Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pergeseran pola konsumsi masyarakat dari kebutuhan pokok ke gaya hidup. Kepala BPS Amalia Adininggar mengatakan secara keseluruhan BPS menilai daya beli masyarakat pada semester pertama 2026 terbilang masih kuat.
“Daya beli masyarakat di Indonesia ini berdasarkan catatan BPS itu memang masih kuat karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5% untuk konsumsi masyarakat,” kata Amalia usai bertemu dengan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Hari Wibowo, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (12/10).
Amalia menyatakan BPS memotret adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat karena dipengaruhi oleh gaya hidup yang berbeda. Data BPS menunjukkan konsumsi masyarakat meningkat untuk transportasi, restoran, hingga hotel.
“Nah, ini karena memang pola konsumsi masyarakatnya yang lebih pada mobilitas, kemudian traveling itu memang terekam di data kami,” katanya.
Baca juga:
- Pemerintah Klaim Daya Beli Masyarakat Tak Melemah, Warga Hobi Jalan-Jalan
- Minyak di Atas US$100, Industri Tertekan Dua Sisi: Beban Biaya dan Daya Beli
- Kemendag Bantah Daya Beli Turun, Bidik Bisnis Waralaba Tumbuh 7% Tahun Ini
Pada kesempatan yang sama, Drajad menyampaikan hal senada. Ia merujuk pada data BPS yang menunjukkan pertumbuhan di sektor transportasi dan pariwisata.
“Transportasi itu tinggi sekali, karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang ‘halan-halan’, jalan-jalan, ya. Dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali. Restoran dan hotel juga, ya. Pariwisata meningkat, pariwisata meningkat sekali, ya,” kata Drajad.
Transaksi QRIS dan Belanja Online
Di sisi lain, ia menyebut terdapat peningkatan transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS, yang mana meningkat lebih dari 100%.
“Transaksi QRIS itu penikatannya sampai di atas 100%, ya. Ya kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi, ya,” katanya.
Selain itu juga, ia menuturkan, terdapat pergeseran di mana saat ini masyarakat banyak memilih belanja secara daring, salah satunya melalui marketplace.
“Jadi yang terjadi itu bukan daya beli melemah. Enggak, sama sekali enggak betul. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan, termasuk di dalamnya adalah konsumsi di marketplace, konsumsi di online, ya. Itu salah satu, tapi ada pergeseran,” kata dia.
Amalia pun menuturkan hal serupa. Data BPS menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat berbelanja.
“Memperkuat tadi apa yang disampaikan oleh Pak Wamenko, kami juga mencermati adanya shifting cara masyarakat berbelanja, yang tadinya belanja offline, sekarang belanja melalui transaksi elektronik itu meningkat besar,” katanya.




