BANYU POS – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada akhir perdagangan Jumat (9/10/2026). IHSG ditutup menguat 1,04% atau 62,48 poin ke level 6.093,76.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari atau moving average (MA20) di kisaran 6.244. Kondisi ini menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat belum cukup kuat untuk mengonfirmasi perubahan tren.
“Jika mampu menembus level 6.215, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju MA20 di 6.244. Sebaliknya, jika kembali turun di bawah 6.000, risiko koreksi lanjutan meningkat dengan support berikutnya di 5.854,” jelas Reza Jumat (9/10/2026).
Jelang Evaluasi MSCI November 2026, Ini Rekomendasi Analis untuk Para Investor Ritel
Untuk pekan depan, Reza memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dengan volatilitas tinggi di rentang 6.000–6.215. Resistance terdekat berada di level 6.155 dan 6.215.
Jika mampu menembus 6.215, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju MA20 di sekitar 6.244.
Sebaliknya, jika kembali turun di bawah 6.000, indeks berisiko melanjutkan koreksi dengan support berikutnya di 5.854.
Menurut Reza, pergerakan pasar saham domestik masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal dalam sepekan ini. Di antaranya, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), kenaikan imbal hasil US Treasury, tekanan terhadap rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS, serta harga minyak Brent yang bertahan di atas US$ 100 per barel.
Ledger Selidiki Dugaan Pencurian Kripto US$ 72 Juta, Reseller Asia Tenggara Disorot
“Sentimen tersebut meningkatkan risiko inflasi global. Pekan depan, investor juga akan mencermati data inflasi AS atau consumer price index (CPI) pada 14 Oktober, producer price index (PPI) pada 15 Oktober, serta data harga impor dan ekspor AS pada 16 Oktober,” ujar Reza kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Rangkaian data ekonomi AS tersebut berpotensi mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.




