Arah Investasi Danantara: Bidik Sektor Kunci hingga Demutualisasi BEI

Hikma Lia

Badan Pengelola Investasi Danantara mengumpulkan empat lembaga kunci di sektor keuangan Indonesia dalam sebuah forum diskusi meja bundar (roundtable) yang diselenggarakan di sela-sela agenda tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand. Forum strategis ini menghadirkan kolaborasi lintas instansi yang melibatkan Danantara, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Bank Indonesia (BI). Kelima institusi tersebut duduk bersama untuk membahas secara mendalam arah reformasi sektor keuangan nasional, memperjelas peta jalan kebijakan, serta memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi secara terpadu.

Advertisements

Pertemuan tingkat tinggi ini turut dihadiri oleh jajaran investor global terkemuka serta lembaga pemeringkat internasional ternama, seperti Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, JP Morgan, dan penyedia indeks pasar modal global MSCI. Kehadiran para pemangku kepentingan internasional tersebut bertujuan untuk memperkokoh kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan potensi pasar keuangan Indonesia, sekaligus meningkatkan derajat transparansi pasar secara komprehensif. Melalui forum ini, Pemerintah Republik Indonesia memanfaatkan ruang diskusi terbuka untuk menyampaikan arah kebijakan ekonomi nasional, serta menyerap berbagai aspirasi, masukan, dan pandangan kritis secara langsung dari para pelaku pasar keuangan dunia.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa komunitas investor internasional menyambut sangat positif inisiatif konsolidasi ini. Langkah institusi-institusi kunci Indonesia yang hadir bersama dalam satu forum terpadu untuk mendiskusikan reformasi sektor keuangan dan arah kebijakan ekonomi nasional dinilai sebagai sinyal kuat akan komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, stabil, dan terintegrasi.

Advertisements

Menurut Pandu, para investor global menganggap bahwa komunikasi dan koordinasi yang selaras antarlembaga negara di sektor keuangan merupakan elemen yang sangat vital. Respons positif dari pelaku pasar global terlihat dari pergeseran fokus diskusi; para investor kini tidak lagi sekadar menanyakan persoalan teknis seputar kebijakan fiskal harian, melainkan mulai secara aktif menjajaki berbagai peluang investasi bersama (co-investment) di Indonesia untuk tahun depan dan masa mendatang.

“Poin utamanya memang sangat happy bahwa antara empat institusi negara ini (Kemenkeu, OJK, BI, dan Danantara), semua saling mengisi dan semua berbicaranya bahu-membahu dia bilang kita udah nunggu 2 tahun buat ini dan ini sangat penting ini bagus sekali, ini dilakukan sekarang dan ini bisa menjadi step forward buat tahun 2027,” kata Pandu ketika diwawancara Katadata usai Roundtable Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10).

Selain menjadi sarana penyampaian kebijakan, forum roundtable ini memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendengarkan secara mendalam isu-isu penting yang menjadi perhatian utama para pemodal. Pandu menggarisbawahi bahwa para investor memberikan perhatian khusus pada aspek keberlanjutan dan tindak lanjut dari seluruh agenda reformasi yang telah dibahas. Oleh sebab itu, konsistensi pemerintah dan lembaga terkait dalam merealisasikan berbagai komitmen tersebut menjadi langkah krusial untuk membuktikan kredibilitas kebijakan melalui aksi-aksi yang konkret.

“Kami bilang, give us time, give us a chance to prove,” ujar Pandu menyikapi ekspektasi para pelaku pasar internasional.

Pandu menambahkan bahwa efektivitas komunikasi antarlembaga akan terus ditingkatkan guna menghadapi dinamika dan tantangan ekonomi global menjelang tahun 2027. Sebagai langkah berkelanjutan, pemerintah berencana untuk menyelenggarakan pertemuan serupa secara berkala. Pertemuan lanjutan ini juga akan dirancang dalam format diskusi yang lebih terbatas agar pertukaran gagasan dan pendalaman potensi investasi dapat berlangsung secara lebih substantif dan terarah.

