KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) masih menghadapi tantangan untuk membalikkan kinerja menjadi laba bersih pada 2026. Meski demikian, perbaikan pendapatan, efisiensi biaya, serta ekspansi bisnis kontrak manufaktur farmasi atau contract development and manufacturing organization (CDMO) menjadi katalis bagi pemulihan kinerja perseroan.
Per Semester I-2026, pendapatan PYFA tumbuh 16,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp1,62 triliun. Pada periode yang sama, rugi usaha berhasil ditekan 99,4% menjadi sekitar Rp380 juta.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, perbaikan pendapatan dan penurunan rugi usaha menunjukkan perkembangan positif. Namun, PYFA masih menghadapi tantangan untuk mencapai profitabilitas.
3 Saham Data Center Pilihan Analis: Ada TLKM, ISAT dan DSSA
“Kami melihat peluang perbaikan di 2H26, tetapi belum mengantisipasi turn around yang kuat dalam waktu dekat,” ujar Azis kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).
Menurut Azis, bisnis CDMO atau maklon berpotensi menjadi salah satu katalis pertumbuhan PYFA. Peningkatan utilisasi atau pemanfaatan kapasitas produksi di Ethica dan Probiotec diharapkan dapat menopang pendapatan perseroan.
Meski begitu, kontribusi bisnis tersebut terhadap laba diperkirakan masih bertahap. Dengan demikian, ekspansi CDMO belum cukup untuk sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap profitabilitas PYFA dalam jangka pendek.
Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, CDMO menjadi salah satu penopang utama pemulihan kinerja PYFA. Perseroan memiliki lini produksi baru untuk obat injeksi steril yang menyasar kebutuhan rumah sakit serta program kesehatan pemerintah.
“Ekspansi kapasitas ini strategis karena permintaan manufaktur farmasi terus tumbuh, memberi PYFA sumber pendapatan yang lebih stabil di luar penjualan produk sendiri,” jelas Abida.
Di sisi lain, ekspansi melalui Probiotec di Australia juga menjadi faktor penting dalam pertumbuhan PYFA. Azis menilai ekspansi tersebut membuka akses ke pasar Australia sekaligus memperluas peluang ekspor perseroan.
Namun, dampaknya terhadap laba masih membutuhkan waktu. Kecepatan pengisian kapasitas produksi dan keberlanjutan kontrak menjadi faktor penting untuk menentukan kontribusi Probiotec terhadap kinerja PYFA.
Pergerakan IHSG di September 2026 Berpotensi Loyo, Cek Rekomendasi Saham Pilihannya
Abida menambahkan, Probiotec sejauh ini menjadi salah satu motor pertumbuhan PYFA yang relatif konsisten. Sementara itu, bisnis domestik cenderung stabil sehingga ekspansi Australia memberikan diversifikasi geografis bagi perseroan di tengah persaingan pasar farmasi dalam negeri.
Dari sisi profitabilitas, Abida bilang, PYFA menunjukkan tren perbaikan yang konsisten menuju titik impas. Kendati demikian, rugi periode berjalan masih cukup besar sehingga peluang perseroan membukukan laba bersih penuh pada 2026 dinilai masih menantang.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya beban di luar operasional inti, termasuk bunga dan pajak, yang menekan kinerja perseroan.
Abida menyebut, PYFA saat ini masih merupakan turn around story yang perlu dibuktikan. Daya tarik perseroan berasal dari perbaikan margin kotor dan efisiensi biaya yang berkelanjutan.
PYFA Chart by TradingView
Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain rugi berjalan yang masih besar, ketergantungan terhadap kinerja Probiotec, serta kebutuhan pendanaan tambahan untuk mendukung ekspansi lini produksi baru.
Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy untuk saham PYFA dengan target harga Rp 282 per saham.




