2026.

Sementara itu, harga soybean meal (bungkil kedelai) terpantau relatif lebih stabil di tingkat global, yakni berada di level US$ 322,4 per ton. Meskipun stabil, harga komoditas ini tetap menunjukkan kenaikan tipis sekitar 2% secara tahunan dan naik sekitar 3% dibandingkan dengan kuartal II-2026. Kenaikan harga bahan baku pakan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi CPIN dalam menjaga struktur biaya produksinya agar tetap efisien.

Katalis Positif dan Proyeksi Kinerja Keuangan Masa Depan

Meskipun dibayangi oleh tantangan biaya input, Nafan Aji Gusta melihat ada sejumlah katalis positif yang siap menopang laju pertumbuhan CPIN ke depan. Beberapa katalis tersebut antara lain adalah tren peningkatan konsumsi protein hewani di kalangan masyarakat, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, pemulihan harga jual DOC dan livebird di tingkat peternak, serta kebijakan pengendalian pasokan oleh pemerintah melalui kuota impor grand parent stock (GPS) untuk mencegah kelebihan pasokan (oversupply).

Dengan berbagai sentimen tersebut, prospek bisnis CPIN dinilai masih sangat menjanjikan. Namun, pertumbuhan laba bersih pada semester kedua tahun 2026 berpotensi mengalami normalisasi setelah mencatatkan pertumbuhan yang sangat tinggi pada paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan proyeksi kinerja keuangan yang dirilis oleh Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta, pendapatan CPIN untuk tahun buku 2026 diperkirakan mampu mencapai Rp 76,94 triliun. Target pendapatan ini mencerminkan pertumbuhan sekitar 8,8% YoY dibandingkan dengan realisasi pendapatan pada tahun 2025 yang diproyeksikan sebesar Rp 70,71 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih inti (core net profit) CPIN diproyeksikan akan menyentuh angka Rp 6,11 triliun pada tahun 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 8,2% YoY dibandingkan dengan realisasi core net profit tahun 2025 yang diproyeksikan sebesar Rp 5,64 triliun.

Paulina Margareta juga sependapat dengan Nafan mengenai adanya normalisasi pertumbuhan laba pada tahun 2026. Sebagai perbandingan, pertumbuhan core net profit CPIN pada tahun 2025 tercatat sangat tinggi, yakni melonjak sekitar 52% YoY dari realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp 3,71 triliun menjadi Rp 5,64 triliun pada tahun 2025.

Rekomendasi Saham CPIN dari Para Analis

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor fundamental, langkah ekspansi, serta dinamika harga komoditas pakan, para analis memberikan rekomendasi investasi yang bervariasi untuk saham CPIN:

  • Paulina Margareta (Maybank Sekuritas Indonesia) memberikan rekomendasi Hold untuk saham CPIN dengan target harga sebesar Rp 3.500 per saham.
  • Steven Willie (NH Korindo Sekuritas Indonesia) menyematkan rekomendasi Buy dengan target harga yang lebih optimis di level Rp 5.050 per saham.
  • Jason Chandra (CGS International Sekuritas Indonesia) memberikan rekomendasi Add dengan target harga sebesar Rp 3.100 per saham.

Perbedaan target harga dan rekomendasi ini mencerminkan bagaimana masing-masing analis menimbang potensi pemulihan harga jual produk unggas terhadap risiko tekanan biaya bahan baku pakan global dalam jangka pendek dan menengah.

Advertisements

Also Read

Tags