Saham yang baru melantai di bursa atau melakukan Initial Public Offering (IPO) sering menarik perhatian investor karena harganya berpotensi naik pada hari pertama perdagangan. Fenomena ini membuat banyak orang tertarik membeli saham sejak awal, dengan harapan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Namun, kenaikan harga saham IPO tidak terjadi secara otomatis karena ada sejumlah faktor yang memengaruhi permintaan dan penawaran di pasar.
IPO merupakan proses ketika perusahaan menawarkan sahamnya kepada publik untuk pertama kali melalui pasar modal. Setelah resmi tercatat di bursa, harga saham mulai bergerak mengikuti transaksi yang dilakukan investor. Lantas, kenapa saham IPO sering mengalami kenaikan harga pada hari pertama perdagangan?
1. Harga IPO ditetapkan sebelum saham diperdagangkan
Harga penawaran saham IPO ditentukan sebelum perdagangan reguler dimulai, melalui proses yang mempertimbangkan valuasi perusahaan dan minat investor. Artinya, harga tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dinamika permintaan dan penawaran ketika saham mulai diperdagangkan di bursa. Jika harga penawaran dinilai menarik dibandingkan prospek perusahaan, investor bisa berbondong-bondong membeli saham tersebut.
Ketika permintaan beli lebih besar daripada jumlah saham yang ingin dijual pada harga tertentu, harga berpotensi naik. Kondisi ini dapat membuat saham dibuka atau diperdagangkan di atas harga IPO. Meski demikian, harga penawaran yang terlihat murah belum tentu benar-benar murah jika dibandingkan dengan kinerja dan valuasi perusahaan.
2. Antusiasme investor menciptakan permintaan tinggi
Saham IPO kerap mendapat perhatian besar karena menawarkan kesempatan memiliki saham perusahaan yang baru masuk ke pasar modal. Antusiasme tersebut bisa meningkat ketika perusahaan memiliki merek terkenal, bisnis yang sedang berkembang, atau sektor usaha yang diminati investor. Banyaknya calon pembeli dapat mendorong permintaan saham sejak awal perdagangan.
Namun, tingginya minat saat masa penawaran belum tentu berarti semua investor akan membeli saham setelah pencatatan. Sebagian investor mungkin hanya mengikuti tren, sementara yang lain benar-benar mempertimbangkan prospek bisnis perusahaan. Jika antusiasme tidak didukung permintaan yang berkelanjutan, kenaikan harga saham bisa kehilangan momentum.
3. Jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan terbatas
Tidak semua saham perusahaan langsung tersedia untuk diperjualbelikan secara bebas setelah IPO. Sebagian saham dimiliki pemegang saham lama atau pihak lain yang kepemilikannya tunduk pada ketentuan tertentu, sehingga jumlah saham yang aktif diperdagangkan bisa lebih terbatas. Ketika jumlah saham yang ditawarkan di pasar relatif sedikit, permintaan besar dapat memberikan tekanan kenaikan harga.
Situasi tersebut bisa membuat pergerakan harga saham menjadi lebih tajam dibandingkan saham dengan likuiditas tinggi. Akan tetapi, jumlah saham beredar yang terbatas juga dapat meningkatkan risiko volatilitas ketika banyak investor mulai menjual sahamnya. Karena itu, investor perlu memperhatikan jumlah saham yang ditawarkan, kepemilikan publik, dan likuiditas sebelum mengambil keputusan.
4. Investor berharap mendapat keuntungan jangka pendek
Sebagian investor membeli saham IPO dengan strategi listing gain, yaitu berharap memperoleh keuntungan dari kenaikan harga setelah saham resmi tercatat di bursa. Strategi ini dapat memperbesar permintaan pada awal perdagangan, terutama jika investor memperkirakan harga pasar akan berada di atas harga penawaran. Ekspektasi keuntungan tersebut terkadang ikut mendorong kenaikan harga dalam waktu singkat.
Di sisi lain, investor yang sudah memperoleh saham saat penawaran dapat memilih menjualnya ketika harga naik. Jika banyak pemegang saham melakukan aksi ambil untung secara bersamaan, tekanan jual dapat meningkat dan harga berpotensi terkoreksi. Oleh sebab itu, saham IPO yang naik tajam pada pagi hari belum tentu mampu mempertahankan kenaikannya hingga penutupan perdagangan.
5. Valuasi dan prospek perusahaan memengaruhi sentimen pasar
Investor juga mempertimbangkan kondisi keuangan, model bisnis, peluang pertumbuhan, serta posisi perusahaan di industrinya. Jika perusahaan dinilai memiliki prospek kuat dan harga IPO dianggap wajar, pasar mungkin bersedia membayar lebih tinggi setelah saham mulai diperdagangkan. Sebaliknya, perusahaan dengan risiko bisnis besar atau valuasi yang terlalu tinggi bisa kesulitan mempertahankan minat investor.
Untuk menilai saham IPO, investor dapat mempelajari prospektus, pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, penggunaan dana hasil IPO, serta rasio valuasi seperti price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) jika relevan. Perbandingan dengan perusahaan sejenis juga membantu memberikan gambaran apakah harga penawarannya masuk akal. Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada tren kenaikan harga pada hari pertama.
Saham IPO sering naik pada hari pertama karena kombinasi harga penawaran yang menarik, antusiasme investor, keterbatasan saham yang diperdagangkan, dan ekspektasi keuntungan jangka pendek. Namun, setiap IPO memiliki karakteristik berbeda, sehingga tidak ada jaminan bahwa saham baru akan selalu mengalami kenaikan setelah pencatatan. Investor tetap perlu memahami faktor yang mendorong pergerakan harga sebelum memutuskan untuk membeli.
Kenaikan harga pada hari pertama juga tidak otomatis menunjukkan bahwa perusahaan memiliki fundamental yang kuat atau sahamnya layak disimpan dalam jangka panjang. Sebelum berinvestasi, periksa prospektus, valuasi, kondisi keuangan, dan risiko bisnis perusahaan secara menyeluruh. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menghindari keputusan impulsif hanya karena takut melewatkan peluang keuntungan atau fear of missing out (FOMO).
Bagaimana Harga Saham Ditentukan saat IPO? Ini Penjelasannya! 5 Risiko Beli Saham IPO Hanya karena Popularitas Emitennya Kenapa Harga IPO Bisa Berbeda dari Harga Saham setelah Listing?




