BANYU POS – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Namun, penguatan tersebut berpotensi terbatas seiring pasar mulai mengantisipasi pergerakan dolar AS dan mencermati sentimen global.
Melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.818 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (23/9/2026), menguat 0,37% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.884 per dolar AS.
Pergerakan rupiah di Jisdor BI sejalan dengan rupiah spot. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.803 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu, menguat 0,45% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.883 per dolar AS.
Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan, penguatan rupiah pada perdagangan Rabu (23/9/2026) ditopang oleh sejumlah sentimen, baik dari eksternal maupun domestik.
Begini Arah Pasar Saham Usai Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 5,75%
Dari sisi eksternal, pasar global mencermati sinyal pelonggaran moneter lanjutan di sejumlah negara maju. Kondisi tersebut memicu sedikit aksi risk-on dan aliran modal masuk dalam jangka pendek.
Sementara dari dalam negeri, sentimen utama berasal dari keputusan RDG BI yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Menurut Wahyu, keputusan tersebut memberikan sinyal stabilitas kepada pelaku pasar.
Sikap tersebut juga menegaskan komitmen BI dalam menjaga daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), serta kesiapan melakukan intervensi melalui kebijakan triple intervention di pasar spot, DNDF dan SBN di pasar sekunder.
“Dalam jangka pendek, hasil RDG ini menjadi penahan volatilitas yang efektif (cushion), mencegah pelemahan berlanjut menembus level psikologis Rp18.000 dan memicu aksi technical rebound harian,” jelas Wahyu kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).
Rupiah Mulai Konsolidasi Usai Melemah 9 Hari, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026
Meski demikian, Wahyu menilai ruang penguatan rupiah pada perdagangan Kamis (24/9/2026) masih terbuka, tetapi lajunya berpotensi terbatas dan cenderung konsolidatif.
Penguatan rupiah sekitar 0,50% secara intraday pada perdagangan Rabu dinilai sebagian telah mencerminkan penyesuaian posisi (pricing in) setelah keputusan suku bunga BI.
Pada perdagangan Kamis, keberlanjutan momentum penguatan rupiah akan sangat bergantung pada apakah pelemahan dolar AS pada perdagangan global malam ini dapat bertahan.
“Penguatan lebih lanjut kemungkinan besar akan tertahan di sekitar area support teknikal USD/IDR sebelum pasar kembali bergerak menyamping (sideways),” kata Wahyu.
Ia menjelaskan, secara teknikal, pergerakan USD/IDR pada grafik harian dan bulanan masih berada dalam struktur higher low.
Wahyu memproyeksikan rupiah pada perdagangan Kamis (24/9/2026) akan bergerak dalam rentang Rp 17.700-Rp 17.900 per dolar AS.




