Harga Minyak Global Turun, Begini Prospeknya Hingga Akhir 2026

Hikma Lia

Harga minyak mentah global terpantau mengalami koreksi yang cukup signifikan setelah sebelumnya sempat melonjak tajam dan menyentuh level tertinggi di atas US$ 100 per barel. Penurunan harga komoditas energi utama ini dipicu oleh dua faktor fundamental utama, yakni mulai meredanya risiko geopolitik di sejumlah kawasan strategis serta berangsur pulihnya arus logistik pengapalan pasokan fisik minyak mentah dunia.

Advertisements

Berdasarkan data pasar terbaru yang dihimpun dari Bloomberg pada hari Senin, 21 September 2026, tepatnya pukul 14.20 WIB, pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional menunjukkan tren pelemahan yang nyata. Di bursa New York Mercantile Exchange (Nymex), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman berjangka mencatatkan penurunan sebesar 2,11 persen, yang menempatkannya di level US$ 98,18 per barel. Pelemahan yang senada juga terjadi pada minyak mentah jenis Brent di bursa Intercontinental Exchange (ICE), di mana harganya terkoreksi sebesar 1,97 persen hingga menyentuh level US$ 101,82 per barel. Tren penurunan ini menandai fase konsolidasi setelah harga energi global tersebut sempat berada di posisi puncaknya beberapa waktu lalu.

Faktor Fundamental di Balik Koreksi Harga Minyak

Advertisements

Analis Komoditas sekaligus pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono, memberikan analisis mendalam mengenai dinamika pasar energi saat ini. Menurut penjelasannya, koreksi harga yang terjadi di pasar minyak mentah mencerminkan adanya pergeseran fundamental yang cukup mendasar. Pergeseran ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pemulihan kapasitas ekspor fisik secara bertahap, hilangnya premi risiko akibat ketakutan pasar (fear premium), serta potensi munculnya fenomena kehancuran permintaan atau yang dikenal dengan istilah demand destruction.

Dari sisi pasokan fisik global, pasar mendapatkan sentimen positif dari membaiknya infrastruktur energi utama di Timur Tengah. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah percepatan pemulihan jaringan pipa utama Petroline milik perusahaan raksasa energi Saudi Aramco. Jaringan pipa strategis yang mengarah ke wilayah Laut Merah ini dilaporkan berhasil beroperasi kembali dengan kapasitas penuh lebih cepat dari perkiraan semula. Selain itu, kelancaran distribusi minyak mentah juga didukung oleh mulai pulihnya arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Kombinasi dari kedua faktor logistik ini secara signifikan memperlancar arus distribusi pasokan fisik minyak mentah ke berbagai belahan dunia.

Meredanya Geopolitical Risk Premium Melalui Jalur Diplomasi

Di samping faktor teknis logistik, tekanan geopolitik yang sebelumnya menjadi penggerak utama lonjakan harga minyak kini mulai menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi yang cukup signifikan. Intensitas ketegangan militer dan politik global perlahan-lahan menyurut seiring dengan bergulirnya berbagai upaya diplomatik di tingkat internasional. Salah satu katalis penyejuk pasar yang paling disorot adalah masuknya mediasi diplomatik dari pemerintah China.

Selain mediasi tersebut, munculnya retorika negosiasi yang lebih konstruktif antara Amerika Serikat dan Iran dalam rangkaian agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut memberikan angin segar bagi pelaku pasar. Kondisi kondusif ini pada akhirnya memicu aksi ambil untung (profit taking) secara masif oleh para pelaku pasar komoditas. Wahyu Laksono menegaskan bahwa pelemahan harga minyak mentah belakangan ini merupakan cerminan langsung dari berkurangnya premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium), menyusul adanya sinyal de-eskalasi diplomatik serta pemulihan logistik pengapalan global.

