Era boom golf berakhir, lapangan rugi di Jepang berubah jadi PLTS

Hikma Lia

Jepang mulai memanfaatkan bekas lapangan golf sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sejumlah lapangan golf yang dibangun saat ekonomi Jepang tumbuh pesat pada 1980-an kini dialihfungsikan menjadi ladang surya. 

Advertisements

Di Prefektur Gunma, sekitar dua jam perjalanan dari Tokyo, Minohara Country Club akan dialihfungsikan menjadi PLTS. Lapangan golf yang terus merugi itu dibeli perusahaan konstruksi dan properti Kamisato Kensetsu pada 2025. Perusahaan tersebut berencana membangun PLTS berkapasitas 152 megawatt (MW) di lokasi itu.

Menurut Bloomberg, bekas lapangan golf menjadi salah satu lahan terbuka yang masih relatif luas dan dapat dimanfaatkan untuk proyek PLTS di Jepang. Kondisi geografis Jepang yang didominasi pegunungan dan pembangunan yang padat membuat lahan yang sesuai untuk proyek energi terbarukan skala besar semakin terbatas.

Advertisements

Sekitar 9 persen kapasitas PLTS skala besar di Jepang dilaporkan berada di bekas lapangan golf. Ini berdasarkan analisis Bloomberg terhadap data BloombergNEF yang mencakup proyek berkapasitas sedikitnya 0,9 MW.

Baca juga:

  • Bila Singapura Manfaatkan Segala Ruang untuk PLTS, Cuma Pasok Listrik 10%
  • Ancaman Defisit Listrik Vietnam: PLTS, PLTU, hingga Impor Listrik Jadi Solusi
  • PLTS Salip PLTU di Cina, Tapi Listrik Bersih Banyak Tak Terserap, Kenapa?

Sementara itu, sedikitnya 1 gigawatt (GW) proyek PLTS yang telah diumumkan atau sedang dibangun berada di lapangan golf. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total kapasitas proyek PLTS dalam pipeline Jepang.

Pemanfaatan bekas lapangan golf sebagai lokasi PLTS tidak lepas dari perubahan dalam industri golf Jepang. Industri ini berkembang pesat pada 1980-an, ketika ekonomi negara tersebut melesat. Golf dan resor kemudian menjadi simbol kemakmuran perusahaan. Namun, popularitas golf menurun dalam beberapa dekade berikutnya, terutama di wilayah pedesaan yang menghadapi penyusutan populasi.

Pada saat yang sama, kebutuhan Jepang terhadap listrik dari energi terbarukan terus meningkat. Energi surya memasok sekitar 10 persen listrik Jepang pada 2025, dua kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Jepang menargetkan energi surya memenuhi hingga 29 persen kebutuhan listrik pada 2040 sebelum mencapai emisi neto nol pada 2050.

Pemanfaatan lapangan golf untuk PLTS menjadi salah satu solusi masuk akal. Sebab, proyek PLTS skala besar membutuhkan lebih dari sekadar sinar matahari. Pengembang membutuhkan lahan yang relatif datar, akses ke jaringan listrik, serta jarak yang cukup dari kawasan permukiman.

Bekas lapangan golf umumnya memiliki lahan yang relatif terbuka dan dapat digunakan untuk proyek berskala besar. Pemanfaatannya juga dapat mengurangi kebutuhan pembukaan hutan untuk membangun proyek PLTS baru.

Pilihan ini menjadi semakin relevan karena proyek PLTS skala besar menghadapi penolakan masyarakat. Kekhawatiran yang muncul antara lain deforestasi, risiko longsor, dan perubahan lanskap di sekitar proyek.

Baru-baru ini, tepatnya pada Mei lalu, EDP, perusahaan energi asal Portugal, meresmikan operasional PLTS berkapasitas 44 MWp di Prefektur Fukushima yang dibangun di atas 60 hektare bekas lapangan golf. Proyek tersebut menggunakan lebih dari 63 ribu panel surya dan diperkirakan menghasilkan lebih dari 48 GWh listrik per tahun.

EDP telah menandatangani perjanjian jual beli listrik selama 20 tahun dengan raksasa teknologi Amazon untuk proyek tersebut.

Advertisements

Also Read

Tags