Konglomerat bisnis terkemuka di Indonesia, Grup Salim, secara resmi telah mengambil alih seluruh kepemilikan saham Keppel Data Centres di dalam perusahaan patungan IndoKeppel Data Centres. Langkah strategis ini menandai babak baru bagi entitas tersebut, yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali penuh Grup Salim. Pasca-transaksi akuisisi ini, perusahaan patungan tersebut mengalami perubahan identitas dan resmi berganti nama menjadi IndoData Center. Perubahan ini mencerminkan komitmen penuh dari Grup Salim untuk memperkuat posisinya di sektor infrastruktur digital nasional yang tengah berkembang pesat.
Berdasarkan informasi resmi yang dihimpun dari keterangan perusahaan di platform profesional LinkedIn, pihak IndoData mengungkapkan bahwa transaksi pengambilalihan saham milik Keppel tersebut telah disepakati dan terjadi pada Desember 2025. Meskipun kepemilikan saham telah sepenuhnya beralih kepada Grup Salim, nilai nominal dari transaksi akuisisi ini tidak diungkapkan secara mendetail kepada publik. Kendati demikian, langkah ini dipandang sebagai salah satu manuver bisnis yang sangat signifikan dalam industri pusat data tanah air.
Dengan kepemilikan penuh ini, IndoData Center kini berada dalam posisi yang sangat strategis untuk memanfaatkan seluruh ekosistem bisnis milik Grup Salim. Perusahaan menyatakan bahwa dengan berbekal kapabilitas Grup Salim yang sangat luas, jaringan lokal yang kuat di berbagai sektor industri, serta rekam jejak keberhasilan yang terbukti dalam mengeksekusi berbagai proyek infrastruktur berskala besar, IndoData Center siap merespons secara cepat dan efisien terhadap permintaan pasar yang terus meningkat pesat, khususnya untuk kapasitas kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan layanan hyperscale di Indonesia.
Fokus utama dari IndoData Center ke depan adalah mengembangkan infrastruktur pusat data yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan teknologi masa depan, seperti AI dan komputasi hyperscale. Dalam mencapai tujuan tersebut, perusahaan akan mengandalkan model solusi built-to-suit yang fleksibel. Model bisnis ini memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan fasilitas pusat data yang disesuaikan secara spesifik dengan kebutuhan teknis, operasional, dan kapasitas daya mereka masing-masing.
Model pengembangan built-to-suit ini secara khusus ditujukan untuk melayani segmen pasar premium yang membutuhkan kapasitas komputasi sangat tinggi. Target utama dari solusi ini mencakup para penyedia layanan komputasi awan (cloud providers), perusahaan teknologi berskala raksasa (hyperscalers), hingga berbagai perusahaan rintisan dan korporasi yang fokus mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fleksibilitas rancangan ini menjadi nilai tawar utama IndoData Center dalam memenangkan persaingan di pasar pusat data yang semakin kompetitif.
Jika menilik ke belakang, bisnis pusat data ini pada awalnya merupakan sebuah usaha patungan (joint venture) yang dibentuk secara kolaboratif antara Grup Salim dan Keppel Data Centres. Kerja sama strategis ini pertama kali diumumkan ke publik pada tahun 2018 dengan rencana ambisius untuk membangun dan mengembangkan proyek pusat data modern yang berlokasi di Kota Bogor, Jawa Barat. Kehadiran kolaborasi ini awalnya diharapkan dapat mempercepat penyediaan infrastruktur digital berkelas dunia di Indonesia.
Namun, perjalanan pengembangan proyek ini tidak luput dari tantangan global. Rencana awal untuk meluncurkan pusat data tersebut pada tahun 2020 terpaksa mengalami penundaan yang cukup signifikan akibat merebaknya pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas dan aktivitas pembangunan fisik di berbagai belahan dunia. Setelah situasi mulai membaik, fase pertama dari proyek yang dinamakan IndoKeppel Data Centre 1 atau IKDC 1 akhirnya berhasil diluncurkan secara resmi pada tahun 2022 dengan kapasitas awal sebesar 5 Megawatt (MW).
Perubahan kepemilikan pada Desember 2025 ini secara otomatis mengubah total struktur usaha patungan yang telah berjalan selama beberapa tahun tersebut. Dengan keluarnya Keppel Data Centres dari jajaran pemegang saham, kemitraan strategis tersebut resmi berakhir. Grup Salim kini memegang kendali penuh atas arah kebijakan, operasional, dan ekspansi masa depan dari IndoData Center, menjadikannya sebagai aset lokal sepenuhnya yang didukung oleh kekuatan finansial salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.
Amankan Kapasitas hingga 500 MW
Sebagai bagian dari strategi ekspansi agresif setelah berada di bawah kepemilikan penuh Grup Salim, IndoData Center telah mengamankan salah satu aspek paling krusial dalam operasional pusat data, yaitu pasokan energi listrik. Perusahaan mengumumkan telah berhasil mengamankan kapasitas daya hingga mencapai 500 megawatt (MW) melalui kesepakatan kontrak strategis dengan PT PLN (Persero). Jaminan pasokan daya dalam skala raksasa ini menjadi fondasi utama bagi rencana pengembangan infrastruktur digital mereka ke depan.
