Sempat Rontok 2,56%, IHSG Akhirnya Berhasil Bangkit Kembali

Hikma Lia

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi pada perdagangan hari Senin (14/9). Dinamika pasar saham domestik ini diwarnai oleh aksi jual dan beli yang cukup agresif dari para pelaku pasar, yang merespons berbagai sentimen dari dalam negeri. Sempat mengalami tekanan yang cukup dalam di pertengahan sesi perdagangan, indeks saham acuan tanah air ini akhirnya berhasil menunjukkan taji dengan melakukan pemulihan yang signifikan menjelang detik-detik akhir penutupan pasar. Fenomena pergerakan yang fluktuatif ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar modal terhadap isu-isu strategis, terutama yang berkaitan dengan stabilitas politik dan arah kebijakan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan pemerintah yang baru.

Advertisements

Pada perdagangan intraday yang berlangsung hari Senin (14/9) tersebut, IHSG sempat merosot tajam hingga menyentuh angka 2,56%. Penurunan yang cukup drastis ini membawa indeks terjerembab ke level terendahnya hari itu di angka 6.373,96 pada pukul 15.02 WIB. Kejatuhan yang terjadi dalam waktu singkat ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor ritel maupun institusi, mengingat koreksi lebih dari dua persen dalam satu hari perdagangan mencerminkan adanya tekanan jual yang sangat masif. Tekanan ini terjadi seiring dengan ketidakpastian yang sempat menyelimuti pasar terkait dengan pengumuman penting dari pihak istana negara pada sore harinya.

Namun, kondisi pasar segera berubah secara dramatis setelah melewati fase kritis tersebut. Menjelang penutupan pasar, tepatnya pada pukul 15.48 WIB, IHSG justru berbalik arah dan melesat dengan sangat cepat. Indeks berhasil memangkas seluruh pelemahan yang terjadi sebelumnya dan meroket hingga bertengger di level 6.540,50. Pembalikan arah yang sangat cepat ini mengindikasikan adanya aksi beli bersih yang masif dari para investor yang memanfaatkan momentum harga saham yang sudah terdiskon di level rendah sebelumnya. Perubahan arah angin ini sekaligus menunjukkan tingkat kepercayaan pasar yang kembali pulih setelah mendapatkan kejelasan informasi.

Advertisements

Dinamika yang luar biasa pada pergerakan IHSG sepanjang hari perdagangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan situasi politik nasional yang sangat dinamis. Pada hari yang sama, bergulir kabar mengenai rencana perombakan atau reshuffle kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Pasar keuangan sangat mengantisipasi kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto akan melantik sejumlah menteri dan wakil menteri baru di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (14/9) petang. Pelantikan pejabat baru di pos-pos kementerian strategis, terutama yang membidangi sektor ekonomi dan hubungan luar negeri, selalu menjadi perhatian utama para pelaku pasar karena akan menentukan arah kebijakan fiskal dan moneter negara ke depan.

Salah satu keputusan paling krusial yang diumumkan dalam reshuffle kabinet kali ini adalah langkah Presiden Prabowo yang secara resmi memberhentikan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatannya sebagai menteri keuangan. Sebagai gantinya, Presiden Prabowo menunjuk Suahasil Nazara untuk mengisi posisi strategis sebagai menteri keuangan yang baru. Sebelum ditunjuk menjadi menteri keuangan, Suahasil Nazara telah lama mengabdi sebagai wakil menteri keuangan. Penunjukan figur internal yang sudah sangat berpengalaman di Kementerian Keuangan ini dinilai memberikan sinyal positif kepada pasar mengenai adanya kesinambungan kebijakan fiskal, yang pada akhirnya ikut mendorong pemulihan IHSG di akhir sesi perdagangan.

Selain pergantian di pos menteri keuangan, pasar juga dihangatkan oleh berbagai rumor mengenai pergeseran posisi menteri lainnya di dalam kabinet. Berembus kabar kuat bahwa posisi Pratikno yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) akan digantikan oleh Sugiono. Sugiono sendiri saat ini tengah mengemban amanah sebagai menteri luar negeri. Pergeseran posisi menteri koordinator ini tentu menjadi perhatian karena peran strategisnya dalam mengoordinasikan berbagai kebijakan sosial dan kesejahteraan masyarakat yang berdampak pada daya beli riil di tingkat domestik.

