Danantara rogoh Rp 1,79 T buat filantropi, ada untuk beasiswa dokter dan vaksin

Hikma Lia

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia akan menyalurkan dana minimal US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,79 triliun untuk unit filantropinya yaitu Danantara Indonesia Trust (DIT). Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung program sosial di bidang pendidikan, kesehatan serta air, sanitasi dan higiene (WASH).

Advertisements

“Itu adalah komitmen kami dan harapannya dengan pendanaan ini kita bisa berkontribusi memang di 3 bidang, kesehatan, edukasi dan juga sanitasi yang memang menjadikan program prioritas kami,” kata Pembina DIT sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, dalam acara Satu Tahun Danantara Indonesia Trust: Dari Komitmen Menjadi Aksi di Wisma Danantara, Kamis (15/10).

Dia menuturkan, pendanaan DIT tidak hanya bersumber dari Danantara, tetapi juga terbuka bagi kontribusi pihak luar. Ia pun memastikan seluruh program filantropi tersebut akan dijalankan dengan tata kelola yang baik dan transparan.

Advertisements

“Kami pun akan melaporkan ini baik nanti secara tahunan laporan lengkapnya maupun secara 3 bulanan kepada publik,” ujar Rosan.

Baca juga:

  • Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Pajak Tak Menghapus Kewajiban Zakat
  • Profil Jenderal Tandyo Budi Revita, dari Wakil Panglima TNI Kini Jadi KSAD
  • Distribusi BBM Bali Belum Pulih, Bahlil Kerahkan SPBU Buka 24 Jam

Dia juga menargetkan unit amal yang genap berusia satu tahun itu dapat berkembang menjadi lembaga filantropi kelas dunia. Menurut Rosan, Danantara mengelola aset negara untuk menciptakan nilai jangka panjang. Sementara DIT menjadi salah satu sarana untuk mengalokasikan sebagian nilai tersebut bagi kepentingan sosial.

Program DIT diarahkan untuk memperkuat fondasi daya saing bangsa, mulai dari meningkatkan akses pendidikan bagi generasi muda, memperluas jangkauan tenaga kesehatan hingga menyediakan akses air bersih dan sanitasi yang layak.

Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak mengatakan, memasuki tahun kedua, DIT akan memperkuat program yang telah dibangun pada tahun pertama melalui kemitraan strategis. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghubungkan berbagai sumber daya dan keahlian untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan.

3 Program Prioritas Danantara Indonesia Trust

Pada tahun kedua, DIT akan memfokuskan penyaluran dana melalui tiga program strategis, yakni Asa Nusantara di bidang pendidikan; Air Setara di bidang air bersih dan sanitasi, serta; Bakti Sehat Nusantara di bidang kesehatan.

Ketiga program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi pembangunan, dan pemerintah untuk menjawab berbagai tantangan sosial di Indonesia.

Untuk Asa Nusantara, program itu menyediakan beasiswa bagi 800 mahasiswa program sarjana dan vokasi di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), serta ilmu kesehatan. Program tersebut bekerja sama dengan Universitas Andalas, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

Penerima beasiswa diprioritaskan berasal dari beberapa kategori. Yaitu, keluarga berpenghasilan rendah; wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) atau perdesaan; daerah terdampak bencana; keluarga yang belum pernah memiliki anggota berpendidikan tinggi, serta; penyandang disabilitas.

Selain biaya pendidikan dan biaya hidup, penerima beasiswa akan memperoleh dukungan pengembangan kapasitas. Program itu direncanakan berlangsung selama empat tahun hingga 2030.

Untuk Air Setara, di bidang WASH, DIT bekerja sama dengan Plan Indonesia menjalankan program penyediaan air bersih dan sanitasi yang tangguh terhadap perubahan iklim. Program itu menyasar 156 desa di Timor Tengah Selatan, Manggarai, dan Belu, Nusa Tenggara Timur.

Air Setara menargetkan sekitar 230.000 penerima manfaat atau 60.000 rumah tangga. Program tersebut juga mencakup 86.700 siswa di 867 sekolah serta 79 fasilitas kesehatan.

Untuk memperluas dampak program, DIT turut memobilisasi sumber daya bersama mitra. Selain komitmen pendanaan DIT, program itu memperoleh dukungan dari Plan International serta dukungan kesehatan dan nutrisi selama empat tahun dari Vitamin Angels.

Sementara untuk Bakti Sehat Nusantara, programnya dijalankan bersama Kementerian Kesehatan untuk memperkuat ketersediaan tenaga medis dan tenaga kesehatan di wilayah prioritas yang masih kekurangan sumber daya manusia. Dukungan mencakup perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan, pendidikan dan pengembangan kompetensi, hingga penempatan serta upaya mempertahankan tenaga kesehatan di daerah yang membutuhkan.

Pada tahap awal, DIT akan memberikan dukungan biaya pendidikan kepada 1.343 tenaga medis dan tenaga kesehatan. Jumlah tersebut terdiri atas 358 penerima pada 2026 dan 985 penerima pada 2027.

Program tersebut mencakup tenaga kesehatan di 70 puskesmas, 131 rumah sakit daerah, dan 25 rumah sakit vertikal.

Kemenkes Dapat Rp 200 Miliar untuk Vaksin HPV

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, DIT telah menyetujui pendanaan sebesar Rp 200 miliar yang nanti digunakan untuk mempercepat program kesehatan nasional. Terutamanya yaitu pengadaan vaksinasi human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks dan pemberian beasiswa bagi dokter spesialis.

Menurut Budi, pendanaan untuk vaksinasi HPV diperlukan agar program pencegahan kanker serviks dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dalam waktu yang lebih singkat. Ia menyebutkan, kanker serviks menyebabkan hampir 30.000 kematian perempuan di Indonesia setiap tahun. Dengan vaksinasi HPV, risiko penyakit tersebut dapat ditekan.

“Programnya seharusnya berlangsung selama 15 tahun karena dananya terbatas. Dengan bantuan Danantara Trust, kami ingin mempercepatnya, siapa tahu bisa menjadi 10 tahun atau bahkan lima tahun. Bayangkan, hampir 30.000 orang per tahun bisa kita selamatkan,” kata Budi.

Selain vaksinasi, dukungan DIT juga digunakan untuk membiayai pendidikan dokter spesialis. Terutamanya di bidang yang berperan penting dalam menyelamatkan nyawa pasien, seperti penanganan stroke dan penyakit jantung.

Budi menuturkan, Indonesia masih menghadapi persoalan ketimpangan distribusi dokter spesialis. Sejumlah rumah sakit telah memiliki peralatan medis, tetapi belum dapat memberikan layanan optimal karena kekurangan dokter.

Ia mencontohkan kondisi di Nias, Sumatra Utara. Pasien stroke di wilayah tersebut berpotensi harus menyeberang ke daratan Sumatera untuk mendapatkan penanganan. Perjalanan yang dapat memakan waktu hingga empat jam berisiko membuat pasien terlambat memperoleh pertolongan.

Advertisements

Also Read

Tags