Perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) terus menarik perhatian pasar global, terutama ketika perusahaan di balik ChatGPT menunjukkan ambisi pertumbuhan yang semakin besar. OpenAI dikabarkan menargetkan pendapatan tahunan yang disetahunkan mencapai 70 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1.253 triliun pada akhir 2026. Angka ini memperlihatkan besarnya potensi bisnis AI, terutama dari layanan yang digunakan perusahaan untuk mendukung operasional mereka.
Namun, kabar mengenai proyeksi pendapatan tersebut juga memicu perhatian investor setelah saham teknologi mengalami tekanan di pasar Amerika Serikat. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa perkembangan bisnis OpenAI bisa ikut memengaruhi pergerakan saham teknologi? Berikut lima hal penting yang perlu kamu pahami.
1. OpenAI membidik pendapatan Rp1.253 triliun pada akhir 2026
Dikutip dari Yahoo Finance, OpenAI diperkirakan mampu mencapai atau melampaui pendapatan tahunan yang disetahunkan sebesar 70 miliar dolar AS pada akhir 2026. Jika dikonversi menggunakan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS. Angka tersebut menjadi gambaran besarnya peluang bisnis yang tengah dikejar perusahaan pengembang ChatGPT itu. Meski begitu, kamu perlu memahami bahwa angka ini masih berupa proyeksi, bukan pendapatan final yang sudah dibukukan sepanjang tahun.
Pada akhir September 2026, pendapatan tahunan yang disetahunkan OpenAI disebut telah mencapai sekitar 50 miliar dolar AS atau setara Rp895 triliun. Perhitungan ini menggambarkan perkiraan pendapatan selama satu tahun dengan menggunakan kinerja dalam periode yang lebih pendek. Artinya, angka tersebut gak sama dengan total penjualan yang benar-benar diperoleh OpenAI selama Januari hingga September 2026. Perusahaan masih harus mempertahankan pertumbuhan bisnisnya agar target yang diproyeksikan pada akhir tahun bisa tercapai.
Informasi mengenai proyeksi pendapatan tersebut muncul di tengah pembicaraan OpenAI dengan investor mengenai pendanaan baru. Perkiraan pendapatan tahunan OpenAI mendekati 70 miliar dolar AS. Angka ini merupakan estimasi pendapatan selama setahun berdasarkan laju pendapatan perusahaan saat itu, bukan total pendapatan yang sudah benar-benar diperoleh sepanjang 2026. Karena itu, metode perhitungan perlu diperhatikan supaya kamu gak keliru memahami angka yang beredar di pasar.
2. Bisnis perusahaan menjadi pendorong utama pertumbuhan
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan OpenAI adalah perkembangan bisnisnya di kalangan perusahaan. Layanan AI semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan, mengolah informasi, meningkatkan produktivitas, hingga mendukung berbagai kebutuhan operasional. Permintaan dari segmen ini berpotensi memberikan pemasukan berulang bagi OpenAI melalui layanan berbayar. Karena itu, pertumbuhan bisnis perusahaan menjadi aspek penting yang diperhatikan investor ketika menilai prospek pendapatan OpenAI.
Meski demikian, kamu perlu melihat proyeksi pendapatan perusahaan AI secara lebih cermat. Pendapatan yang terus meningkat memang menunjukkan adanya permintaan terhadap produk mereka, tapi angka tersebut belum otomatis menggambarkan keuntungan bersih. Perusahaan tetap harus memperhitungkan biaya pengembangan teknologi, pengoperasian pusat data, kebutuhan komputasi, dan berbagai pengeluaran lainnya. Dengan demikian, besarnya pendapatan perlu dilihat bersama kondisi keuangan dan kemampuan perusahaan mengelola biaya operasionalnya.
Hal ini juga penting karena pengembangan AI membutuhkan dukungan infrastruktur dan investasi yang besar. Semakin banyak pelanggan menggunakan layanan AI, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk memastikan kapasitas komputasi dan kualitas layanannya tetap memadai. Jika pertumbuhan pendapatan mampu mengimbangi biaya tersebut, peluang bisnisnya bisa semakin menarik. Sebaliknya, pertumbuhan penjualan yang tinggi tetap perlu diimbangi pengelolaan biaya yang baik agar bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan.
3. Perbedaan perhitungan pendapatan memicu kebingungan investor
Angka pendapatan OpenAI sempat menjadi perhatian setelah sejumlah pemberitaan menyebut perusahaan tersebut telah memproyeksikan pendapatan tahunan yang disetahunkan mendekati 70 miliar dolar AS. Namun, perhitungan dari investor dan pemberitaan lain menunjukkan angka yang berbeda. Salah satu penyebabnya berkaitan dengan metode penghitungan pendapatan dari penyedia layanan cloud. Perbedaan cara mencatat pendapatan tersebut bisa menghasilkan angka yang tidak sepenuhnya sebanding antara satu perusahaan AI dan perusahaan lainnya.
Situasi ini penting dipahami karena pendapatan tahunan yang disetahunkan sering digunakan untuk menggambarkan kecepatan pertumbuhan bisnis AI. Meski begitu, metrik tersebut bukanlah ukuran yang seragam untuk semua perusahaan. OpenAI dan Anthropic, misalnya, dapat memiliki pendekatan perhitungan yang berbeda, termasuk dalam memperlakukan pendapatan dari penyedia cloud. Jika kamu melihat angka pendapatan dua perusahaan AI yang tampak berdekatan, jangan langsung menyimpulkan bahwa skala bisnis keduanya sama tanpa memeriksa metode perhitungannya.