Seiring dengan rencana kepindahan Sugiono ke pos Menko PMK, perhatian pasar juga tertuju pada siapa sosok yang akan menggantikan posisinya di Kementerian Luar Negeri. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Katadata.co.id, nama Arrmanatha Nasir muncul sebagai kandidat kuat yang sedang disiapkan untuk menggantikan Sugiono sebagai menteri luar negeri yang baru. Pergantian di pucuk pimpinan diplomasi luar negeri ini sangat krusial bagi investor asing, mengingat peran menteri luar negeri dalam menjaga hubungan bilateral, kerja sama ekonomi internasional, serta menarik investasi langsung ke dalam negeri.

Di tengah riuhnya sentimen politik dan reshuffle kabinet tersebut, aktivitas transaksi para pelaku pasar, khususnya investor asing, mencatatkan dinamika yang menarik. Berdasarkan data yang dirilis oleh Stockbit Sekuritas, pasar modal Indonesia sepanjang sesi pertama perdagangan mencatatkan aksi jual bersih oleh investor asing, atau yang dikenal dengan istilah net foreign sell. Total nilai penjualan bersih oleh investor asing tersebut mencapai angka yang cukup signifikan, yaitu sebesar Rp 664,34 miliar. Aksi lego saham oleh investor asing di paruh pertama perdagangan ini menjadi salah satu faktor utama yang sempat menekan IHSG hingga jatuh ke zona merah yang cukup dalam.

Jika ditelisik lebih terperinci berdasarkan data transaksi dari Stockbit Sekuritas, aktivitas perdagangan investor asing sebenarnya tetap berlangsung sangat aktif dengan volume transaksi yang besar. Tercatat nilai transaksi beli oleh investor asing (foreign buy) mencapai Rp 1,97 triliun di pasar saham tanah air. Namun, nilai tersebut kalah besar dibandingkan dengan nilai transaksi jual oleh investor asing (foreign sell) yang menembus angka Rp 2,63 triliun. Selisih dari kedua angka transaksi inilah yang menghasilkan nilai net foreign sell sebesar Rp 664,34 miliar, yang menggambarkan bahwa pada sesi pertama perdagangan, investor asing cenderung mengambil sikap defensif dengan merealisasikan keuntungan atau mengamankan aset mereka terlebih dahulu di tengah ketidakpastian pengumuman kabinet.

Reaksi pasar yang sempat anjlok namun kemudian pulih dengan cepat menunjukkan bahwa para pelaku pasar, baik domestik maupun internasional, sangat memperhatikan stabilitas kepemimpinan ekonomi. Penggantian menteri keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara tampaknya direspons positif setelah pasar melakukan kalkulasi ulang. Suahasil Nazara, dengan latar belakang akademis dan rekam jejak panjangnya di birokrasi keuangan negara, dianggap mampu menjaga stabilitas makroekonomi dan kredibilitas anggaran pendapatan dan belanja negara. Hal ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar akan adanya perubahan kebijakan yang terlalu drastis atau tidak ramah pasar.

Fenomena fluktuasi IHSG yang terjadi seiring dengan isu reshuffle kabinet ini juga menegaskan kembali teori pasar modal yang menyatakan bahwa pasar saham adalah cerminan dari ekspektasi masa depan. Rumor mengenai pergeseran posisi strategis seperti Menko PMK dari Pratikno ke Sugiono, serta penunjukan Arrmanatha Nasir sebagai menteri luar negeri yang baru, memberikan ruang bagi para spekulan dan investor institusi untuk melakukan penyesuaian portofolio investasi mereka. Ketika ketidakpastian politik mulai mereda seiring dengan kejelasan informasi mengenai siapa saja tokoh yang dilantik di Istana Negara, pasar cenderung kembali ke fundamentalnya dan melakukan aksi beli pada saham-saham yang sudah undervalued.

Peristiwa perdagangan pada Senin (14/9) ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pergerakan bursa saham domestik di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kemampuan IHSG untuk bangkit dari koreksi dalam sebesar 2,56% hingga akhirnya ditutup menguat di level 6.540,50 membuktikan bahwa pasar modal Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap guncangan politik jangka pendek. Meskipun investor asing sempat melakukan aksi jual bersih sebesar ratusan miliar rupiah di sesi pertama, kekuatan daya beli investor domestik serta kembalinya kepercayaan pasar di sesi kedua terbukti mampu menopang indeks hingga kembali ke jalur hijau sebelum bel penutupan perdagangan berbunyi.

Advertisements

Also Read

Tags