Ketersediaan daya hingga 500 MW ini memberikan keuntungan kompetitif yang sangat besar bagi IndoData Center. Pihak manajemen menyatakan bahwa kapasitas daya yang telah diamankan melalui kontrak dengan PLN ini memungkinkan perusahaan untuk mempercepat proses pengiriman proyek (project delivery) kepada para klien. Selain itu, jaminan ketersediaan energi ini sangat penting untuk mendukung beban kerja komputasi berkapasitas tinggi yang dibutuhkan oleh para penyedia layanan cloud global, perusahaan hyperscale, serta pengembang teknologi kecerdasan buatan yang membutuhkan konsumsi daya yang stabil dan sangat besar.
Kapasitas daya yang sangat masif ini juga menjadi pilar penting dalam penentuan posisi (positioning) baru IndoData di pasar infrastruktur digital pasca-rebranding. Dengan kepemilikan penuh di tangan Salim Group, perusahaan kini mengusung visi yang jelas untuk menjadi mitra penyedia infrastruktur digital yang berkelanjutan (sustainable), andal (reliable), serta siap menghadapi segala tantangan dan kebutuhan teknologi di masa depan (future-ready).
Langkah konkret pertama setelah proses rebranding ini adalah melakukan perluasan kapasitas pada fasilitas pusat data yang saat ini sudah beroperasi. Berdasarkan laporan dari media industri Data Center Dynamics, proses ekspansi ini dipimpin langsung oleh jajaran manajemen yang berpengalaman. Ronald Setiawan, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur IndoKeppel Data Centres dan kini dipercaya memegang posisi sebagai Direktur Pelaksana IndoData, memberikan konfirmasi mengenai perkembangan terbaru proyek fisik mereka.
Ronald Setiawan mengungkapkan bahwa proyek penambahan beban teknologi informasi (IT load) sebesar 6 MW telah berhasil diselesaikan pembangunannya dan kini telah diserahterimakan di fasilitas pusat data tersebut. Menariknya, proyek ekspansi kapasitas ini dirancang dan diselesaikan secara khusus untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh dari salah satu klien hyperscale yang sudah menggunakan jasa layanan mereka sebelumnya.
Menurut penjelasan lebih lanjut dari Ronald, keberhasilan penyelesaian ekspansi 6 MW ini menjadi bukti nyata atas tingginya tingkat kepercayaan yang diberikan oleh klien terhadap kemampuan IndoData. Klien mempercayakan kebutuhan infrastruktur digital mereka kepada IndoData karena perusahaan dinilai mampu menyediakan layanan pusat data yang tidak hanya andal dan berkinerja tinggi, tetapi juga memiliki kemampuan skalabilitas (scalability) yang baik untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang klien.
Salim Group Sudah Punya Eksposur di Data Center
Keputusan Grup Salim untuk memperdalam keterlibatannya dalam industri pusat data dengan mengakuisisi penuh IndoData bukanlah langkah pertama yang dilakukan oleh konglomerasi ini di sektor teknologi dan infrastruktur digital. Di bawah kepemimpinan Anthoni Salim, Grup Salim telah lama mengidentifikasi potensi besar dari ekonomi digital dan secara aktif membangun portofolio investasi yang kuat di sektor ini selama beberapa tahun terakhir.
Salah satu bukti nyata dari eksposur awal Grup Salim di industri ini adalah kepemilikan saham mereka di PT DCI Indonesia Tbk (DCI). DCI Indonesia dikenal luas sebagai salah satu operator pusat data tier-IV terkemuka dan terbesar di Indonesia yang memiliki reputasi sangat baik dalam hal keandalan operasional. Keterlibatan Grup Salim di DCI Indonesia menunjukkan bahwa konglomerasi ini sudah memiliki pemahaman mendalam mengenai dinamika pasar, kebutuhan operasional, dan standar kualitas tinggi yang diperlukan untuk mengelola bisnis pusat data kelas dunia.
Selain investasi domestik melalui DCI Indonesia, kekuatan infrastruktur digital Grup Salim juga membentang hingga ke tingkat regional. Melalui First Pacific, sebuah perusahaan investasi yang terdaftar di bursa saham Hong Kong dan dikendalikan oleh Grup Salim, konglomerasi ini memegang kendali atas PLDT (Philippine Long Distance Telephone Company), yang merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi dan penyedia layanan digital terbesar di Filipina. Portofolio regional ini memberikan sinergi yang kuat bagi ekspansi bisnis digital Grup Salim di kawasan Asia Tenggara.
Dengan tuntasnya transaksi pengambilalihan seluruh saham Keppel di IndoData, Grup Salim kini berhasil memperkuat cengkeraman dan kepemilikannya atas aset pusat data strategis yang telah mereka rintis bersama Keppel sejak tahun 2018. Langkah konsolidasi kepemilikan ini dilakukan pada momentum yang sangat tepat, di mana pasar domestik sedang mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa terhadap kapasitas infrastruktur digital yang mampu mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI) serta kebutuhan penyimpanan data skala besar (hyperscale).
Kini, dengan kendali penuh di tangan Grup Salim, IndoData Center secara mantap memosisikan dirinya sebagai pemain utama dalam penyediaan pusat data khusus AI dan hyperscale di tanah air. Dengan dukungan pasokan daya raksasa hingga 500 MW yang telah dijamin kontraknya oleh PLN, keahlian lokal yang mendalam, serta penerapan model bisnis built-to-suit yang fleksibel, perusahaan siap mengakomodasi kebutuhan komputasi masa depan dari berbagai raksasa teknologi global maupun domestik, sekaligus memperkokoh kedaulatan infrastruktur digital di Indonesia.