Persiapan Danantara Jadi Pemegang Saham BEI Pascademutualisasi

Salah satu agenda reformasi struktural utama yang menjadi topik bahasan mendalam dalam forum tersebut adalah rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Pandu Sjahrir menilai bahwa transformasi struktur kepemilikan dan tata kelola bursa saham nasional tersebut memiliki peran strategis dalam menciptakan kesetaraan daya saing (level playing field) antara pasar modal Indonesia dan bursa-bursa saham lain di kawasan regional. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pemaparannya, Pandu menjelaskan bahwa proses demutualisasi BEI telah melalui serangkaian tahapan kebijakan secara berjenjang, dimulai dari pembahasan intensif di tingkat pemerintah hingga tahap penerbitan regulasi pendukung. Menurutnya, progres yang telah dicapai saat ini menjadi bukti nyata adanya komitmen dan kemajuan substansial dalam pelaksanaan reformasi pasar modal di tanah air.

Dalam kerangka transformasi tersebut, Danantara memiliki peluang strategis untuk menyuntikkan pendanaan ke BEI setelah proses demutualisasi selesai dilaksanakan. Skema ini akan menempatkan Danantara sebagai salah satu pemegang saham resmi BEI. Kendati demikian, alokasi dan penggunaan dana investasi tersebut nantinya akan disesuaikan secara sepenuhnya dengan rencana bisnis (business plan) yang disusun oleh manajemen bursa.

“Langkah yang positif, dan itu nantinya tentu akan membawa market deepening untuk growth 8% bisa tercapai salah satunya yang dibutuhkan adalah market deepening,” tegas Pandu.

Mengenai mekanisme penyertaan modal Danantara di BEI, Pandu menegaskan bahwa kewenangan penetapan aturan terkait struktur kepemilikan saham serta batas maksimum kepemilikan investor tetap berada sepenuhnya di bawah ranah OJK selaku regulator pasar modal. Di sisi lain, Danantara akan menjalankan peran profesionalnya sebagai pemegang saham yang bersinergi dengan pemegang saham lainnya.

Ia menekankan pentingnya penyelarasan visi antara para pemegang saham dan manajemen BEI dalam upaya meningkatkan daya saing bursa di kancah internasional. Pasca-demutualisasi, BEI dituntut untuk memiliki orientasi bisnis yang lebih kuat, responsif, dan adaptif agar mampu bersanding secara sejajar dengan bursa-bursa utama di negara lain.

Keterlibatan investor lembaga dalam struktur kepemilikan bursa pasar modal bukanlah hal baru dalam praktik keuangan global. Pandu mencontohkan bahwa sejumlah bursa efek terkemuka di kawasan Asia telah lebih dahulu menjalankan proses demutualisasi dan membuka ruang kepemilikan saham bagi investor guna memperkuat modal serta jaringan bisnis mereka.

Dalam konteks demutualisasi BEI, Danantara memposisikan diri sebagai katalis investasi yang bertugas mendorong akselerasi aliran modal masuk (inflow) ke pasar keuangan domestik, sekaligus memperkuat pendalaman pasar (market deepening) secara menyeluruh.

Fokus Investasi Dalam Negeri, Valuasi Dinilai Menarik

Selain reformasi pasar modal, forum roundtable di Bangkok tersebut mengulas secara detail mengenai strategi dan arah investasi Danantara ke depan. Pandu menyampaikan bahwa Danantara akan memberikan porsi prioritas utama pada proyek-proyek strategis di dalam negeri. Fokus investasi tersebut mencakup tiga sektor unggulan, yakni pengembangan energi terbarukan, percepatan program hilirisasi industri, serta pembangunan infrastruktur digital.

Keputusan untuk memprioritaskan sektor domestik ini didasari oleh tingginya minat investor global terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain faktor potensi pasar, Danantara melihat momentum investasi saat ini sangat menguntungkan dari sisi tingkat valuasi saham perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Pandu menilai valuasi ekuitas di pasar modal Indonesia saat ini berada pada level yang sangat atraktif bagi para pemodal. Berdasarkan indikator rasio harga saham terhadap proyeksi laba bersih (forward price-to-earnings atau forward P/E), pasar saham domestik saat ini berada di kisaran 9 kali. Angka ini mencatatkan salah satu posisi valuasi terendah dalam kurun waktu sekitar 20 tahun terakhir.

