BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi I parkir di zona merah turun 0,42% atau 24,69 poin ke level 5.911,46 pada perdagangan, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan data IDX Mobile, pukul 11.35 WIB, IHSG turun tipis 0,42% atau 24,69 poin ke 5.911,46. Sepanjang perdagangan intraday, indeks bergerak di level terendah 5.828,68 dan sempat menanjak ke posisi 5.927,13.
Adapun, nilai kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp10.378 triliun. Sejumlah 331 saham menguat, sejumlah 345 saham menurun, dan 287 saham tidak bergerak atau stagnan.
Beberapa saham masuk dalam daftar top gainers, antara lain saham PT Griptha Putra Persada Tbk. (GRPH) tancap gas hingga 25,61% ke level Rp103, PT Arthavest Tbk. (ARTA) juga ikut menancap hingga 25% ke level Rp2.150. Disusul oleh PT Pakuan Tbk. (UANG) yang juga menguat 24,91% ke level Rp3.410.
Di posisi berikutnya, PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO) menguat 24,9% ke level Rp1.605. Kenaikan juga terjadi pada saham Hotel Sahid Jaya Internationali Tbk. (SHID) yang menguat 24,8% ke level Rp780.
Sementara itu, sejumlah saham yang masuk daftar top losers, yaitu saham Reksa Dana Batavia Smart Liquid ETF (XBLQ) yang menurun 15% ke level Rp425. Sementara PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk. (ASMI) juga ikut menurun 14,71% menjadi Rp29.
Di urutan berikutnya terdapat di BEI adalah milik PT Puri Sentul Permai Tbk. (KDTN) yang menurun 12,94% ke level Rp350. Saham PT Wahana Pronatural Tbk. (WAPO) juga masuk jajaran top losers dengan menurun 12,23% ke level Rp244. Melengkapi 5 besar, PT Multi Garam Utama Tbk. (FOLK) menurun 11,76% ke level Rp120.
Sebelumnya, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda, menilai pada perdagangan hari ini, pasar akan turut mencermati perkembangan konflik di Iran dan pergerakan harga minyak yang menyertai konflik tersebut.
Selain itu, investor juga disebut tengah mengantisipasi rilis data CPI AS September pada Rabu (14/10), dengan konsensus inflasi tahunan naik menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus.
Menurutnya, jika realisasi melampaui ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah dan arus dana asing ke Indonesia.
”Secara teknikal, IHSG telah menembus level psikologis 6.000, sementara pola Rising Wedge dan Head and Shoulders serta MACD yang masih negatif mengindikasikan tekanan bearish. Fokus berikutnya adalah mempertahankan support 5.850–5.900; jika zona ini ditembus, risiko pelemahan lanjutan meningkat. Sementara itu, 6.000–6.019 menjadi resistance terdekat yang perlu direbut kembali untuk meredakan tekanan jual,” katanya dalam riset hariannya, Selasa (13/10/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