Ancaman Demand Destruction dan Tekanan pada Sektor Hilir

Meskipun risiko militer dan politik mulai mereda, bertahannya harga minyak pada level tinggi dalam beberapa waktu terakhir telah meninggalkan dampak yang cukup berat bagi sektor hilir. Fenomena demand destruction atau kehancuran permintaan mulai membayangi pasar energi global. Hal ini terjadi karena tingginya harga bahan baku minyak mentah telah menekan margin kilang hilir (cracking margins) secara signifikan, terutama di kawasan Asia dan Eropa.

Akibat tergerusnya profitabilitas tersebut, banyak perusahaan kilang minyak terpaksa mengambil kebijakan untuk memangkas tingkat utilisasi operasional mereka. Penurunan aktivitas pengolahan di sektor hilir ini secara otomatis mengurangi volume penyerapan minyak mentah di pasar fisik. Di sisi lain, potensi kenaikan inflasi global yang dipicu oleh tingginya harga energi dalam jangka panjang berisiko memaksa bank-bank sentral dunia untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer). Kebijakan moneter yang ketat ini berpotensi menekan konsumsi bahan bakar komersial serta menghambat aktivitas sektor manufaktur global secara keseluruhan.

Strategi dan Manajemen Risiko bagi Investor Energi

Menghadapi tingkat volatilitas pasar yang sangat tinggi dan sangat sensitif terhadap dinamika berita utama, Wahyu Laksono memberikan panduan strategis bagi para investor. Ia menyarankan agar para pelaku pasar tidak hanya terfokus pada narasi politik global yang sering kali bersifat sementara dan penuh spekulasi. Sebaliknya, investor diimbau untuk lebih cermat dan berkala dalam mencermati data riil di lapangan, seperti volume aliran fisik minyak yang sedang berada di jalur pelayaran (oil on water) serta laporan persediaan minyak mingguan yang dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) dan American Petroleum Institute (API).

Selain itu, dalam hal manajemen risiko, investor sangat disarankan untuk menghindari penggunaan leverage atau daya ungkit yang terlalu tinggi dalam bertransaksi. Hal ini dikarenakan pasar minyak mentah saat ini sangat rentan terhadap pergeseran harga biner yang terjadi secara mendadak, dengan potensi fluktuasi harian berkisar antara 3 persen hingga 5 persen. Bagi para investor yang menanamkan modalnya di sektor saham energi, setiap lonjakan harga tajam (spike) yang mendekati area resistance akibat sentimen berita temporer dapat dimanfaatkan untuk mengambil posisi jual defensif atau merealisasikan keuntungan sebagian (partial profit taking), dengan asumsi proses normalisasi logistik global terus berjalan.

Proyeksi Harga Minyak Mentah Brent dan WTI pada Kuartal IV 2026

Hingga memasuki kuartal keempat tahun 2026, Wahyu Laksono memproyeksikan bahwa tren pergerakan harga minyak mentah global akan berada dalam fase koreksi terdistribusi. Dalam skenario konsensus atau kondisi normalisasi pasar di mana jalur logistik dan pasokan berjalan lancar, harga minyak mentah jenis Brent diproyeksikan akan bergerak dalam rentang harga US$ 80,00 hingga US$ 105,00 per barel. Nilai wajar (fair value) untuk jenis Brent diperkirakan akan melandai ke kisaran US$ 85,00 hingga US$ 90,00 per barel. Namun, jika terjadi eskalasi ketegangan baru di pasar global, harga Brent berpotensi kembali merangkak naik ke kisaran US$ 105,00 hingga US$ 115,00 per barel.

Sementara itu, untuk minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI), harganya diproyeksikan akan bergerak dalam rentang US$ 75,00 hingga US$ 100,00 per barel pada kondisi normalisasi. Proyeksi ini juga memperhitungkan adanya spread atau selisih diskon harga terhadap Brent sebesar US$ 3,50 hingga US$ 5,00 per barel. Adapun dalam skenario eskalasi atau memburuknya situasi pasar global, harga minyak WTI diperkirakan berpotensi naik mencapai kisaran US$ 98,00 hingga US$ 108,00 per barel.

Advertisements

Also Read

Tags