Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali menunjukkan kekuatannya dan bergerak menguat pada perdagangan hari Kamis (8/10). Prospek positif ini muncul setelah pada hari sebelumnya, yakni Rabu (7/10), indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut harus rela ditutup di zona merah dengan mengalami koreksi sebesar 0,75 persen, yang membawanya parkir di level 6.146. Meskipun sempat mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada sesi sebelumnya, para analis melihat adanya peluang rebound yang cukup terbuka lebar bagi IHSG dalam jangka pendek.
Pergerakan IHSG yang sempat melemah ini tidak terlepas dari dinamika pasar global dan regional. Dalam beberapa sesi terakhir, IHSG ditutup melemah mengikuti pergerakan bursa saham di kawasan Asia yang juga sedang mengalami tekanan serupa. Sentimen negatif dari pasar regional tersebut sempat menahan laju pertumbuhan indeks domestik. Kendati demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap ketahanan pasar modal dalam negeri. Pihak OJK optimistis bahwa IHSG akan segera pulih usai tertekan oleh kombinasi berbagai sentimen yang terjadi di sepanjang tahun 2026. Keyakinan dari regulator ini memberikan angin segar bagi para pelaku pasar bahwa koreksi yang terjadi saat ini merupakan bagian dari konsolidasi sehat sebelum indeks kembali melanjutkan tren kenaikannya.
Berdasarkan hasil analisis teknikal mendalam yang dirilis oleh MNC Sekuritas, pergerakan IHSG saat ini sedang berada dalam fase yang sangat menarik secara struktur gelombang. Dalam riset harian mereka, MNC Sekuritas memperkirakan bahwa posisi IHSG saat ini tengah berada pada bagian dari wave c dari wave (y) pada label hitam. Struktur gelombang ini mengindikasikan bahwa potensi penguatan jangka pendek masih sangat terbuka untuk menguji level-level resistansi penting di atasnya.
MNC Sekuritas memproyeksikan bahwa area penguatan terdekat akan menguji area gap yang terbentuk di rentang level 6.227 hingga 6.231. Gap dalam analisis teknikal sering kali bertindak sebagai magnet harga, di mana pasar cenderung bergerak untuk mengisi kekosongan harga tersebut sebelum menentukan arah pergerakan selanjutnya. Namun, jika IHSG justru mengalami tekanan balik, area koreksi terdekat berikutnya diperkirakan akan berada di kisaran level 6.118 hingga 6.141. Area ini akan menjadi benteng pertahanan pertama untuk menahan kejatuhan indeks lebih lanjut.
Di sisi lain, jika mengacu pada skenario alternatif yang digambarkan pada label merah, IHSG berpotensi melakukan penguatan yang lebih agresif. Pada skenario label merah ini, target penguatan indeks adalah menguji area resistansi yang lebih tinggi di rentang 6.342 hingga 6.430. Area target ini menjadi sangat krusial karena bertepatan dengan cluster dari Moving Average 20 (MA20) dan Moving Average 60 (MA60). Pertemuan kedua indikator rata-rata bergerak ini akan menjadi ujian berat sekaligus penentu apakah IHSG mampu beralih dari fase konsolidasi menuju tren bullish yang lebih solid dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, peta kekuatan IHSG saat ini dapat dipetakan melalui batas-batas support dan resistance yang cukup lebar. Level support IHSG saat ini diperkirakan berada di rentang 6.091 hingga 5.973. Batas bawah ini menjadi area krusial yang harus dijaga oleh para pelaku pasar untuk mencegah terjadinya pembalikan arah tren jangka panjang menjadi bearish. Sementara itu, untuk sisi atas, level resistance yang harus ditembus demi mengonfirmasi kelanjutan tren penguatan berada di rentang 6.297 hingga 6.376.
Menyikapi peluang penguatan IHSG tersebut, MNC Sekuritas telah menyusun daftar saham pilihan yang dinilai memiliki struktur teknikal menarik dan berpotensi memberikan imbal hasil optimal bagi para investor pada perdagangan Kamis (8/10). Dalam rekomendasi kali ini, saham-saham pilihan seperti AMMN hingga INET menjadi pilihan teratas yang sangat layak untuk masuk ke dalam radar pantau para pelaku pasar. Secara khusus, terdapat empat saham yang direkomendasikan secara mendetail dengan strategi perdagangan yang bervariasi, mulai dari Trading Buy hingga Buy on Weakness. Keempat saham tersebut adalah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Rekomendasi ini juga sejalan dengan proyeksi pergerakan arah indeks yang diharapkan lanjut menguat seperti proyeksi rekomendasi tanggal 6 Oktober 2026.
Saham pertama yang direkomendasikan adalah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk dengan kode emiten BIPI. MNC Sekuritas menyarankan strategi Trading Buy untuk saham ini. Pada sesi perdagangan sebelumnya, saham BIPI tercatat mengalami koreksi dan ditutup di level 132. Penurunan harga ini juga disertai dengan munculnya tekanan jual yang cukup terasa di pasar.
Meskipun sedang mengalami tekanan jual jangka pendek, MNC Sekuritas melihat adanya peluang pembalikan arah yang cukup besar berdasarkan analisis struktur gelombang Elliot. Diperkirakan, posisi saham BIPI saat ini sedang berada pada bagian awal dari wave C dari wave (B). Posisi di awal gelombang C ini biasanya menawarkan potensi penguatan yang signifikan karena gelombang C umumnya merupakan fase pergerakan harga yang cukup impulsif dan berdurasi relatif panjang.
