Rupiah tembus Rp18.053 imbas pengumuman MSCI, BI intervensi redam kepanikan

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA — Bank Indonesia (BI) bersiaga di pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang telah melampaui Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026).

Advertisements

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, nilai tukar rupiah terdepresiasi 115 poin atau 0,64% ke level Rp18.053 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026) pukul 09.07 WIB.

Tekanan ini dipicu oleh sentimen risk-off pasca-pengumuman MSCI Inc. yang membuka peluang downgrade Indeks MSCI Indonesia dari status Emerging Market menjadi Standalone Market.

Advertisements

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengakui bahwa berbagai perkembangan global dan domestik yang terjadi belakangan masih akan menekan pasar keuangan domestik.

“Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,” ungkap Erwin dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

: Risiko Eksodus Dana Asing Membayangi IHSG dan Rupiah Usai MSCI Usulkan Downgrade

Untuk meredam kepanikan pasar, dia mengaku bahwa otoritas moneter akan konsisten melakukan intervensi. BI, sambungnya, akan memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik dan menahan laju pelemahan rupiah agar tetap sejalan dengan nilai fundamentalnya.

Langkah intervensi tersebut dieksekusi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Meski tekanan terpantau berat pada pagi ini, BI menilai pergerakan rupiah sejatinya masih sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Tercatat, won Korea Selatan, baht Thailand, hingga yen Jepang memang kompak berada di zona merah.

“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28% secara quarter to date [QTD]. Cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026,” urai Erwin.

Selain intervensi valas, bank sentral juga terus menjaga kecukupan likuiditas rupiah dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Erwin juga mengaku koordinasi dan komunikasi intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan terkait terus dilakukan untuk mencegah gejolak volatilitas yang berlebihan.

Advertisements

Also Read