IHSG Tergelincir ke 5.925, Saham JPFA, INKP, dan HRTA Kompak Lesu

Hikma Lia

BANYU POS, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali harus menyerah pada tekanan jual dan mengakhiri sesi perdagangan di zona merah pada hari Selasa (13/10/2026). Pasar saham domestik yang sempat bergerak fluktuatif sepanjang hari akhirnya ditutup melemah tipis sebesar 0,17 persen atau berkurang dari posisi sebelumnya menuju ke level 5.925,98. Penurunan ini mempertegas kondisi pasar yang sedang berjuang keras untuk mempertahankan level-level krusial di tengah gejolak sentimen global dan lokal yang membayangi pergerakan dana para investor.

Advertisements

Berdasarkan pencatatan resmi dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), dinamika perdagangan saham pada hari ini memperlihatkan pergerakan yang cukup bervariasi dari seluruh emiten yang terdaftar. Dari total ratusan konstituen yang ditransaksikan di lantai bursa, tercatat sebanyak 351 saham berhasil mengakhiri hari di zona hijau atau mengalami kenaikan harga. Sementara itu, sebanyak 308 saham tercatat mengalami pelemahan atau terkoreksi di zona merah. Di sisi lain, terdapat sebanyak 304 saham yang bergerak stagnan alias tidak mengalami perubahan harga jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari perdagangan sebelumnya.

Tekanan pelepasan saham di papan perdagangan indeks LQ45 menjadi salah satu pemicu utama yang menahan pergerakan IHSG untuk menguat. Di barisan saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid ini, emiten sektor unggas PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) memimpin daftar pelemahan setelah harganya terperosok cukup dalam sebesar 4,57 persen menuju level Rp1.985 per lembar saham. Tren penurunan juga membayangi emiten manufaktur kertas dan pulp, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), yang harus merosot sebesar 4,03 persen hingga mendarat di posisi Rp8.325 per lembar saham. Tidak ketinggalan, saham emiten produsen dan perhiasan emas PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) turut merasakan tekanan koreksi dengan mencatatkan penurunan sebesar 2,90 persen ke harga Rp2.010 per lembar saham pada akhir sesi.

Advertisements

Pelemahan harga saham tidak berhenti sampai di situ. Sejumlah emiten unggulan lainnya di bursa domestik juga terpaksa terkikis oleh gelombang aksi jual para pelaku pasar. Emiten konglomerasi dan energi PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) mengalami penurunan sebesar 2,60 persen hingga berada di posisi Rp1.310 per lembar saham. Selanjutnya, emiten distribusi gas bumi milik BUMN, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), harus rela terkoreksi sebesar 2,11 persen menuju ke level Rp1.390 per lembar saham. Saham di sektor peternakan dan pakan ternak lainnya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), juga ditutup melemah sebesar 1,99 persen ke posisi Rp2.960 per lembar saham, mempertegas lemahnya kinerja sektor perunggasan pada perdagangan hari ini.

Meskipun IHSG ditutup di zona merah akibat tekanan jual pada beberapa saham pendorong utama, terdapat sejumlah emiten yang tetap mampu menunjukkan performa impresif dan menahan laju penurunan indeks lebih lanjut. Sektor teknologi dan media mencatatkan penguatan yang dipimpin oleh PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang melonjak sebesar 3,83 persen dan mengakhiri perdagangan di posisi Rp380 per lembar saham. Mengikuti tren positif tersebut, saham emiten infrastruktur digital PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) mencatatkan kenaikan sebesar 3,10 persen menjadi Rp1.330 per lembar saham. Emiten telekomunikasi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) juga berhasil menguat sebesar 2,37 persen menuju ke level Rp2.160 per lembar saham.

Aksi beli selektif oleh para investor juga menghampiri beberapa saham dari sektor farmasi, alat berat, dan pertambangan. Saham emiten kesehatan dan farmasi PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) mampu membukukan kenaikan sebesar 1,96 persen sehingga harganya terangkat ke level Rp780 per lembar saham. Emiten distributor alat berat dan penyedia jasa pertambangan PT United Tractors Tbk. (UNTR) turut bergerak menguat sebesar 1,85 persen dan ditutup pada level Rp24.800 per lembar saham. Sementara itu, emiten kontraktor pertambangan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) melengkapi jajaran saham menguat setelah mengantongi kenaikan sebesar 1,81 persen menuju level Rp338 per lembar saham pada penutupan perdagangan.

Pergerakan IHSG yang tertekan pada sesi perdagangan hari ini tidak terlepas dari pengamatan intensif para investor terhadap perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memberikan pandangan bahwa fokus utama pasar pada perdagangan hari ini sangat terpengaruh oleh dinamika konflik yang terjadi di Iran. Eskalasi ketegangan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran rantai pasok energi global, yang pada akhirnya berdampak langsung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Lonjakan atau volatilitas harga minyak mentah ini menjadi variabel penting yang dicermati investor karena berpotensi memengaruhi beban biaya energi serta inflasi domestik maupun global.

Selain isu geopolitik di Timur Tengah, para pelaku pasar modal juga berada dalam posisi antisipatif menjelang rilis data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode September yang dijadwalkan meluncur pada hari Rabu (14/10). Berdasarkan konsensus pasar, angka inflasi tahunan AS diproyeksikan akan mengalami kenaikan menjadi 3,6 persen dari posisi sebelumnya yang berada di level 3,4 persen pada bulan Agustus. Menurut Reza Diofanda, apabila data realisasi inflasi AS tersebut dirilis melebihi ekspektasi atau konsensus pasar, hal ini dapat menjadi pemicu penguatan mata uang dolar AS. Penguatan dolar AS yang tajam berpotensi memberikan tekanan ganda terhadap nilai tukar rupiah serta memperbesar risiko terjadinya arus keluar modal asing (foreign capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia.

Dilihat dari kacamata analisis teknikal, posisi pergerakan IHSG saat ini menunjukkan indikasi kewaspadaan yang cukup tinggi bagi para investor. Reza Diofanda memaparkan bahwa IHSG secara teknikal telah menembus ke bawah level psikologis 6.000, sebuah batas yang sebelumnya menjadi tumpuan penting bagi pergerakan indeks. Kehadiran pola teknikal seperti Rising Wedge dan Head and Shoulders pada grafik pergerakan harga, ditunjang oleh indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang masih berada di area negatif, semakin mempertegas adanya tekanan bearish atau tren penurunan yang cukup kuat di pasar saham saat ini.

Dalam kondisi teknikal yang rawan seperti ini, perhatian utama para pelaku pasar dan investor terfokus pada upaya IHSG untuk mempertahankan area support krusial di rentang 5.850 hingga 5.900. Apabila zona support kuat ini gagal dipertahankan dan berhasil tertembus ke bawah oleh aksi jual yang masif, risiko pelemahan IHSG ke tingkat yang lebih dalam akan semakin meningkat secara signifikan. Sebaliknya, jika IHSG ingin meredakan tekanan jual dan mengembalikan momentum positif di bursa, area rentang 6.000 hingga 6.019 menjadi level resistance terdekat yang wajib direbut kembali oleh para pembeli untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Disclaimer: Berita ini disajikan sebagai bentuk informasi pasar modal dan tidak ditujukan untuk mengajak, merekomendasikan, atau memaksa pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan dan menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing pembaca. Pihak redaksi tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil oleh pembaca berdasarkan informasi dalam berita ini.

Advertisements

Also Read