Di samping faktor valuasi yang relatif murah, kondisi fundamental emiten di dalam negeri dinilai tetap solid dan berdaya tahan tinggi. Pandu menyoroti bahwa sejumlah perusahaan besar yang bergerak di sektor perbankan, energi, dan barang konsumsi (consumer goods) masih konsisten mencatatkan tingkat pengembalian ekuitas (return on equity atau ROE) di atas 15%. Kinerja operasional tersebut diimbangi pula oleh pertumbuhan pendapatan dan peningkatan laba bersih yang berkelanjutan.

“Kami sih mungkin cukup optimistis ya karena pertama kami dibantu juga dengan valuasi yang menurut kami sangat menarik,” kata Pandu.

Ia menambahkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh pasar modal Indonesia saat ini tidak bersumber dari masalah fundamental korporasi, melainkan lebih pada persepsi dan sentimen para investor global. Oleh karena itu, penguatan koordinasi antarlembaga negara serta keberlanjutan reformasi sektor keuangan diharapkan mampu mengubah persepsi pasar dan memulihkan tingkat kepercayaan investor.

Pada sektor energi, Danantara secara aktif menjajaki pola kemitraan strategis dengan pelaku usaha swasta, khususnya dalam mendanai proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) dan pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy atau WtE). Langkah ini sejalan dengan komitmen nasional dalam mendukung transisi energi hijau.

Di sektor infrastruktur digital, Danantara membidik peluang investasi pada pengembangan pusat data (data center) berskala besar. Portofolio investasi ini juga mencakup alokasi untuk teknologi pendukung energi bersih, proyek efisiensi energi, infrastruktur pengolahan air, hingga fasilitas manufaktur komponen industri hijau seperti pabrik panel surya.

Pandu menguraikan bahwa investasi awal yang disuntikkan oleh Danantara pada sektor-sektor kunci tersebut dirancang untuk memberikan dampak pengganda (catalytic effect) yang mampu menarik modal tambahan dari investor pihak ketiga. Dengan demikian, pendanaan Danantara berfungsi sebagai pemicu lahirnya arus investasi yang jauh lebih besar.

Sebagai gambaran, pada implementasi proyek WtE, setiap modal sebesar Rp1 yang disalurkan oleh Danantara diperkirakan berpotensi memicu masuknya tambahan investasi pendamping sebesar Rp6 hingga Rp7 dari mitra pihak swasta. Sementara itu, pada proyek energi terbarukan dan infrastruktur digital, rasio pengganda investasi yang ditargetkan dapat mencapai US$10 hingga US$15 untuk setiap penyertaan modal sebesar US$1 dari Danantara.

Mekanisme pengungkit modal (leverage ratio) ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian nasional, mulai dari percepatan arus modal masuk, peningkatan aktivitas ekonomi daerah, hingga pembukaan lapangan kerja baru dalam skala luas.

Bagaimana dengan Arah Investasi Luar Negeri?

Meskipun porsi terbesar portofolio investasi dialokasikan untuk pasar domestik, Danantara tetap membuka peluang penanaman modal di luar negeri secara selektif. Kebijakan ini dibuktikan dengan langkah Danantara baru-baru ini yang mengumumkan penyertaan investasi pada sejumlah aset internasional, seperti kepemilikan pada Blok Migas HighPeak yang berlokasi di Amerika Serikat.

Dalam mengeksekusi strategi investasi lintas negara, Pandu menggarisbawahi syarat mutlak yang harus dipenuhi: setiap investasi luar negeri wajib memberikan nilai tambah nyata (added value) bagi kepentingan strategis Indonesia. Nilai tambah tersebut dapat berwujud alih teknologi (transfer of technology), peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga penguatan kapasitas dan daya saing industri dalam negeri.

