Mengukur risiko akuisisi Haji Isam di BYAN dari gadai saham PGUN & JARR

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA — Transaksi akuisisi 30,25% saham BYAN oleh Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama dinilai dapat menimbulkan risiko pembiayaan, terutama jika harga saham PGUN dan JARR yang dijaminkan turun tajam. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan kondisi yang dialami Grup Bakrie pada 2008.

Advertisements

Sebagaimana diketahui, Haji Isam telah mengakuisisi 10,08 miliar saham BYAN pada 7 Oktober 2026, setara dengan 30,25% kepemilikan, dengan harga transaksi Rp2.588 per saham, sehingga total nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp26,10 triliun.

Transaksi tersebut dibiayai melalui fasilitas kredit dari Bank Mandiri dengan jaminan berupa saham PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR), dua perusahaan yang juga terafiliasi dengan Haji Isam.

Advertisements

Pada JARR, PT Eshan Agro Sentosa sebagai pemegang 86,64% saham perseroan menggadaikan 100% kepemilikan sahamnya kepada Bank Mandiri. 

Sementara pada PGUN, terdapat tiga pemegang saham pengendali yang menggadaikan seluruh kepemilikannya kepada Bank Mandiri. Ketiganya yakni PT Araya Agro Lestari dengan kepemilikan 38,44%, PT Citra Agro Raya sebesar 38,25%, dan PT Baramega Cipta Mulia Persada sebesar 15,69%. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin menghitung bahwa berdasarkan harga penutupan 8 Oktober 2026, saham-saham yang dijaminkan bernilai Rp73,0 triliun, terdiri dari JARR sebesar Rp24,9 triliun dan PGUN sebesar Rp48,1 triliun. 

Dengan asumsi nilai fasilitas kredit yang diberikan Bank Mandiri sesuai nilai akuisisi, yakni sebesar Rp26,10 triliun, maka nilai saham yang dijadikan agunan sebesar Rp73 triliun, mengimplikasikan cakupan jaminan sebesar 2,8 kali atau loan to value (LTV) sekitar 36%.

“Namun, bantalan pengamannya tidak sebesar yang terlihat. LTV meningkat menjadi 41% jika menggunakan harga rata-rata 90 hari, dan menjadi 65% jika menggunakan harga terendah dalam 90 hari,” kata Nurkholis dalam risetnya, dikutip Sabtu (10/10/2026).

Selain itu, sekitar 66% dari total nilai jaminan berasal dari saham PGUN, yang diperdagangkan dengan nilai transaksi harian di bawah Rp1 miliar dan memiliki rasio price-to-earnings (P/E) sekitar 178 kali. 

“Kondisi tersebut membuat saham dalam jumlah besar itu nyaris mustahil dilikuidasi secara praktis,” ujarnya.

Krisis Grup Bakrie 2008

Nurkholis menilai risiko tersebut punya kemiripan dengan krisis pada 2008 yang dialami PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNRB). Saat itu, Grup Bakrie meminjam uang dengan menjaminkan saham, lalu kejatuhan harga saham membuat nilai jaminan tidak lagi cukup untuk menutup utang.

Pada Januari 2008, Bakrie & Brothers mengumumkan akuisisi senilai Rp48,4 triliun untuk mengambil alih kepemilikan pengendali di PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan dua perusahaan afiliasinya. 

Pada periode April–Oktober 2008, kelompok usaha tersebut dilaporkan meminjam sekitar US$1,2 miliar sampai US$1,4 miliar dengan menjaminkan saham BUMI dan perusahaan afiliasinya, yang pada puncak valuasi diperkirakan bernilai sekitar US$6 miliar.

Angka tersebut mengimplikasikan LTV hanya sekitar 20%–25% pada puncak harga, lebih rendah dibandingkan LTV BMRI yang diperkirakan sekitar 36% saat ini.

Saat itu, utang tersebut diambil ketika harga saham berada di dekat puncaknya. Harga BUMI melonjak dari Rp950 pada Januari 2008 menjadi rekor Rp8.750 pada Juni 2008. Rasio P/E berdasarkan proyeksi laba (forward P/E) juga mencapai puncak sekitar 25,8 kali pada Desember 2007, lebih dari rata-rata periode 2005–2009 sebesar 10,3 kali.

Pada 6 Oktober 2008, saham-saham yang dijaminkan dilaporkan hanya bernilai sekitar US$1,35 miliar. Kondisi ini mendorong LTV melampaui 100%, bahkan dengan asumsi yang konservatif. Saat itu, sebanyak enam saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie disuspensi oleh BEI.

Ketika perdagangan kembali dibuka pada 6 November 2008, BUMI menyentuh batas penurunan harga otomatis (auto-rejection bawah/ARB) selama empat hari berturut-turut. Antrean jual pada hari pertama dilaporkan mencapai sekitar 1,9 miliar saham, setara dengan sekitar 10% dari total saham beredar.

“Kreditur meminta penambahan jaminan. Di salah satu kreditur, jumlah saham BUMI yang dijaminkan hampir berlipat ganda, dari 697 juta menjadi 1,3 miliar saham,” jelas Nurkholis.

Pada akhirnya, utang Bakrie dialihkan kepada Northstar, Brentwood, dan Ancora dengan imbalan saham BUMI yang dijaminkan. Rasio P/E berdasarkan proyeksi laba BUMI mencapai titik terendah 1,2 kali pada 24 November 2008, meskipun perusahaan tersebut masih membukukan laba bersih US$645 juta sepanjang 2008.

Kembali ke BYAN dan BMRI, Nurkholis menilai bahwa sebagai satu-satunya penerima jaminan, BMRI kemungkinan tidak akan memaksakan penjualan pada harga yang tertekan. Namun, karena seluruh saham pengendali telah dijaminkan, Jhonlin tidak lagi memiliki saham tersisa untuk menambah agunan apabila LTV meningkat. 

“Penurunan nilai jaminan sekitar 64% akan membuat nilainya berada di bawah jumlah pinjaman yang diasumsikan,” pungkasnya.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read