Anthropic sebelumnya dilaporkan memiliki pendapatan tahunan yang disetahunkan sebesar 65 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026. Dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp1.163,5 triliun. Angka ini memperlihatkan besarnya persaingan di industri AI, terutama dalam merebut pelanggan korporasi. Namun, perbandingan langsung antara Anthropic dan OpenAI tetap perlu dilakukan secara hati-hati karena perbedaan metode pencatatan dan periode pengukuran dapat memengaruhi hasilnya.
4. Saham teknologi tertekan setelah proyeksi pendapatan disorot
Perkembangan bisnis OpenAI ikut menjadi perhatian pasar setelah saham teknologi memimpin penurunan indeks S&P 500, menyusul pemberitaan mengenai proyeksi pendapatan tahunan perusahaan yang dinilai lebih rendah daripada sejumlah perkiraan sebelumnya. Indeks Nasdaq 100 tercatat turun 1,4 persen, sedangkan indeks yang mengukur pergerakan saham perusahaan pembuat chip merosot 3,4 persen.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa kabar seputar bisnis AI dapat menjadi perhatian investor di tengah tingginya ekspektasi terhadap industri tersebut. Meski demikian, penurunan indeks tidak serta-merta membuktikan bahwa proyeksi pendapatan OpenAI menjadi satu-satunya penyebab tekanan di pasar.
Mengapa kabar mengenai pendapatan sebuah perusahaan AI bisa memengaruhi saham teknologi lainnya? Salah satu alasannya adalah tingginya ekspektasi investor terhadap pertumbuhan industri AI, termasuk kebutuhan terhadap chip, pusat data, dan infrastruktur komputasi. Jika pertumbuhan bisnis AI diperkirakan gak secepat harapan pasar, investor bisa menilai kembali prospek perusahaan yang dianggap ikut diuntungkan oleh perkembangan teknologi tersebut. Dampaknya, saham perusahaan lain dalam ekosistem AI juga berpotensi mengalami tekanan.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan pasar saham, situasi ini memperlihatkan pentingnya membedakan antara potensi jangka panjang dan ekspektasi jangka pendek. Industri AI masih menawarkan peluang pertumbuhan, tapi harga saham dapat bergerak naik turun ketika informasi baru mengubah penilaian investor. Pergerakan pasar juga dipengaruhi faktor lain, seperti kondisi ekonomi, suku bunga, dan kinerja masing-masing perusahaan. Karena itu, satu berita mengenai OpenAI sebaiknya jangan langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan arah pasar teknologi secara keseluruhan, ya.
5. Pendanaan Rp537 triliun dan rencana IPO menjadi perhatian berikutnya
Di tengah ambisi pertumbuhan bisnisnya, OpenAI dikabarkan sedang berdiskusi untuk menghimpun pendanaan baru senilai US$30 miliar atau lebih. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp537 triliun. Perusahaan tersebut disebut mengejar valuasi sekitar 1,4 triliun dolar AS atau setara Rp25.060 triliun sebelum dana baru masuk. OpenAI juga dilaporkan menjajaki pembicaraan dengan sejumlah dana investasi dari Uni Emirat Arab, termasuk MGX yang berbasis di Abu Dhabi, untuk membantu menopang putaran pendanaan tersebut.
Sebagai gambaran, OpenAI sebelumnya menghimpun pendanaan sebesar 122 miliar dolar AS pada Maret 2026, dengan valuasi 852 miliar dolar AS yang sudah memperhitungkan dana dalam putaran tersebut. Berdasarkan asumsi kurs yang sama, pendanaan itu setara dengan sekitar Rp2.183,8 triliun, sedangkan valuasinya mencapai sekitar Rp15.250,8 triliun. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap potensi perkembangan bisnis AI. Namun, valuasi perusahaan gak sama dengan pendapatan ataupun keuntungan yang dihasilkan, sehingga ketiganya perlu dibedakan ketika kamu menilai kondisi keuangan OpenAI.
Rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) juga menjadi perhatian. OpenAI disebut menunda rencana IPO hingga setidaknya 2027 karena ingin memprioritaskan upaya keselamatan AI. Sementara itu, Anthropic diperkirakan berpotensi menawarkan saham kepada publik paling cepat pada November 2026. Jika rencana tersebut berkembang sesuai perkiraan, persaingan antara kedua perusahaan akan semakin menarik untuk diikuti, terutama dalam hal pengembangan teknologi, penghimpunan modal, dan upaya memenuhi ekspektasi investor.
Target pendapatan Rp1.253 triliun memperlihatkan besarnya ambisi OpenAI dalam mengembangkan bisnis AI hingga akhir 2026. Namun, kamu perlu memahami bahwa angka tersebut merupakan proyeksi pendapatan tahunan yang disetahunkan, bukan jaminan pendapatan final ataupun keuntungan bersih perusahaan.
Perbedaan metode perhitungan pendapatan, kebutuhan pendanaan hingga ratusan triliun rupiah, dan ekspektasi investor menjadi faktor penting dalam membaca perkembangan bisnis OpenAI. Sementara itu, tekanan pada saham teknologi mengingatkan kita bahwa potensi besar industri AI tetap disertai risiko dan ketidakpastian yang perlu diperhatikan.
Kenapa OpenAI Menunda IPO hingga 2027? Ini Alasannya Apple Gugat OpenAI atas Dugaan Pencurian Rahasia Dagang OpenAI Diam-Diam Ajukan IPO, Investor Ritel Berpeluang Ikut Masuk