Bagi para pelaku pasar yang ingin memanfaatkan momentum ini, strategi Trading Buy dapat diterapkan dengan melakukan akumulasi pembelian pada kisaran harga 128 hingga 131. Dengan area masuk tersebut, target harga atau take profit pertama diproyeksikan berada di level 140, dan jika momentum penguatan terus berlanjut, target berikutnya berada di level 147. Untuk membatasi risiko kerugian apabila pergerakan harga tidak sesuai dengan skenario yang diharapkan, investor sangat disarankan untuk memasang batas stop loss di bawah level 124.
Saham berikutnya yang masuk dalam daftar rekomendasi adalah PT Darma Henwa Tbk dengan kode emiten DEWA. Untuk saham ini, strategi yang direkomendasikan oleh para analis adalah Buy on Weakness. Pada perdagangan sebelumnya, saham DEWA mengalami koreksi sebesar 1,65 persen dan parkir di level 358. Penurunan ini juga diiringi oleh munculnya tekanan jual dari para pelaku pasar, di mana pergerakan harganya terpantau belum mampu menembus garis Moving Average 20 (MA20).
Secara teknikal, MNC Sekuritas memperkirakan bahwa posisi saham DEWA saat ini sedang berada pada bagian dari wave (iv) dari wave C. Dalam teori gelombang Elliot, wave (iv) merupakan gelombang korektif minor sebelum harga kembali melanjutkan tren naik utamanya pada wave (v). Oleh karena itu, koreksi yang terjadi saat ini dinilai sebagai kesempatan emas bagi investor untuk melakukan pembelian di harga yang lebih murah (Buy on Weakness).
Area beli yang ideal untuk saham DEWA berada pada kisaran harga 348 hingga 358. Jika saham ini berhasil memantul dari area support tersebut dan melanjutkan tren naiknya, maka target harga kenaikan yang dapat disasar adalah di rentang 380 hingga 396. Namun, kedisiplinan dalam membatasi risiko tetap harus diutamakan, dengan menetapkan titik stop loss di bawah level 344 untuk mengantisipasi jika tekanan jual ternyata mendominasi dan merusak struktur gelombang naik yang telah terbentuk.
Rekomendasi ketiga jatuh pada saham PT Hartadinata Abadi Tbk dengan kode emiten HRTA. Strategi yang disarankan untuk saham di sektor perhiasan dan emas ini adalah Trading Buy. Pada penutupan pasar sebelumnya, saham HRTA ditutup melemah sebesar 1,83 persen menuju level 2.150. Koreksi harga ini didominasi oleh tekanan jual yang cukup kuat, yang menyebabkan posisi harga saham HRTA saat ini berada di bawah indikator Moving Average 20 (MA20).
Meskipun berada di bawah MA20, MNC Sekuritas melihat adanya indikasi bahwa penurunan harga HRTA sudah mulai terbatas. Berdasarkan perhitungan gelombang, posisi HRTA diperkirakan sedang berada di awal wave (c) dari wave (b). Struktur ini menunjukkan bahwa fase koreksi jangka pendek akan segera berakhir dan saham ini bersiap untuk memulai fase pemulihan yang cukup cepat melalui pembentukan gelombang (c).
Investor dapat mulai mencicil pembelian dengan strategi Trading Buy pada area konsolidasi di kisaran 2.110 hingga 2.130. Target kenaikan harga untuk saham HRTA diperkirakan akan menguji level resistansi di rentang 2.250 hingga 2.300 dalam jangka pendek. Sementara itu, batas pengaman atau stop loss wajib ditempatkan di bawah level 2.080 untuk menghindari risiko penurunan yang lebih dalam jika tekanan jual kembali meningkat secara tidak terduga.
Saham terakhir yang menjadi andalan dalam rekomendasi kali ini datang dari sektor telekomunikasi, yaitu PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dengan kode emiten TLKM. Berbeda dengan tiga saham sebelumnya yang ditutup melemah, saham TLKM justru berhasil mencatatkan kinerja positif pada perdagangan sebelumnya dengan menguat sebesar 1,32 persen ke level 2.310. Penguatan harga saham TLKM ini juga dikonfirmasi oleh munculnya peningkatan volume pembelian yang cukup signifikan, menandakan adanya akumulasi dari para pelaku pasar besar.
Meskipun telah mengalami penguatan pada hari sebelumnya, MNC Sekuritas menyarankan strategi Buy on Weakness untuk TLKM. Hal ini dikarenakan posisi TLKM saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (iv) dari wave (c). Karena berada pada gelombang korektif minor (wave iv), ada kemungkinan harga saham TLKM akan mengalami konsolidasi atau koreksi sehat terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan reli kenaikan pada gelombang berikutnya.
Oleh karena itu, para investor disarankan untuk bersabar dan menunggu momentum koreksi sehat tersebut untuk melakukan pembelian di area yang lebih aman, yaitu pada kisaran harga 2.250 hingga 2.310. Jika saham TLKM berhasil mempertahankan posisinya di area tersebut dan kembali bergerak naik, target harga yang dapat dicapai berada di rentang 2.400 hingga 2.460. Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko volatilitas pasar, tingkat stop loss dapat ditempatkan di bawah level 2.200.




