Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 3,1 persen, sebuah peningkatan tipis dari perkiraan sebelumnya sebesar 3 persen. Pendorong utama di balik optimisme ini adalah lonjakan ekspor yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) di sejumlah negara Asia, yang mampu menopang ekonomi dunia di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik, termasuk dampak perang di Iran.
Laporan terbaru “World Economic Outlook” yang dirilis oleh IMF menggarisbawahi bagaimana dua kekuatan besar, yaitu dinamika geopolitik dan kemajuan teknologi, secara aktif membentuk kembali lanskap ekonomi global. Dampak jangka pendek dari perubahan ini sudah mulai terlihat, sementara konsekuensi jangka panjangnya masih menyisakan ketidakpastian. IMF secara spesifik menyoroti potensi kontribusi positif dari ekspor Korea Selatan dan Taiwan, yang merupakan pusat produksi semikonduktor canggih. Kedua negara ini diperkirakan akan memberikan dampak bergulir yang menguntungkan negara-negara Asia lainnya yang memiliki orientasi kuat pada sektor manufaktur. Selain itu, negara-negara pengekspor komoditas juga diprediksi akan turut merasakan manfaat dari tren ini.
Kebutuhan yang terus meningkat untuk perangkat keras dan barang modal yang berkaitan erat dengan pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan menjadi pilar penting yang menopang aktivitas industri di seluruh Asia. Selain Korea Selatan dan Taiwan, negara-negara seperti Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand juga memainkan peran krusial dalam memenuhi permintaan global akan teknologi AI ini. Meskipun ada peningkatan proyeksi untuk tahun 2026, IMF memutuskan untuk mempertahankan proyeksi pertumbuhan global pada angka 3,4 persen untuk tahun 2027. Namun, lembaga keuangan internasional ini memberikan peringatan bahwa risiko terhadap prospek ekonomi global cenderung mengarah pada potensi penurunan.
“Kebuntuan yang berkepanjangan atau eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah dapat membuat harga energi dan pangan tetap tinggi dan bergejolak, memicu kembali tekanan inflasi, memperburuk keseimbangan fiskal dan eksternal, serta membebani pertumbuhan,” demikian kutipan dari laporan IMF yang disampaikan dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok. Pernyataan ini menegaskan kerentanan ekonomi global terhadap gejolak geopolitik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Inflasi Global Masih Dibayangi Ketidakpastian Perang
Dalam konteks inflasi, IMF juga melakukan penyesuaian pada proyeksinya. Proyeksi inflasi global untuk tahun 2027 dinaikkan sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,1 persen. Penyesuaian ini utamanya dipengaruhi oleh kenaikan harga yang dipicu oleh konflik global. Sementara itu, proyeksi inflasi untuk tahun berjalan tetap dipertahankan pada angka 4,7 persen.
Ketika menelisik perekonomian utama dunia, proyeksi pertumbuhan untuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang relatif stabil, hanya mengalami penyesuaian kecil yang tidak signifikan. Namun, situasinya berbeda di Jerman, di mana proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2026 mengalami peningkatan menjadi 1,3 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,7 persen. Peningkatan ini didorong oleh aktivitas manufaktur yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan peningkatan.
Untuk kawasan Euro secara keseluruhan, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 1,1 persen pada tahun 2026, yang merupakan peningkatan sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan proyeksi tiga bulan sebelumnya. Untuk tahun 2027, pertumbuhan di kawasan ini diproyeksikan sebesar 1,2 persen, sebuah angka yang tidak berubah dari perkiraan sebelumnya.
Ekonomi Amerika Serikat diproyeksikan akan menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan angka 2,3 persen pada tahun 2026 dan 2027. Proyeksi untuk tahun ini tidak berubah, sementara perkiraan untuk tahun depan mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1 poin persentase. IMF mengidentifikasi konsumsi swasta yang kuat dan investasi yang terkait dengan kemajuan teknologi sebagai faktor pendukung utama bagi pertumbuhan ekonomi AS.
Di sisi lain, ekonomi Tiongkok diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,5 persen pada tahun 2026 dan 4 persen pada tahun 2027. Kedua proyeksi ini sedikit mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,1 poin persentase, jika dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Penyesuaian ini mencerminkan dinamika ekonomi domestik Tiongkok dan tantangan yang mungkin dihadapi.
Jepang Diproyeksikan Tumbuh 0,7 Persen
IMF memproyeksikan ekonomi Jepang akan mengalami pertumbuhan sebesar 0,7 persen pada tahun 2026, sebuah peningkatan sebesar 0,1 poin persentase dari proyeksi sebelumnya. Dampak negatif dari kenaikan harga energi, yang menjadi perhatian global, dinilai dapat diredam oleh langkah-langkah dukungan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah Jepang. Untuk tahun 2027, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang dipertahankan pada angka 0,7 persen.
Laporan IMF secara keseluruhan menyoroti bahwa perkembangan pesat dalam teknologi, khususnya lonjakan permintaan yang terkait dengan kecerdasan buatan, telah menjadi salah satu pilar pendukung yang signifikan bagi ekonomi global. Namun, lembaga tersebut juga menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut dan potensi kenaikan harga energi serta pangan tetap menjadi risiko utama yang dapat menghambat lintasan pertumbuhan ekonomi global di tahun-tahun mendatang. Kemampuan negara-negara untuk menavigasi tantangan ini akan sangat menentukan prospek ekonomi di masa depan.




