Kinerja INCO Diproyeksi Melesat di Semester II 2026, Ini Pendorongnya

Hikma Lia

Prospek kinerja operasional dan keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan akan mengalami perbaikan yang sangat signifikan pada paruh kedua tahun 2026. Langkah pemulihan produksi nikel matte serta lonjakan kontribusi dari penjualan bijih nikel (nickel ore) diyakini akan menjadi pilar utama yang menopang profitabilitas emiten pertambangan ini ke depan. Kombinasi antara optimalisasi fasilitas produksi yang telah selesai diperbaiki dan diversifikasi portofolio produk menempatkan perseroan pada posisi yang kuat untuk menghadapi dinamika pasar komoditas global.

Advertisements

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah sentimen positif yang akan menggerakkan kinerja INCO hingga penghujung tahun 2026. Katalis terpenting yang memicu pergerakan positif ini adalah pemulihan kegiatan operasional secara menyeluruh setelah selesainya program perbaikan besar pada fasilitas produksi utama perseroan. Pemeliharaan berkala dan pembangunan kembali fasilitas ini sebelumnya sempat membatasi kapasitas output, namun kini siap memberikan kontribusi maksimal.

Menurut Harry Su, sentimen utama yang mendorong prospek cerah INCO hingga akhir tahun 2026 meliputi pemulihan volume produksi nikel matte pasca penyelesaian proyek pembangunan kembali Furnace 3 (rebuild Furnace 3), peningkatan volume penjualan bijih nikel secara signifikan, serta adanya potensi perbaikan harga nikel di pasar internasional. Peningkatan utilisasi pada fasilitas produksi yang ada, ditambah dengan aliran pendapatan baru dari penjualan bijih nikel, diproyeksikan mampu memperkokoh struktur pendapatan sekaligus memulihkan tingkat profitabilitas perseroan secara menyeluruh.

Advertisements

Pandangan optimistis dari para pelaku pasar ini didukung kuat oleh realisasi pencapaian operasional yang berhasil dibukukan oleh perseroan sepanjang semester pertama tahun ini. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, memaparkan data bahwa INCO berhasil mencatatkan kenaikan volume produksi nikel matte sebesar 19% secara kuartalan (Quarter on Quarter/QoQ) menjadi 16.153 ton pada kuartal II-2026. Lonjakan produksi yang cukup signifikan ini terjadi setelah selesainya proyek pembangunan kembali Electric Furnace 3 pada Juni 2026. Dengan selesainya proyek tersebut, total produksi nikel matte INCO sepanjang semester I-2026 berhasil menyentuh angka 29.773 ton.

Di samping pemulihan pada lini produksi nikel matte, segmen penjualan bijih nikel (nickel ore) milik PT Vale Indonesia Tbk juga menunjukkan performa yang luar biasa pesat. Analis UBS Global Research, Igor Putra, mencatat bahwa volume penjualan bijih nikel perseroan melesat hingga 139% secara kuartalan (QoQ) menjadi 2,33 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal II-2026. Lonjakan volume penjualan bijih nikel yang sangat masif ini ditopang oleh kontribusi pasokan dari Blok Bahodopi sebesar 1,07 juta wmt saprolite ore dan dari Blok Pomalaa yang menyumbang sebesar 496 ribu wmt.

Harry Su menjelaskan lebih lanjut bahwa keberhasilan meningkatkan produksi nikel matte dan memperluas penjualan bijih nikel memegang peranan yang sangat vital dalam mengoptimalkan struktur biaya dan meningkatkan profitabilitas emiten. Melalui peningkatan volume produksi nikel matte, perusahaan dapat meningkatkan tingkat utilisasi pabrik. Hal ini secara langsung membantu menyerap biaya tetap (fixed cost) operasional dengan lebih efisien, sehingga biaya per unit dapat ditekan secara signifikan. Di sisi lain, penjualan bijih nikel secara langsung memberikan tambahan arus kas masuk yang cepat dan memperkuat likuiditas perusahaan.

Kombinasi harmonis antara peningkatan efisiensi produksi dan diversifikasi pendapatan dari penjualan bijih nikel ini diproyeksikan menjadi pendorong utama bagi perbaikan kinerja keuangan INCO pada semester kedua tahun 2026. Kendati demikian, realisasi pertumbuhan ini akan tetap dipengaruhi oleh fluktuasi harga nikel di pasar global.

Efisiensi biaya operasional yang diterapkan oleh manajemen perseroan sebenarnya sudah mulai tercermin pada laporan keuangan semester I-2026. Laba bersih INCO tercatat melonjak sebesar 313% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi US$ 104 juta pada semester pertama tahun 2026. Pencapaian laba bersih yang fantastis ini didukung oleh keberhasilan perseroan dalam menekan biaya kas (cash cost) produksi nikel matte pada kuartal II-2026 hingga ke level US$ 10.005 per ton.

Igor Putra juga memberikan catatan khusus mengenai efisiensi biaya di tingkat tambang. Biaya kas untuk tambang Pomalaa berhasil ditekan secara signifikan dari yang sebelumnya sebesar US$ 13 per wmt menjadi hanya US$ 7 per wmt pada kuartal II-2026. Penurunan biaya produksi yang sangat tajam ini membuktikan bahwa perseroan memiliki kemampuan eksekusi operasional yang solid di lapangan.

Prospek pemulihan jangka panjang PT Vale Indonesia Tbk juga diperkuat oleh langkah strategis perseroan dalam melakukan diversifikasi model bisnis. Igor menyoroti adanya transisi besar dalam model bisnis INCO, di mana perseroan tidak lagi hanya bergantung pada peran tradisionalnya sebagai produsen nikel matte. INCO kini tengah bertransformasi menjadi pemasok bijih nikel yang kompetitif serta produsen Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) melalui proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026. Langkah hilirisasi ini membuka peluang bagi perseroan untuk masuk ke dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

Walaupun prospek kinerja operasional pada semester kedua tahun 2026 menunjukkan tren yang sangat positif seiring dengan normalisasi operasional dan meningkatnya kontribusi penjualan bijih nikel, Harry Su mengingatkan para pelaku pasar bahwa pergerakan harga saham INCO masih akan diwarnai oleh dinamika pasar global yang fluktuatif. Tren harga nikel dunia, perkembangan realisasi proyek-proyek hilirisasi, serta sentimen makroekonomi terhadap sektor komoditas secara umum akan tetap menjadi faktor penentu arah pergerakan saham perseroan di bursa.

Selain faktor eksternal global, Adrian Djie dan Igor Putra juga menggarisbawahi beberapa risiko operasional internal dan domestik yang perlu diantisipasi oleh manajemen perseroan. Risiko-risiko tersebut meliputi fluktuasi harga komoditas energi yang digunakan dalam proses produksi seperti High Sulfur Fuel Oil (HSFO), diesel, dan batu bara, serta kelancaran proses perizinan kuota penambangan atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah.

Dengan mempertimbangkan seluruh potensi pemulihan operasional, efisiensi biaya yang berjalan baik, serta peluang pertumbuhan dari proyek diversifikasi baru, Harry Su mempertahankan pandangan positif terhadap prospek investasi perseroan. Ia merekomendasikan keputusan beli (buy) untuk saham INCO dengan target harga yang ditetapkan sebesar Rp 7.300 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags