Wilayah kerja (WK) migas Natuna D-Alpha kini telah resmi dikelola oleh PT Nations Petroleum. Anak usaha dari Arsari Group, milik Hashim Djojohadikusumo, pengusaha yang merupakan adik dari Presiden Prabowo Subianto.
Pengelolaan Natuna D-Alpha jatuh ke tangan Nations Petroleum usai perusahaan itu memenangkan lelang WK migas pertama yang dibuka oleh Kementerian ESDM tahun ini. Hasil pemenang lelang tersebut tertulis dalam Surat Keputusan Menteri ESDM No. 108.K/MG.4/DJM/2026 tanggal 17 September 2026.
WK Natuna D-Alpha merupakan salah satu lapangan gas terbesar dengan cadangan migas 230 triliun kaki kubik (TCF) dan 350 juta barel minyak (MMBO). D-Alpha berada di lepas pantai yang letaknya sekitar 250 kilometer dari Kepulauan Natuna.
WK tersebut masuk dalam Blok East Natuna yang pertama kali dieksplorasi oleh Agip pada 1973. Perusahaan Italia ini menemukan struktur lapisan yang berpotensi mengandung gas. Namun, di kemudian hari blok ini diserahkan kembali kepada Indonesia.
Baca juga:
- Anak Usaha Arsari Group Milik Hashim Menang Lelang Blok Migas Natuna D-Alpha
- Arsari Group Milik Hashim Genggam Raksasa Gas Natuna, Akuisisi 75% Blok Duyung
- Katalis Baru Saham WIFI dan ISAT Usai Kongsi Arsari – Indosat Dirikan FiberCo
Kepala SKK Migas yang saat itu menjabat, Dwi Soetjipto, mengatakan pemerintah membagi Blok East Natuna menjadi tiga bagian, yakni Arwana-Barakuda, D-Alpha, dan Paus. Blok ini memiliki kandungan karbondioksida atau CO2 sebesar 71%. Namun, gas yang sanggup dieksploitasi hanya 46 TCF.
Menurut catatan Kementerian ESDM, Natuna D-Alpha ini sebelumnya dikembangkan oleh Pertamina berdasarkan Surat Menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 tertanggal 2 Juni 2008 tentang Status Gas Natuna D Alpha. Namun akhirnya Pertamina menterminasi atau mengembalikan blok tersebut kepada pemerintah pada 2022 lalu.
“Pertamina tidak lepas semua. Yang dikembalikan ke negara hanya Lapangan D-Alpha karena CO2-nya tinggi,” kata Dwi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (12/9/22).
Usai dilepas Pertamina, WK tersebut beberapa kali ditawarkan dalam lelang migas. D-Alpha juga sempat masuk deretan WK migas terbuka karena minimnya minat investor.
Direktur Jenderal Migas yang sebelumnya dijabat Tutuka Ariadji menyebut masalah pengelolaan D-Alpha memang karena medannya yang berat dan keekonomian. “Selain itu infrastrukturnya belum bagus kalau Natuna D-Alpha itu masalah kandungan karbon dioksidanya yang sangat tinggi,” ucap Tutuka.
Tak hanya lelang, WK ini juga pernah masuk dalam daftar studi bersama perusahaan migas asal Kuwait, Kufpec dengan Shell. Rangkaian studi ini memang seharusnya rampung 2026. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut Kufpec kala itu sedang mencari mitra untuk mengembangkan WK Migas Natuna D-Alpha.
“Kufpec itu pemimpin dari Natuna D-Alpha, mereka lagi mencari partner,” ujar Djoko, tahun lalu.
Hampir setahun berselang, WK ini akhirnya jatuh ke tangan Nations Petroleum. Selain D-Alpha, Arsari Group ini juga masuk dalam WK Duyung tahun ini.
Jejak Arsari Group di WK Duyung
Masuknya Arsari Group dilakukan melalui anak usahanya PT Nations Natuna Barat (Nations), mereka tengah merampungkan akuisisi 75% hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Duyung, Cekungan West Natuna, Kepulauan Riau.
Blok migas tersebut mengelola lapangan gas Mako, yang saat ini dikembangkan oleh perusahaan migas asal Australia, Conrad Asia Energy Ltd dalam skema Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Duyung. Adapun aksi korporasi itu ditargetkan rampung sebelum tanggal batas akhir pada kuartal ketiga 2026.
Dalam skemanya Nations membiayai porsi 75% biaya PSC dan sekaligus menanggung bagian WNEL hingga fase pertama pengembangan Mako. Adapun Arsari Group bakal membayar ke WNEL sebesar US$ 16 juta atau sekitar Rp 268,88 miliar (kurs: Rp 16.805 per dolar AS) untuk 75% PI.
Usai transaksi rampung, WNEL akan mempertahankan 25% PI dan tetap menjadi operator PSC Duyung. Porsi WNEL diperkirakan akan sepenuhnya ditanggung (carried) hingga produksi komersial pertama, tergantung persetujuan pemerintah Indonesia.
SKK Migas dan Conrad Asia Energy memulai tahap keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID) pengembangan Lapangan Gas Mako.
Proyek Mako memasuki rangkaian fase utama mulai dari Pre FID pada 2025 hingga mencapai First Gas atau produksi gas pertama (onstream) pada kuartal IV atau November 2027. Kegiatan di WK Duyung mencakup engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, instalasi offshore, hingga commissioning dan start up. Proyek ini ditargetkan dapat beroperasi sesuai jadwal untuk mendukung kebutuhan energi nasional.