Sebagai contoh, kemitraan strategis yang dijalankan dengan JBS tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar keuntungan finansial berupa dividen atau capital gain, melainkan ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Kerja sama ini difokuskan untuk memperkuat pasokan dan mengurangi tingkat ketergantungan Indonesia terhadap impor produk protein dari luar negeri.

Pandu menjelaskan bahwa keterlibatan aktif Danantara dalam ajang investasi global memungkinkan Indonesia memiliki posisi tawar dan peran yang lebih dominan dalam menentukan arah pengembangan bisnis mitra internasional. Di samping itu, langkah ini memberikan akses langsung bagi industri nasional terhadap penguasaan teknologi mutakhir, pemanfaatan talenta global, serta adopsi pengalaman operasional terbaik dari perusahaan mitra kelas dunia.

Ke depan, pendekatan investasi luar negeri yang berbasis manfaat strategis ini berpotensi direplikasi pada sektor-sektor prioritas lainnya. Sektor-sektor sasaran tersebut mencakup industri energi terbarukan, eksplorasi minyak dan gas bumi, pembangunan kilang minyak, hingga penyediaan jasa keuangan internasional.

Pandu menegaskan bahwa Danantara akan konsisten menerapkan skala prioritas pada sektor-sektor yang memberikan dampak ekonomi sistematis bagi Indonesia. Dengan kerangka kerja ini, ekspansi investasi internasional tidak berhenti sebagai aktivitas pencarian profit belaka, melainkan bertransformasi menjadi instrumen pendukung pertumbuhan kapasitas ekonomi nasional.

Proyek WtE Jadi Prioritas Terdekat

Untuk agenda jangka pendek, Danantara menetapkan percepatan eksekusi proyek pengolahan sampah menjadi energi (WtE) sebagai prioritas operasional utama. Pandu menyampaikan bahwa sejumlah proyek WtE saat ini telah memasuki tahap persiapan teknis dan konstruksi fisik, sementara proyek-proyek pendukung lainnya dijadwalkan mulai dibangun secara bertahap.

Sebagai ilustrasi kemajuan di lapangan, salah satu proyek fasilitas WtE yang berlokasi di Bali telah mencatatkan progres pembangunan fisik sekitar 20%. Selain proyek Bali, Danantara menargetkan penyelesaian operasional atas 11 proyek WtE lainnya sebelum penghujung tahun ini, disusul oleh dimulainya konstruksi untuk gelombang proyek berikutnya menjelang akhir tahun.

Berdasarkan estimasi lini masa pembangunan, rangkaian proyek WtE yang memulai masa konstruksi pada periode akhir tahun ini diperkirakan dapat mencapai tahap penyelesaian akhir (completion) pada kuartal pertama tahun 2028. Sementara itu, beberapa proyek prioritas lainnya ditargetkan selesai dituntaskan pada penghujung tahun 2027.

Pandu tidak memungkiri bahwa pengembangan infrastruktur WtE membutuhkan dukungan pendanaan dalam skala yang sangat besar. Meski demikian, penyaluran investasi pada infrastruktur energi bersih dan pengolahan limbah ini diyakini akan memberikan dampak positif yang luas melalui pemerataan pembangunan infrastruktur di daerah serta penyerapan tenaga kerja lokal secara masif.

Di samping percepatan pengerjaan proyek WtE, Danantara tengah menyiapkan skema investasi lanjutan untuk disalurkan ke sektor energi terbarukan dan infrastruktur digital. Seluruh proyek ini dirancang untuk membuka peluang kolaborasi pembiayaan bersama dengan sektor swasta nasional maupun internasional.

Memasuki periode kuartal pertama dan kedua tahun 2027, Danantara memperkirakan bahwa peluang ekspansi investasi pada sektor-sektor strategis tersebut masih terbuka lebar. Meski belum merinci secara detail daftar seluruh proyek yang akan direalisasikan, Pandu menegaskan bahwa pemupukan modal pada investasi domestik serta peningkatan daya saing sektor keuangan nasional akan tetap menjadi pilar utama dalam agenda kerja Danantara ke depan.

Advertisements

Also Read

Tags