Yield SBN konsolidasi, investor masih bisa cermati peluang akumulasi

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Risiko perdagangan global yang kembali meningkat menjadi perhatian pasar, namun stabilitas domestik disebut masih menjadi penopang pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Advertisements

Setelah beberapa waktu terakhir yield SBN bertahan di level yang tinggi, analis menyebut pasar SBN kini mulai memasuki fase konsolidasi. Data terbaru, imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun dan dua tahun masing-masing naik menjadi 7,05% dan 6,65%.

Kenaikan tersebut membuat selisih (spread) antara keduanya berada di kisaran 240,5 bps dan 245,1 bps. Pelebaran spread tersebut sebagian mengembalikan ruang relative value bagi investor.

Advertisements

Suspensi Dicabut, Saham Ingria Pratama (GRIA) Langsung Anjlok 14,73%

Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan pasar SBN domestik dipengaruhi oleh sejumlah sentimen. Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Kanada kembali memanas setelah Kanada mengumumkan tindakan retaliasi terhadap tarif AS sebesar 50%.

Kanada akan mengenakan tarif sebesar 15%-50% terhadap lebih dari 700 produk AS dengan nilai sekitar US$ 20 miliar. Kebijakan tersebut akan berlaku mulai 8 September 2026 dan disertai paket dukungan senilai US$ 7,5 miliar.

“Siklus retaliasi antara dua ekonomi yang sangat terintegrasi tersebut berisiko meningkatkan biaya input dan mengganggu rantai pasok Amerika Utara, menambah tekanan inflasi di tengah fragmentasi perdagangan global yang masih tinggi,” ujar Jessica dalam riset yang diterima Kontan, Kamis (27/8/2026).

Di tengah risiko eksternal tersebut, Jessica melihat arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah Gubernur BI Destry Damayanti tetap menjadi salah satu faktor yang menopang stabilitas pasar domestik.

Ia bilang visi Destry memperkuat arah kebijakan BI yang mengutamakan stabilitas atau stability-first, namun semakin berorientasi pada pertumbuhan atau pro-growth.

Fokus kebijakan tersebut mencakup menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan berkelanjutan, serta memperkuat koordinasi melalui Sinergi Merah Putih.

Selain itu, bauran kebijakan BI yang semakin luas, mulai dari pengelolaan arus valuta asing (valas), integrasi kebijakan moneter, inklusi keuangan hingga inovasi digital.

“Ini mengindikasikan BI akan semakin menggunakan stabilitas sebagai fondasi untuk membuka ruang pertumbuhan, alih-alih hanya mengandalkan suku bunga kebijakan,” jelas Jessica.

Saham Lapis Kedua Diproyeksi Tetap Punya Daya Tarik Bagi Investor, Begini Prospeknya

Sementara itu, ketahanan pasar domestik tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil. Rupiah berada di level Rp 17.772 per dolar AS pada Kamis (27/8) pukul 10.47 WIB, di tengah indeks dolar AS (DXY) naik ke level 98,97.

Jessica juga menjelaskan bahwa persepsi risiko terhadap aset Indonesia juga membaik. Hal ini tercermin dari Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang turun menuju 83 basis poin (bps).

Dengan demikian, kondisi saat ini lebih mencerminkan peluang masuk bagi investor untuk melakukan akumulasi SBN secara selektif, ketimbang menjadi sinyal pembalikan tren perbaikan pasar SBN.

Advertisements

Also Read

Tags