Prospek Saham Batubara Tetap Solid, Cek Rekomendasi ITMG hingga BUMI

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja emiten batubara diproyeksikan tetap solid hingga akhir tahun 2026.

Advertisements

Kondisi pasar yang kondusif ini terutama didorong oleh terjadinya pengetatan pasokan di pasar domestik serta adanya pemulihan harga komoditas batubara di kancah global. Kombinasi kedua faktor tersebut memberikan ruang bagi para produsen batubara dalam negeri untuk mempertahankan kinerja operasional dan keuangan yang positif. Pengetatan suplai domestik secara langsung menjaga stabilitas harga di tingkat lokal, sementara pemulihan harga global memberikan insentif tambahan bagi peningkatan margin keuntungan dari aktivitas ekspor.

Kendati demikian, bayang-bayang efisiensi operasional dan dinamika kuota produksi masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh para produsen batubara. Kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya operasional di tengah fluktuasi harga energi serta ketepatan dalam mengeksekusi kuota produksi yang diberikan oleh pemerintah akan menjadi penentu utama keberhasilan masing-masing emiten. Pengelolaan biaya yang disiplin akan memisahkan emiten yang mampu menjaga profitabilitas tinggi dengan emiten yang kinerjanya tertekan oleh pembengkakan beban produksi.

Advertisements

Di tengah situasi industri yang dinamis ini, terdapat beberapa rekomendasi saham sektor batubara dari sejumlah analis terkemuka yang dapat dicermati oleh para pelaku pasar untuk perdagangan Senin (5/10/2026):

1. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

Analis UBS Global Research, Timothy Handerson, merekomendasikan buy untuk saham ITMG dengan target harga Rp 30.000 per saham. Prospek kinerja ITMG ke depan dinilai masih cukup kuat karena ditopang oleh harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) yang relatif tinggi di pasar. Kendati memiliki keunggulan dari sisi harga jual, sensitivitas perseroan terhadap pergerakan biaya operasional perlu mendapatkan perhatian yang lebih mendalam dari para investor.

Jika merujuk pada pencapaian sepanjang paruh pertama tahun 2026, ITMG mencatatkan ASP di kisaran US$ 81 per ton, sementara biaya produksi langsung atau cash cost berada di level US$ 67 per ton. Dari sisi operasional tambang, volume produksi ITMG tercatat mengalami penurunan sebesar 5% secara Year-on-Year (YoY) menjadi 9,9 juta ton. Meski demikian, penurunan produksi tersebut berhasil diimbangi oleh volume penjualan yang justru tumbuh positif sebesar 5% menjadi 12,3 juta ton, menunjukkan adanya penyerapan pasar yang sangat baik terhadap cadangan batubara perseroan.

Tantangan biaya mulai terlihat lebih jelas pada kuartal II-2026, di mana cash cost ITMG mengalami kenaikan sebesar 4% secara Quarter-on-Quarter (QoQ) menjadi US$ 68 per ton. Kenaikan ini mengindikasikan adanya tekanan inflasi biaya operasional yang salah satunya bersumber dari peningkatan harga bahan bakar atau fuel cost. Dengan demikian, katalis utama bagi pergerakan saham ITMG hingga akhir tahun ini adalah pembuktian kemampuan manajemen dalam menjaga margin laba bersih melalui peningkatan volume penjualan serta efisiensi biaya yang ketat di tengah tren kenaikan biaya operasional.

2. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, memberikan rekomendasi buy untuk saham PTBA dengan target harga Rp 3.320 per saham. Katalis positif bagi emiten pelat merah ini bersumber dari kombinasi strategis antara peningkatan ASP dan keberhasilan manajemen dalam mengimplementasikan efisiensi biaya secara menyeluruh di seluruh lini operasional tambang.

Pada semester I-2026, PTBA sukses membukukan kinerja keuangan yang sangat impresif dengan raihan laba bersih mencapai sekitar Rp 2,7 triliun, atau mengalami lonjakan luar biasa sebesar 218% secara YoY. Seiring dengan pertumbuhan laba tersebut, margin EBITDA perseroan juga mengalami perbaikan yang signifikan hingga menyentuh level 19%. Kinerja keuangan yang cemerlang ini utamanya didorong oleh kenaikan ASP sekitar 20% secara YoY serta keberhasilan menurunkan rasio pengupasan tanah atau stripping ratio. Stripping ratio yang lebih rendah ini secara langsung memberikan dampak operating leverage yang kuat terhadap perolehan laba bersih perseroan.

Untuk melangkah ke depan, beberapa faktor krusial yang perlu terus dipantau oleh para pelaku pasar adalah realisasi volume produksi dan penjualan di sisa tahun ini, kemampuan mengendalikan biaya produksi tetap rendah, serta konsistensi perusahaan dalam mempertahankan margin keuntungan apabila harga batubara global mulai mengalami fase normalisasi.

3. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)

Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf Setiadi, merekomendasikan buy untuk saham AADI dengan target harga yang ditetapkan sebesar Rp 12.800 per saham. Momentum pertumbuhan laba atau earnings momentum AADI dinilai masih sangat kuat, yang didorong oleh pemulihan volume operasional secara keseluruhan serta tren kenaikan ASP yang berhasil dimanfaatkan dengan optimal oleh perseroan.

Sepanjang semester I-2026, AADI berhasil membukukan laba bersih yang solid senilai US$ 474 juta, atau tumbuh sebesar 11% secara YoY. Memasuki kuartal II-2026, performa operasional AADI semakin solid seiring dengan kenaikan ASP menjadi sekitar US$ 75 per ton, yang dibarengi dengan lonjakan volume penjualan yang signifikan sebesar 22% secara QoQ. Di sisi lain, cash cost perseroan justru berhasil ditekan turun menjadi sekitar US$ 49 per ton. Penurunan biaya produksi ini berhasil dicapai berkat adanya efek skala ekonomi atau economies of scale serta realisasi stripping ratio yang berada di bawah panduan awal yang ditetapkan manajemen.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa ruang bagi pertumbuhan laba bersih AADI pada semester II-2026 masih terbuka lebar. Peluang pertumbuhan tersebut akan terealisasi dengan baik apabila harga batubara di pasar global mampu bertahan di level yang menguntungkan dan target volume produksi serta penjualan perseroan dapat dicapai sesuai dengan rencana kerja akhir tahun.

4. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, merekomendasikan buy untuk saham BUMI dengan target harga Rp 290 per saham. Dalam analisisnya, Kenny menggarisbawahi bahwa saham BUMI memiliki tingkat sensitivitas yang relatif sangat tinggi terhadap kombinasi pergerakan harga batubara, volume produksi riil, serta pengendalian biaya produksi secara keseluruhan.

Meskipun pengetatan pasokan di pasar domestik secara umum dapat menjadi katalis positif bagi kenaikan harga batubara, BUMI masih harus membuktikan kepada para investor bahwa kenaikan harga tersebut dapat dikonversikan secara nyata menjadi peningkatan margin operasional serta penguatan arus kas perusahaan yang sehat. Oleh karena itu, bagi para pemegang saham dan calon investor BUMI, sangat penting untuk mencermati realisasi volume produksi batubara di lapangan, kualitas kalori batubara yang dihasilkan, perkembangan cash cost per ton, rasio pengupasan tanah, serta besarnya kontribusi laba bersih dari anak-anak usaha terhadap earnings konsolidasian grup secara keseluruhan.

Advertisements

Also Read

Tags