Dekarbonisasi sektor listrik menjadi kunci bagi sektor lainnya karena listrik merupakan fondasi utama operasional berbagai industri. Sektor ini juga menjadi enabler dekarbonisasi melalui pasokan listrik rendah karbon yang memungkinkan elektrifikasi dan penurunan emisi.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo menyebutkan, sektor listrik menjadi peluang besar untuk mempercepat dekarbonisasi karena memiliki opsi energi baru terbarukan (EBT) yang kian terjangkau. Namun ia menilai, bauran listrik EBT di sektor ini baru 16-17% sedangkan sumber lainnya masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara.
Meski berpeluang mempercepat dekarbonisasi, pasokan listrik masih bergantung pada PLN dan pembangkit listrik mandiri, termasuk PLTU karena izin penyediaan listrik di luar PLN terbatas pada kawasan industri (KI) dan kawasan ekonomi khusus (KEK).
Menurut Deon, untuk mempercepat transisi energi pemerintah perlu memperkuat perencanaan melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) agar pengembangan pembangkit hingga jaringan distribusi listrik dapat dipetakan.
“Saat ini RUPTL yang terbuka baru milik PLN, sementara wilayah lain sulit dilacak. Pengembangan EBT perlu investasi awal yang besar, sementara kemampuan finansial PLN terbatas, sehingga perlu membuka keterlibatan swasta,” ujar Deon dalam wawancara dengan Katadata, Jumat (18/9).
Kendala lainnya yakni belum memadainya regulasi dan skema bisnis pembangkit EBT. Menurut Deon, saat ini belum ada skema bisnis dari transmisi dan distribusi pembangkit EBT terutama dari swasta.
“Eksekusi pembangkit EBT swasta perlu diperbaiki karena jumlahnya menjadi semakin besar dan proyek EBT juga tersebar sehingga perlu diatur skema business to business,” kata Deon.
Di sisi lain, Katadata ESG Insight (KESGI) melaporkan, sejumlah perusahaan listrik saat ini telah melakukan inisiatif dekarbonisasi dalam kegiatan bisnisnya.
Data KESGI pada 2026 menunjukkan, 84,54% perusahaan sektor utilitas dan listrik telah memiliki manajemen emisi, sedangkan 14,06% perusahaan telah menjalankan strategi transisi iklim. Namun, skor aspek lingkungan di sektor ini masih di kisaran 50-60. Adapun PT Geothermal Energy Tbk mencatatkan skor tertinggi, yakni 66, diikuti PT Cikarang Listrindo Tbk (62) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (60).
Peluang dan Tantangan PLTS Mendorong Dekarbonisasi Kelistrikan
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dapat menjadi alternatif untuk mendorong dekarbonisasi sektor kelistrikan karena berpotensi menghasilkan listrik dengan biaya yang kompetitif. Namun, untuk memenuhi kebutuhan listrik industri non-PLN, PLTS perlu dipadukan dengan baterai guna menjaga stabilitas pasokan akibat sifatnya yang intermiten, sehingga menambah biaya operasional untuk menjaga rantai pasok dan instalasi baterai.
Deon menyampaikan, Indonesia memiliki potensi PLTS sebesar 3.300 gigawatt (GW) yang masih dapat dikembangkan, termasuk untuk menghasilkan excess atau sisa energi yang dimanfaatkan untuk produksi hidrogen hijau sebagai penyimpanan energi.
Menurutnya, PLN menghasilkan excess produksi yang besar, namun justru dibuang karena dapat menyebabkan sistem kolaps. Padahal, excess tersebut dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen hijau maupun hidrogen abu-abu, sehingga biaya produksi bisa mendekati nol.
“Namun syaratnya sistem listrik harus didekarbonisasi dulu dan mengintegrasikan PLTS secara masif. Untuk menyeimbangkan excess tersebut bisa dilakukan dengan memperbaiki aturan kelistrikan agar investasi baterai atau mengoperasikan excess untuk hidrogen,” kata Deon.
Deon menilai, pengembangan PLTS perlu memanfaatkan sifat modularnya dengan memperbanyak proyek berskala keekonomian 50-100 megawatt peak (MWp) yang disebar untuk mengatasi masalah intermiten PLTS.
Strategi ini sekaligus membuka peluang bagi swasta untuk terlibat dalam membangun PLTS, didukung dengan penerapan grid-forming inverter untuk menjaga stabilitas jaringan. Upaya ini menjadi penting karena dekarbonisasi sektor kelistrikan menjadi syarat bagi elektrifikasi industri sebab tanpa penurunan emisi dari sektor ini, elektrifikasi proses industri berpotensi meningkatkan total emisi.




